Jumat, 11 Mei 2012

PENELITIAN DALAM PSIKOLOGI KLINIS

Disusun oleh :
Adi Handoko (11080029)
Fakultas Psikologi
Universitas Borobudur 2012





PENELITIAN DALAM PSIKOLOGI KLINIS


TUJUAN PENELITIAN
- Penelitian dapat menghindarkan dari keadaan spekulatif yang murni
- Memperluas dan memodifikasi teori yang telah ada, sebagaimana peneltiian dapat mengembangkan manfaat dan kegunaan teori

METODE PENELITIAN
Pada dasarnya hampir sama dengan metode penelitian umum, namun tujuan dan penekanannya adalah untuk keperluan populasi khusus misalnya mengetahui efektivitas suatu perlakuan pada kelompok tertentu.

1. Observasi
Tujuan observasi :
- untuk keperluan asesment awal
- untuk menentukan kelebihan dan kelemahan observee
- untuk merancang rencana individual bagi klien
- sebagai dasar / titik awal dari kemajuan klien
- bagi anak2 berguna mengetahui perkembangannya pada tahap tertentu

2. DIMENSI OBERVASI
- Partisipan dan non partisipan
- Overt dan Covert
- Alamiah dan Buatan
Dengan berbagai kombinasi yaitu partisipan-overt-alamiah (poa), non partisipan-overt-alamiah (noa), partisipan-covert-buatan (pcb)

3. ALAT OBSERVASI
- Anecdotal ” Observer mencatat hal-hal yang penting”
- Catatan berkala ”Mengadakan observasi cara-cara orang bertindak dalam jangka waktu tertentu, kemudian menuliskannya kesan-kesan umumnya.
- Check List ” suatu daftar yang berisi nama-nama subjek dan faktor-faktor yang hendak diselidiki, agar jadi sistematis

4. RATING SCALE
”Pencatatan gejala menurut tingkat-tingkatnya”

Observer memiliki kesesatan, yaitu :
- Hallo Effect
Jika observer dalam pencatatannya terpikat oleh kesan umum yang baik pada observee
- Generosity Effect
Keadaan yang kurang baik, cecenderungan untuk menilai yang menguntungkan / merugikan observee
- Carry over Effect
Pencatat tidak dapat memisahkan satu gejala dari yang lain dan jika gejala yang satu kelihatan timbul dalam keadaan yang baik, gejala yang lainnya juga dicatat juga dalam keadaan yang baik.


5. MECHANICAL DEVICES
Perkembangan alat-alat optika yang maju memungkinkan seorang observer menggunakan alat pencatat mesin seperti kamera video untuk menyelediki tingkah laku orang.
OBSERVER menurut Spradley (1980)
1. Observer tidak berperan sama sekali
2. Observer berperan pasif
3. Observer berperan aktif
4. Observer berperan penuh

Hal-hal yang diobservasi
1. Penampilan fisik
2. gerakan tubuh/penggunaan anggota tubuh
3. ekspresi wajah
4. pembicaraan
5. reaksi emosi
6. aktivitas yang dilakukan

Langkah-langkah dalam Observasi (Rummel)
1. Peroleh dahulu pengetahuan apa yang akan diobservasi
2. selidiki tujuan-tujuan yang umum maupun khusus dari problem research untuk menentukan apa yang harus diobservasi
3. Buatlah suatu cara untuk mencatat hasil-hasil observasi
4. Adakan dan batasi dengan tegas macam-macam tingkah kategori yang diragukan
5. adakan observasi secermat-cermatnya
6. catatlah tiap-tiap gejala secara terpisah
7. ketahui alat pencatatan dengan baik dan tata caranya

METODE PENELITIAN EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi adalah kajian mengenai insidensi, prevalensi, dan distribusi penyakit dalam sebuah populasi.
Insidensi berkaitan dengan tingkat kasus baru dari suatu penyakit yang berkembang dalam suatu periode waktu
Prevalensi mengacu pada rata-rata kasus baru atau lama dalam suatu periode waktu

METODE KORELASIONAL
Metode korelasi ini ditujukan untuk mengukur korelasi (faktor-faktor resiko) dari suatu penyakit atau suatu gangguan (Phares dan Trull, 2001) teknik korelasi membantu peneliti untuk melihat apakah variabel X berhubungan dengan variabel Y. Misalnya apakah suatu pola tertentu dari skor tes intelegensi berhubungan dengan gangguan psikatrik tertentu?

PENELITIAN LONGITUDINAL VS CROSS-SECTIONAL
Cross sectional adalah suatu cara untuk mengevaluasi atau membandingkan individu-individu, mungkin dari kelompok usia yang berbeda namun dalam waktu yang sama. Misal membandingkan anak usia 5 tahun dengan anak usia 10 tahun di tahun 2006.
Disain Longitudinal meneliti sejumlah orang yang sama dalam kurun waktu tertentu. Misal meneliti sekelompok anak yang dibesarkan di panti asuhan antara tahun 1990-2005

METODE PENELITIAN EKSPERIMENTAL
Metode eksperimental perlu dilakukan untuk melihat adanya suatu hubungan sebab akibat antara dua peristiwa. Misal seorang peneliti ingin melihat apakah ada pengaruh pemberian pelatihan pengembangan diri untuk meningkatkan kemampuan berpikir positif.

Bentuk disain eksperimental :
- Disain antar kelompok (between group designs), ketika peneliti memisahkan dua kelompok partisipan yang masing-masing menerima stimulus yang berbeda kemudian membandingkan hasil keduanya.
- Disain dalam kelompok (within group designs), bila satu individu dalam kelompok terapi relaksasi dibandingkan kemajuannya dalam beberapa periode misalnya setelah satu minggu, dua minggu


METODE DISAIN SATU KASUS
Disain satu kasus merupakan pengembangan dari pendekatan operan dan pendekatan behavioral. Desain satu kasus adalah perwujudan dari pendekatan perilaku yang mengutamakan pengukuran perilaku nyata seperti yang disampaikan dalam belajar operan (Phares dan Trull,2001). Misal seorang eksperimenter mengukur perilaku subjek dalam beberapa kondisi dan dalam kondisi tersebut diterapkan berbagai teknik eksperimental namun fokus dari eksperimental adalah respon-respon dari satu subjek saja..

DISAIN GANDA atau multiple baseline design
Dua perilaku atau lebih dipilih untuk dianalisis. Misal di rumah atau di ruang terapi.

PENELITIAN PSIKOTERAPI, SEBUAH KEKHUSUSAN
Pengetahuan mengenai psikoterapi dapat diperoleh melalui sejumlah cara, yaitu
- Studi Kasus, kajian mendalam terhadap kasus individual, keterbatasannya studi kasus tidak terkontrol, sering tidak sistematis, generalisasi, dan tidak pasti
- Survei klinis, dengan cara mendata status pasien yang telah membaik atau tidak membaik
- Penelitian korelasional, kekurangan adanya jarak yang juga bervariasi, keuntungan tidak memerlukan kontrol dan manipulasi
- Eksperimental, metode paling murni dalam memperoleh pengetahuan dan menguji teori.


Sumber: Psikologi Klinis
Tristiadi Ardi Ardani,Iin Tri Rahayu, Yulia Sholichatun

KONSELING KELUARGA

A.Pengertian Konseling Keluarga Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang pembimbing (konselor) kepada seseorang konseli atau sekelompok konseli (klien, terbimbing, seseorang yang memiliki problem) untuk mengatasi problemnya dengan jalan wawancara dengan maksud agar klien atau sekelompok klien tersebut mengerti lebih jelas tentang problemnya sendiri dan memecahkan problemnya sendiri sesuai dengan kemampuannya dengan mempelajari saran-saran yang diterima dari Konselor. Sedangkan arti dari keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga. Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi yang khusus. Konseling keluarga ini secara memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga. Menurut D. Stanton konseling keluarga dapat dikatakan sebagai konselor terutama konselor non keluarga, yaitu konseling keluarga sebagai (1) sebuah modalitas yaitu klien adalah anggota dari suatu kelompok, yang (2) dalam proses konseling melibatkan keluarga inti atau pasangan ( Capuzzi, 1991 ) Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari anak (klien) baik dalam melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system, permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Pada mulanya konseling keluarga terutama diarahkan untuk membantu anak agar dapat beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui perbaikan lingkungan keluarganya (Brammer dan Shostrom,1982). Yang menjadi klien adalah orang yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga. Sedangkan masalah yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa yang akan dikerjakan agar tetap survive di dalam sistem keluarganya. Pada masa lalu, menurut Moursund (1990), konseling keluarga terfokus pada salah satu atau dua hal, yaitu (1) keluarga terfokus pada anak yang mengalami bantuan yang berat seperti gangguan perkembangan dan skizofrenia, yang menunjukan jelas-jelas mengalami gangguan; dan (2) keluarga yang salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki kemampuan, menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam member kelola anggota keluarga, dan biasanya memiliki sebagian masalah. Anak di dalam suatu keluarga sering kali mengalami masalah dan berada dalam kondisi yang tidak berdaya di bawah tekanan dan kekuasaan orang tua. Permasalahan anak adakalanya diketahui oleh orang tua dan sering kali tidak diketahui orang tua. Permasalahan yang diketahui orang tua jika fungsi-fungsi psikososial dan pendidikannya terganggu orang tua akan mengantarkan anaknya ke konselor jika mereka memahami bahwa anaknya sedang mengalami gangguan yang berat. Karena itu konseling keluarga lebih banyak memberikan pelayanan terhadap keluarga dengan anak yang mengalami gangguan. Hal kedua berhubungan dengan keadaan orang tua. Banyak dijumpai orang tua tidak berkemampuan dalam mengelola rumah tangganya, menelantarkan kehidupan rumah tangganya sehingga tidak terjadi kondisi yang berkesinambungan dan penuh konflik, atau memberi perlakuan secara salah (ubuse) pada anggota keluarga lain, dan sebagainya merupakan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti dan berkeinginan untuk membangun kehidupan keluarga yanag lebih stabil, mereka membutuhkan konseling. Perkembangan belakangan konseling keluarga tidak hanya menangani dua hal tersebut. Permasalahan lain yang juga ditangani karena anggota keluarga mengalami kondisi yang kurang harmonis di dalam keluarga akibat stressor perubahan-perubahan budaya, cara-cara baru dalam mengatur keluargannya, dan cara menghadapi dan mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan pengalaman dalam penanganan konseling keluarga, masalah yang dihadapi dan dikonsultasikan kepada konselor antara lain: keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orangtua, konflik antar anggota keluarga, perpisahan diantara anggota keluarga karena kerja di luar daerah dan anak yang mengalami kesulitan belajar atau sosialisasi. Berbagai permasalahan-permasalahan keluarga tersebut dapat diselesaikan melalui konseling keluarga. Konseling keluarga menjadi efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut jika semua anggota keluarga bersedia untuk mengubah system keluarganya yang telah ada dengan cara-cara baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah. Sebagaimana di kemukakan di bagian awal, konseling keluarga dalam beberapa hal memiliki keuntungan. Namun demikian konseling keluarga juga memiliki beberapa hambatan dalam pelaksanaannya, dan perlu dipertimbangkan oleh konselor jika bermaksud melakukannya. Hambatan yang dimaksud di antarannya: 1.Tidak semua anggota keluarga bersedia terlibat dalam proses konseling karena mereka menganggap tidak berkepentingan dengan usaha ini, atau karena alasan kesibukan, dan sebagainya; dan 2.Ada anggota keluarga yang merasa kasulitan untuk menyampaikan perasaan dan sikapnya secara terbuka dihadapan anggota keluarga lain, padahal konseling membutuhkan keterbukaan ini dan saling percayaan satu sama lain. B.Pendekatan Konseling Keluarga Untuk memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah keluarga tersebut, berikut akan dideskripsikan secara singkat beberapa pendekatan konseling keluarga. Tiga pendekatan konseling keluarga yang akan diuraikan berikut ini, yaitu pendekatan system, conjoint, dan struktural. 1.Pendekatan Sistem Keluarga Murray Bowen merupakan peletek dasar konseling keluarga pendekatan sistem. Menurutnya anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (disfunctining family). Keadaan ini terjadi karena anggota keluarga tidak dapat membebaskan dirinya dari peran dan harapan yang mengatur dalam hubungan mereka. Menurut Bowen, dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama dan kekuatan itu dapat pula membuat anggota keluarga melawan yang mengarah pada individualitas. Sebagian anggota keluarga tidak dapat menghindari sistem keluarga yang emosional yaitu yang mengarahkan anggota keluarganya mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak menghindari dari keadaan yang tidak fungsional itu, dia harus memisahkan diri dari sistem keluarga. Dengan demikian dia harus membuat pilihan berdasarkan rasionalitasnya bukan emosionalnya. 2.Pendekatan Conjoint Sedangkan menurut Sarti (1967) masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga berhubungan dengan harga diri (self-esteem) dan komunikasi. Menurutnya, keluarga adalah fungsi penting bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental. Masalah terjadijika self-esteem yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi yang terjadi di keluarga itu juga tidak baik. Satir mengemukakan pandangannya ini berangkat dari asumsi bahwa anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain. 3.Pendekatan Struktural Minuchin (1974) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur kaluarga dan pola transaksi yang dibangunn tidak tepat. Seringkali dalam membangun struktur dan transaksi ini batas-batas antara subsistem dari sistem keluarga itu tidak jelas. Mengubah struktur dalam keluarga berarti menyusun kembali keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai. Berbagai pandangan para ahli tentang keluarga akan memperkaya pemahaman konselor untuk melihat masalah apa yang sedang terjadi, apakah soal struktur, pola komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan sebagainya. Berangkat dari analisis terhadap masalah yang dialami oleh keluarga itu konselor dapat menetapkan strategi yang tepat untuk mambantu keluarga. C.Tahapan Konselor Keluarga Tahapan konseling keluarga secara garis besar dikemukakan oleh Crane (1995:231-232) yang mencoba menyusun tahapan konseling keluarga untuk mengatasi anak berperilaku oposisi. Dalam mengatasi problem, Crane menggunakan pendekatan behavioral, yang disebutkan terhadap empat tahap secara berturut-turut sebagai berikut. 1.Orangtua membutuhkan untuk dididik dalam bentuk perilaku-perilaku alternatif. Hal ini dapat dilakukan dengan kombinasi tugas-tugas membaca dan sesi pengajaran. 2.Setelah orang tua membaca tentang prinsip dan atau telah dijelaskan materinya, konselor menunjukan kepada orang tua bagaimana cara mengajarkan kepada anak, sedangkan orang tua melihat bagaimana melakukannya sebagai ganti pembicaraan tentang bagaimana hal inidikerjakan. Secara tipikal, orang tua akan membutuhkan contoh yang menunjukan bagaimana mengkonfrontasikan anak-anak yang beroposisi. Sangat penting menunjukan kepada orang tua yang kesulitan dalam memahami dan menetapkan cara yang tepat dalam memperlakukan anaknya. 3.Selanjutnya orang tua mencoba mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah mereka pelajari menggunakan situasi sessi terapi. Terapis selama ini dapat member koreksi ika dibutuhkan. 4.Setelah terapis memberi contoh kepada orang tua cara menangani anak secara tepat. Setelah mempelajari dalam situasi terapi, orang tua mencoba menerapkannya di rumah. Saat dicoba di rumah, konselor dapat melakukan kunjungan untuk mengamati kemajuan yang dicapai. Permasalahan dan pertanyaan yang dihadapi orang tua dapat ditanyakan pada saat ini. Jika masih diperlukan penjelasan lebih lanjut, terapis dapat memberikan contoh lanjutan di rumah dan observasi orang tua, selanjutnya orang tua mencoba sampai mereka merasa dapat menangani kesulitannya mengatasi persoalan sehubungan dengan masalah anaknya. D.Peran Konselor Peran konselor dalam membantu klien dalam konseling keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir (Cottone, 1992) di antaranya sebagai berikut. 1.Konselor berperan sebagai “facilitative a comfortable”, membantu klien melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri. 2.Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi. 3.Berusaha menghilangkan pembelaan diri dan keluarga. 4.Membelajarkan klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan malakukan self-control. 5.Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterpretasi pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota keluarga. 6.Konselor menolak perbuatan penilaian dan pembantu menjadi congruence dalam respon-respon anggota keluarga. Daftar Pustaka Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang Sayekti Pujosuwarno. 1994. Bimbingan Dan Konseling Keluarga. Menara Mas Offset. Yogyakarta

Kamis, 26 April 2012

Jangan meniup minuman!

Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk bernafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Al-Tirmidzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani) Dan juga hadits Abu Sa’id al-Khudri radliyallah ‘anhu, Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk meniup di dalam air minum.” (HR. al-Tirmidzi no. 1887 dan beliau menyahihkannya)
Sebagaimana yang diketahui, air memiliki nama ilmiah H20. ini berarti di dalam air terdapat 2 buah atom hidrogen dan satu buah atom oksigen yang mana 2 atom hidrogen tersebut terikat dalam satu buah atom oksigen. Dan apabila kita hembus napas pada minuman, kita akan mengeluarkan karbon dioksida (CO2). Dan apabila karbon dioksida (CO2) bercampur dengan air (H20), akan menjadi senyawa asam karbonat (H2CO3). Zat asam inilah yang berbahaya bila masuk kedalam tubuh kita. senyawa H2CO3 adalah senyawa asam yang lemah sehingga efek terhadap tubuh memang kurang berpengaruh tapi ada baiknya kalau kita mengurangi masuknya zat asam kedalam tubuh kita karena dapat membahayakan kesehatan. Dari sini juga semakin jelas hikmah dari larangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam agar tidak meniup air minum yang panas dan ketika minum hendaknya seteguk demi seteguk, jangan langsung satu gelas sambil bernapas di dalam gelas. Hal ini karena ketika kita minum langsung banyak, maka ada kemungkinan kita akan bernapas di dalam gelas, yang akan menyebabkan reaksi kimia seperti di atas. Wallahu’alam.

Jangan minum & makan sambil berdiri!

Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu kebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi) Bersabda Nabi dari Abu Hurairah,“Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim) Rahasia Medis Dr. Abdurrazzaq Al-Kailani berkata: “Minum dan makan sambil duduk, lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan, karena apa yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus dengan perlahan dan lembut. Adapun minum sambil berdiri, maka ia akan menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus, menabraknya dengan keras, jika hal ini terjadi berulang-ulang dalam waktu lama maka akan menyebabkan melar dan jatuhnya usus, yang kemudian menyebabkan pernah sekali minum sambil disfungsi pencernaan. Adapun Rasulullah berdiri, maka itu dikarenakan ada sesuatu yang menghalangi beliau untuk duduk, seperti penuh sesaknya manusia pada tempat-tempat suci, bukan merupakan kebiasaan. Ingat hanya sekali karena darurat! Begitu pula makan sambil berjalan, sama sekali tidak sehat, tidak sopan, tidak etis dan tidak pernah dikenal dalam Islam dan kaum muslimin. Dr. brahim Al-Rawi melihat bahwa manusia pada saat berdiri, ia dalam keadaan tegang, organ keseimbangan dalam pusat saraf sedang bekerja keras, supaya mampu mempertahankan semua otot pada tubuhnya, sehingga bisa berdiri stabil dan dengan sempurna. Ini merupkan kerja yang sangat teliti yang melibatkan semua susunan syaraf dan otot secara bersamaan, yang menjadikan manusia tidak bisa mencapai ketenangan yang merupakan syarat tepenting pada saat makan dan minum. Ketenangan ini bisa dihasilkan pada saat duduk, dimana syaraf berada dalam keadaan tenang dan tidak tegang, sehingga sistem pencernaan dalam keadaan siap untuk menerima makanan dan minum dengan cara cepat.
Dr. Al-rawi menekankan bahwa makanan dan minuman yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus. Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (Vagal Inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Begitu pula makan dan minum berdiri secara terus –menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung. Para dokter melihat bahwa luka pada lambung 95% terjadi pada tempat-tempat yang biasa bebenturan dengan makanan atau minuman yang masuk. Air yang masuk dengan cara duduk akan disaring oleh spinchter. Spinchter adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Spinchter lebih seperti gate/gerbang/seal windpipe yg berkontraksi,(menutup)dan relaxing(membuka) dan jumlah otot ini ada sekitar 50 otot tersebar di berbagai saluran lubang manusia.Berfungsi sebagai otot yg membuka dan menutup, sekresi, controlling substance in & out, semua sesuai fitrah manusia. Contoh, ketika minum, di sphincter di tenggorokan akan menutup agar tidak masuk ke saluran udara dan paru2. saat menerima fluid yg asam akan menutup hingga tidak berlebihan acid dalam lambung, ketika saluran kemih penuh, sphincter membuka sehingga bisa keluar urin,dll. Nah… Jika kita minum berdiri air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya. Sebagaimana kondisi keseimbangan pada saat berdiri disertai pengerutan otot pada tenggorokan yang menghalangi jalannya makanan ke usus secara mudah, dan terkadang menyebabkan rasa sakit yang sangat yang mengganggu fungsi pencernaan, dan seseorang bisa kehilangan rasa nyaman saat makan dan minum. Oleh karena itu marilah kita kembali hidup sehat dan sopan dengan kembali kepada adab dan akhlak Islam, jauh dari sikap meniru-niru gaya orang-orang yang tidak mendapat hidayah Islam. Sumber: Qiblati edisi 04 tahun II. Judul: Larangan Minum sambil berdiri, Hal 16

Rabu, 25 April 2012

Konsep Normal & Abnormal dalam Psikologi Klinis

A. Definisi Sehat-Normal dan ciri-ciri Sehat-Normal

1. Definisi Sehat-Normal

a. Sehat adalah suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absennya penyakit atau keadaan lemah tertentu. (Menurut WHO)
b. Kesehatan mental adalah penyesuaian manusia terhadap dunia & satu sama lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang maksimum. Kesehatan mental meliputi kemampuan menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berempati, dan sikap hidup yang bahagia. (Seorang psikiater : Karl Menninger).
c. Kesehatan mental adalah keadaan yang relatif tetap dimana pribadi menunjukkan penyesuaian atau mengalami aktualisasi diri. (Psikolog : H.B English).
d. Kesehatan mental meliputi semua keadaan dan taraf keterlibatan sosial yang diterima oleh orang lain dan memberikan kepuasan bagi orang yang bersangkutan.
Bebeberapa rumusan di atas, menekankan normalitas sebagai keadaan sehat, yang secara umum ditandai dengan keefektifan dalam penyesuaian diri, yakni menjalankan tuntunan hidup sehari-hari sehingga menimbulkan perasaan puas dan bahagia.

2. Beberapa ciri orang yang Sehat-Normal yakni
1. Menurut Maslow dan Mittelmann Maslow dan Mittelmann menyatakan bahwa pribadi yang normal dengan jiwa yang sehat ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut.
a. Memiliki rasa aman yang tepat (sense of security)
b. Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan wawasan (insight) yang rasional. c. Memiliki spontanitas dan emosional yang tepat.
d. Memiliki kontak dengan realitas secara efisien.
e. Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu yang sehat.
f. Memiliki pengetahuan mengenai dirinya secara objektif.
g. Memiliki tujuan hidup yang adekuat, tujuan hidup yang realistis, yang didukung oleh potensi.
h. Mampu belajar dari pengalaman hidupnya.
i. Sanggup untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kelompoknya.
j. Ada sikap emansipasi yang sehat pada kelompoknya.
k. Kepribadiannya terintegrasi

2. Kriteria Pribadi yang normal menurut W.F. Maramis. Menurut Maramis, terdapat enam kelompok sifat yang dapat dipakai untuk menentukan ciri-ciri pribadi yang Sehat-Normal, adalah sebagai berikut :
a. Sikap terhadap diri sendiri : menerima dirinya sendiri, identitas diri yang memadai, serta penilaian yang realistis terhadap kemampuannya.
b. Cerapan (persepsi) terhadap kenyataan : mempunyai pandangan yang realistis tentang diri sendiri dan lingkungannya.
c. Integrasi: kesatuan kepribadian, bebas dari konflik pribadi yang melumpuhkan dan memiliki daya tahan yang baik terhadap stres.
d. Kemampuan : memiliki kemampuan dasar secara fisik, intelektual, emosional, dan sosial sehingga mampu mengatasi berbagai masalah.
e. Otonomi : memiliki kepercayaan pada diri sendiri yang memadai, bertanggung jawab, mampu mengarahkan dirinya pada tujuan hidup.
f. Perkembangan dan perwujudan dirinya : kecenderungan pada kematangan yang makin tinggi.

B. Definsi Abnormal dan beberapa kriteria Abnormal

1. Defini Abnormal
Abnormal artinya menyimpang dari yang normal. Yang normal itu yang bagaimana? Bilamana gejala jiwa atau perilaku dinyatakan normal? Pertanyaan tersebut tidak mudah untuk dijawab sebab manusia merupakan makhluk multi dimensional. Manusia merupakan makhluk biologis, makhluk individu, makhluk sosial, makhluk etis, dst, sehingga perilaku manusia dapat dijelaskan dari dimensi-dimensi tersebut, begitu juga bila berbicara mengenai abnormalitas jiwa.

2. Kriteria Abnormal adalah ;
a. Abnormalitas menurut Konsepsi Statistik Secara statistik suatu gejala dinyatakan sebagai abnormal bila menyimpang dari mayoritas. Dengan demikian seorang yang jenius sama- sama abnormalnya dengan seorang idiot, seorang yang jujur menjadi abnormal diantara komunitas orang yang tidak jujur.
b. Abnormal menurut Konsepsi Patologis Berdasarkan konsepsi ini tingkah laku individu dinyatakan tidak normal bila terdapat simptom-simptom (tanda-tanda) klinis tertentu, misalnya ilusi, halusinasi, obsesi, fobia, dst. Sebaliknya individu yang tingkah lakunya tidak menunjukkan adanya simptom-simptom tersebut adalah individu yang normal.
c. Abnormal menurut Konsepsi Penyesuaian Pribadi Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi masalah dirinya menunjukkan kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah tidak terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik, sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal.
d. Abnormal menurut Konsepsi Penderitaan/tekanan Pribadi Perilaku dianggap abnormal jika hal itu menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi individu. ú Tidak semua gangguan (disorder) menyebabkan distress. Misalnya psikopat yang mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan suatu rasa bersalah atau kecemasan. ú Juga tidak semua penderitaan atau kesakitan merupakan abnormal. Misalnya seseorang yang sakit karena disuntik. ú Kriteria ini bersifat subjektif karena susah untuk menentukan standar tingkat distress seseorang agar dapat diberlakukan secara umum.
e. Perilaku berbahaya, Perilaku yang menimbulkan bahaya bagi orang itu sendiri ataupun orang lain dapat dikatakan abnormal.
f. Abnormalitas menurut Konsepsi Sosio-kultural Menurut konsepsi ini seseorang dinyatakan penyesuaiannya baik bila yang bersangkutan mampu menangani setiap masalah yang dihadapinya dengan berhasil. Dan hal itu menunjukkan bahwa dirinya memiliki jiwa yang normal. Tetapi bila dalam menghadapi maslah dirinya menunjukkan kecemasan, kesedihan, ketakutan, dst. yang pada akhirnya masalah tidak terpecahkan, maka dikatakan bahwa penyesuaian pribadinya tidak baik, sehingga dinyatakan jiwanya tidak normal
g. Abnormalitas menurut Konsepsi Kematangan Pribadi Menurut konsepsi kematangan pribadi, seseorang dinyatakan normal jiwanya bila dirinya telah menunjukkan kematangan pribadinya, yaitu bila dirinya mampu berperilaku sesuai dengan tingkat perkembangannya.
h. Disability (tidak stabil) ú Individu mengalami ketidakmampuan (kesulitan) untuk mencapai tujuan karena abnormalitas yang dideritanya. Misalnya para pemakai narkoba dianggap abnormal karena pemakaian narkoba telah mengakibatkan mereka mengalami kesulitan untuk menjalankan fungsi akademik, sosial atau pekerjaan. ú Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme (mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disability dalam masalah seksual.

Dari semua kriteria di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya kriteria tersebut berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal. Dan adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

Sumber : 1. Supratiknya, 1995, Pengenal Perilaku Abnormal, Yogyakarta : Kanisius 2. Sutardjo A. Wiramihardja, 2005, Pengantar Psikologi Abnormal, Bandung : Refika Aditama 3. Jeffrey S. Nevid, dkk, 2005, Psikologi Abnormal, Edisi Kelima, Jilid I, Jakarta : Airlangga

Etiologi, Diagnosa, & Prognosa

Etiologi, Diagnosa, & Prognosa ETIOLOGI 1. Definisi Merupakan ilmu yang mempelajari penyebab gangguan. Secara umum etiologi berarti apa yang menjadi penyebab suatu penyakit. Sedangkan pengertian dari patogenesis adalah mekanisme / dinamika (psikologis / biologis / sosial) yang memiliki out put gangguan yang saat ini dialami klien. 1. Macam – Macam Penyebab Munculnya Penyakit Penyebab gangguan selain murni biologis juga ada penyebab yang tidak murni biologis, tetapi pengaruhnya biologis, kemudian dinamakan penyebab biolingkungan. Ada 3 macam hubungan antara lingkungan dengan biologis : 1. Trauma biologis dari lingkungan Stress yang disebabkan oleh lingkungan tidak sama dengan stress yang disebabkan oleh psikososial, karena lingkungan dapat menyebabkan trauma biologis. 2. Trauma psikososial yang menyebabkan perubahan biologis Trauma psikososial dapat merubah anatomi dan biokimia otak, sehingga bisa menghasilkan kecemasan. Oleh karena itu ada obat – obatan anti depresi yang berguna untuk mencairkan biokimia. 3. Genotype dan Fenotype Perbedaan – perbedaan dalam gen merupakan genotype, bila gen sudah dimanifestasikan keluar maka dinamakan fenotype. Munculnya suatu gangguan mental dapat dipengaruhi oleh : 1. Peran genetik Faktor genetika merupakan faktor yang sebagian besar mempengaruhi gangguan mental dan sebagian kecilnya gangguan ini disebabkan oleh kondisi psikososial. 2. Peran psikososial Ada beberapa model : 1. Model perkembangan 2. Model mekanisme pertahanan ego 3. Model konflik intrapsikis 4. Model stress 5. Model gangguan behavioral 6. Model sistem keluarga 7. Model psikokultural Etika Profesional Kode etik profesional merupakan serangkaian prinsip – prinsip yang mengatur perilaku tata cara perlakuan profesional tertentu. Etika merupakan pernyataan normative yang menentukan suatu tujuan perilaku dikatakan benar. Fungsi kode etik profesional adalah untuk melindungi rahasia antara terapis dan klien. Standar Etika APA (American Psychiatric Association) Kode etik psikologi pertama diterbitkan pada tahun 1953 (APA, 1953) sesuai dengan data lapangan yang mereka dapatkan. Para psikolog yang tergabung dalam komite APA memasukkan banyak peristiwa klinis yang melibatkan dilemma etik yang muncul dalam konteks profesionalitas. Dengan menganalisis hal tersebut, komite merumuskan suatu kode etik yang menyeluruh yang dirangkum dalam sebuah rangkaian pedoman umum. Versi tersebut digunakan selama 3 tahun, kemudian diamandemen dan diadaptasi secara formal (1963). Kemudian masih mengalami beberapa revisi pada tahun 1960 – 1980. Pedoman etika saat ini yang berjudul “Dasar – Dasar dan Kode Etik Perilaku Psikolog” diresmikan pada 1 Desembar 1992 setelah mengalami 6 tahun revisi dan berbagai perdebatan. Dokumen tersebut terdiri dari pembukaan, enam pedoman umum dan banyak standar etika untuk hal – hal yang lebih spesifik. Standar tersebut yang memberikan aturan – aturan yang mengikat bagi tata cara perilaku profesional psikolog. Standar tersebut digunakan pada anggota APA dan dapat dipergunakan oleh organisasi lain, seperti badan – badan psikologi dan pengadilan, untuk menghakimi atau memberikan sanksi kepada psikolog baik ia tergabung dalam APA atau tidak. Standar tersebut disusun dengan urutan sebagai berikut : 1. Standar Umum Mengatur larangan – larangan atau diskriminasi, pelecehan seksual atau lainnya dalam penyalahgunaan produk yang tercakup di dalamnya, juga mengatur mengenai kompetensi, tata cara penyampaian berkas, fee, dan hubungan keuangan. 2. Evaluasi Assessmen dan intervensi, mengatur berkenaan alat tes. 3. Periklanan dan Pernyataan Publik Lainnya Standar yang mengatur tata cara psikolog dalam mengapalikasikan layanan dan surat – surat ijazah profesional mereka tercakup dalam kategori ini. 4. Terapi Aturan mengenai pengaturan perilaku dan terminasi terapi dijelaskan pada bagian ini. 5. Privasi dan Kepercayaan Aturan – aturan tersebut meliputi kewajiban dari para psikolog untuk melindungi hak klien dalam hal privasi dan kepercayaan. 6. Pengajaran, Pelatihan, Pengawasan, Riset, dan Publikasi Bagian ini mencakup beberapa standar etik yang mengatur tata cara psikolog dalam mengajar dan mengawasi siswa serta melakukan riset atau penelitian psikologi. 7. Aktifitas Forensik Ketika melakukan evaluasi forensik atau pelayanan lainnya, psikolog harus mengikuti aturan khusus tentang pelayanan tersebut. 8. Memutuskan Masalah Etika Bagian terakhir ini mencakup standar mengenai bagaimana cara psikolog dalam memutuskan masalah – masalah etika atau komplain. 9. Buku Kasus (Casebook) dan Standar Etika APA Pada tahun 1967, APA menerbitkan buku kasus dan standar etika psikolog yang pertama. Buku ini ditujukan sebagai panduan dalam mengaplikasikan prinsip – prinsip etika APA dan standar situasi yang dihadapi oleh psikolog dalam aktifitas profesionalnya sehari – hari. 10. Mengenai Pelanggaran Etika Perilaku yang tidak sesuai dengan etika dapat menyebabkan psikolog kehilangan lisensinya atas badan psikologi di negara mana mereka melakukan praktek. Kebanyakan pelanggaran meliputi : 1. Intimasi seksual antara terapis dan klien 2. Pelanggaran hukum negara atau federal (misalnya, memasang tariff yang menipu) 3. Melanggar kepercayaan Berdasarkan poling yang dilakukan, ada 3 area yang dianggap paling bermasalah secara etika, yaitu : - Kepercayaan (18% peristiwa yang bermasalah melibatkan masalah kepercayaan) - Hubungan ganda atau berkonflik dengan klien (17% peristiwa melibatkan kesulitan dalam menetapkan batasan yang tepat di sekitar wilayah hubungan profesional) - Masalah dalam menagih pembayaran untuk pelayanan dan konflik dengan nasabah asuransi (14% peristiwa memfokuskan pada kesulitan menagih pembayaran atau menyediakan perlakuan yang memadai di bawah batasan ketentuan asuransi) 11. Standar Etika Lainnya Karena meningkatnya kepedulian public, aturan baru pemerintah serta perlakuan pada hewan di lab. APA perlu menambah etika standarnya dengan detail mengenai aturan – aturan yang mencakup riset – riset yang dilakukan oleh psikolog dengan hewan yang disebut “aturan untuk tata cara etika dalam perawatan dan penggunaan hewan” (APA, 1992). Para psikolog klinis juga bertanggung jawab unutk mengetahui satandar lainnya yang mengatur riset mereka dan tata cara pemberian layanan mereka. 12. Kebebasan Profesional Psikolog klinis harus berkonsultasi dan berkolaborasi dengan profesional lainnya dalam banyak aspek berkaitan dengan praktek klinis. Hubungan professional antar psikolog akan lebih menguntungkan dan lebih memiliki karakteristik untuk hasil yang baik. Guru yang memiliki murid yang nakal yang terkait dengan masalah emosional, disarankan agar keluarganya berkonsultasi kepada psikolog. Psikolog yang mempunyai klien bermasalah dengan hukum sebaiknya mendorong klien untuk menyewa pengacara. Psikolog mempunyai perbedaan pendapat yang mendasar dengan dokter, khususnya psikiatri. Psikolog klinis terlibat dalam praktek psikoterapis sebagai psikolog, kemudian psikolog klinis dan psikiatris berdebat mengenai kebebasan psikolog klinis untuk praktek secara terpisah dari psikiatri di rumah sakit. 13. Kebebasan Praktek Psikoterapis Ketika psikolog mulai membuka praktek untuk psikoterapi, psikolog tetap harus diawasi oleh psikiater. Karena psikiater merupakan seorang ahli terhadap fungsi dari keseluruhan individu dengan berbagai tipe perilaku abnormal merupakan hal yang penting untuk membedakan aspek mental dan fisik dari penyakit dan treatment. Ironisnya, psikolog sendiri cenderung untuk membuka praktek sendiri. Tahun 1949 APA tidak menyetujui praktek psikoterapi oleh psikolog yang tidak bekerja sama dengan psikiater (Goldenberg, 1973). Asosiasi Medis Amerika (AMA, 1954) mengeluarkan kebijakan bahwa psikoterapi merupakan prosedur medis yang hanya dapat dilakukan oleh seorang yang sudah terlatih ilmu medis. Namun hal tersebut tidak berhasil, sehingga akhir tahun 1950, psikolog sudah mengurangi dominasi psikiater terhadap psikoterapi dan sekarang psikolog menyediakan perawatan kesehatan mental (McGuire, 1939). Hubungan antara psikolog dan psikiatri berkembang sekitar tahun 1970 dan awal tahun 1980 psikiatri menerima psikolog sebagai psofesional. Tahun 1990 hubungan antara psikolog dan psikiatri menjadi renggang, hal ini dikarenakan adanya tekanan ekonomi. DIAGNOSA 1. Definisi Diagnosis dilakukan dalam rangka menentukan jenis gangguan. Kita seharusnya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa untuk dapat menyelesaikan suatu masalah diperlukan adanya suatu diagnosis. Sehingga apabila kita mendapat suatu informasi tidak langsung diterima secara mentah, tapi kita telusuri mengapa bisa terjadi hal tersebut. Misalnya saja mengapa seseorang mengalami stress, mengapa seorang ibu membunuh anak kandungnya sendiri, dll. Jadi untuk menyelesaikan masalah kita harus tahu penyebabnya. Langkah pertama yang harus diambil adalah dengan segera mengetahui sifat dan penyebab masalah tersebut. Diagnosa adalah : 1. Penggambaran kondisi klien berdasarkan assessment. 2. Merupakan dasar ilmiah dan formal dalam membuat klasifikasi / penggolongan perilaku abnormal. 1. Menentukan jenis gangguan. Diagnosis merupakan hal yang sangat penting dalam intervensi kesehatan mental. Diagnosis biasanya digunakan dalam studi sistematis dari seorang pasien, antara lain dengan wawancara, test, dan observasi. Apapun teknik dan bentuk terapi yang digunakan, diagnosis tetap ada dan klinisi tetap perlu membuat keputusan tentang pasiennya. Klinisi harus bisa memutuskan apa dan bagaimana cara mengatasi masalahnya, apa yang akan dilakukan. Ada beberapa keputusan yang harus dibuat sejalan dengan perkembangan psikoterapi, seperti, apakah pasien sudah mengungkapkan seluruh masalahnya atau belum. Klinisi pun harus bisa membuat batasan yang jelas. 1. Klasifikasi Diagnosa Tujuan klasifikasi (Kapplan & Saddock, 1994) : 2. Komunikasi Berguna untuk memberikan informasi tentang deskripsi gangguan pada psikiater atau orang lain. 3. Kontrol / Kendali Sebagai suatu pencegahan tentang suatu gejala untuk menghindari bahaya lebih lanjut (preventif) serta merupakan acuan dalam mengubah terapi. 4. Pemahaman Untuk mengetahui penyebab, proses, dinamika, dan kondisi yang bertahan. Pada tahun 1934, WHO menyusun Diagnostic Statistical Manual for Mental Disorder (DSM I), karena masih ada kekurangan, DSM I diubah menjadi DSM II yang berlaku hingga 1968. Depkes RI memakai DSM II yang sudah diadaptasi untuk Indonesia, dimana kategori utama gangguan jiwa adalah sebagai berikut : 1. Retardasi mental 2. Sindroma otak 3. Psikosis yang berhubungan dengan kondisi fisik 1. Neurosis 2. Gangguan kepribadian 3. Gangguan psikofisiologis 4. Gejala – gejala khusus 5. Gangguan situasional sementara 6. Gangguan tingkah laku anak dan remaja 7. Tidak ada kelainan psikiatrik tetapi bermasalah dan perlu dibantu Kini telah ada klasifikasi gangguan jiwa baru yang diberi nama Diagnostic Statistical Manual for Mental Disorders atau DSM III & DSM IV yang dibuat oleh American Psychiatric Association (APA). Berbeda dengan DSM I & DSM II, maka pada DSM III & DSM IV dasar klasifikasi gangguan jiwa diperluas. Semula DSM hanya memperhatikan satu dimensi symptom klinis yang dinyatakan dalam aksis I. Sementara DSM III & DSM III-R mengalami kemajuan penting, yakni : 1. Tingkah laku abnormal dikonseptualisasikan dalam istilah disorder atau gangguan (bukan penyakit). Gangguan mental merupakan istilah tidak berfungsinya tingkah laku secara psikologis maupun biologis. 2. Menggunakan pendekatan deskriptif yaitu dengan memberikan definisi gangguan pada umumnya terbatas pada ciri – ciri klinis (gejala tingkah laku) dari gangguan akan menceritakan bagaimana seseorang bertingkah laku. DSM III-R tidak memberikan keterangan tentang sebab (etiologi) tentang timbulnya suatu gangguan dan tidak memberikan indikasi untuk terapi yang sebaiknya dilakukan. 3. Gejala bagi tiap kategori diagnosa didaftar dan dijelaskan. Beberapa gejala yang harus dikemukakan sebelum diagnosa dibuat juga dijabarkan. 4. Pengenalan system Diagnosa Multiaksial sebagai suatu cara memberikan deskripsi gangguan mental yang lebih luas. DSM III-R memberikan gambaran yang sistematis dari masing – masing gangguan yaitu : 1. Kriteria diagnosa (ciri – ciri pokok / essential features) Kriteria diagnosa mengandung gambaran dari seperangkat ciri – ciri yang penting, yang diperlukan untuk menentukan ada atau tidak adanya gangguan. Skema umum untuk formulasi diagnosa sebagai berikut : 1. Gambaran kondisi yang harus ada dan karakteristik gangguan 1. Paling tidak jumlah gejala yang pasti dari daftar yang diberikan harus ada secara bersama – sama 2. Jangka waktu (munculnya gejala, misal 1 minggu, 2 minggu, atau paling tidak 6 bulan) 3. Mengeluarkan gangguan lainnya yang dapat menghasilkan beberapa gejala yang sama 4. Mengeluarkan semua penyebab organis (contohnya, kelompok gejala yang ditemukan dan mengarah ke diagnosa dari gangguan kecemasan, tetapi disebabkan oleh penggunaan obat bius yaitu penyebab organis. Lalu diagnosa gangguan kecemasan tidak diberikan) 5. Ciri yang diasosiasikan seperti usia pada permulaan timbul, perkembangan, kerusakan, komplikasi, faktor predisposisi, prevalensi, ratio jenis kelamin, pola keluarga, dan diagnosa differensial. Dalam klasifikasi diagnostic DSM IV terdapat 5 aksis gangguan, yaitu : AXIS I : Sindrom klinis / gangguan mental 1. Gangguan – gangguan yang biasanya didiagnosis pada masa bayi, anak atau remaja. Termasuk dalam aksis retardasi mental, gangguan belajar, gangguan keterampilan motorik, gangguan komunikasi, gangguan perhatian dan perilaku, gangguan makan pada bayi dan anak – anak. 2. Delirium, dementia, amnesia, dan gangguan kognitif lainnya. 1. Gangguan mental yang menyangkut kondisi medis umum yang tidak dapat diklasifikasikan pada jenis lain, seperti gangguan katatonik yang berhubungan dengan kondisi medis umum, perubahan kepribadian yang berhubungan dengan kondisi medis umum, dan gangguan mental NOS (No Observed Specific) yang berhubungan dengan kondisi medis umum. 2. Gangguan yang berhubungan dengan obat dan napza, termasuk gangguan penggunaan alkohol, gangguan yang dipicu oleh alkohol, gangguan yang pengguna amfetamin, gangguan yang dipicu oleh penggunaan cannabis, gangguan yang dipicu oleh anxiolitic, hipnotoc, dan sedatif. 3. Skizofrenia dan gangguan lainnya, termasuk skizofrenia, gangguan delasional, gangguan psikotik singkat, dan gangguan psikotik yang berhubungan dengan kondisi medis umum. 4. Gangguan suasana hati (Code current state of major depressive), gangguan depresif, gangguan hipolar, dan gangguan susanan hati yang berhubungan dengan kondisi medis umum. 5. Gangguan kecemasan seperti gangguan panic, post traumatic, stress disorder, generalized anxiety disorder, dan obsessive compulsive disorder. 6. Gangguan somatoform seperti gangguan somatisasi, gangguan konversi, dan gangguan dismorfik badan. 7. Gangguan disasosiatif seperti, amnesia disasosiatif, dan gangguan depersonalisasi. 8. Gangguan identitas gender dan seksual, antara lain disfungsi seksual, parafilas, dan gangguan identitas gender. 9. Gangguan makan, seperti anorexia nervosa dan bulimia nervosa. 10. Gangguan tidur, seperti gangguan tidur primer, gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan mental lainnya. 11. Gangguan pengendalian impuls yang tidak termasuk golongan lain, seperti kleptomania, piromania, dan tuntutan berjudi yang tidak terkendali. 12. Gangguan penyesuaian diri, seperti gangguan penyesuaian diri dengan kecemasan atau suasana hati depresi. AXIS II : Developmental and Personality Disorder (Gangguan Perkembangan dan Kepribadian) : 1. Gangguan kepribadian, seperti gangguan kepribadian paranoid, gangguan kepribadian schizoid, gangguan kepribadian skizotipal, gangguan kepribadian antisosial, gangguan kepribadian histerionik, gangguan kepribadian dependen, dan gangguan kepribadian obsesif kompulsif. 2. Kondisi lain yang bisa jadi berfokus pada perhatian klinis, seperti gangguan gerakan yang dipengaruhi oleh medikasi, masalah relasional, masalah relasi yang berhubungan dengan penyalahgunaan dan penyisihan. 3. Kode tambahan, seperti gangguan mental yang tidak spesifik, gangguan yang tidak termasuk dalam aksis I dan aksis II. AXIS III : Psysical Disorder and Conditions (Gangguan dan Kondisi Fisik) Gangguan kecemasan yang disertai dengan adanya kelainan jantung. AXIS IV : Severity of Psycho-social Stressor (Kekerasan Stressor Psikososial) 1. Masalah dengan keluarga 2. Masalah yang berkaitan dengan lingkungan sosial 3. Masalah pendidikan 4. Masalah pekerjaan 5. Masalah perumahan 6. Masalah ekonomi 7. Masalah akses ke pelayanan kesehatan 8. Masalah yang berkaitan dengan interaksi dengan hukum dan kriminal 9. Masalah psikososial dan lingkungan lainnya. AXIS V : Penilaian Global Terhadap Fungsi Psikologis, Sosial, dan Pekerjaan Sekarang dan Tahun Sebelumnya (Global Assessment of Functioning / GAF Scale) 100 – 91 : Gejala tidak ada, berfungsi maksimal, tidak ada masalah yang tidak terselesaikan 90 – 81 : Gejala minimal, berfungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalah harian yang biasa 80 – 71 : Gejala sementara dan dapat diatasi 70 – 61 : Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi secara umum masih baik 60 – 51 : Gejala sedang (moderat), disabilitas sedang 50 – 41 : Gejala berat (serius), disabilitas berat 40 – 31 : Beberapa disabilitas berhubungan dengan realitas dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi 30 – 21 : Disabilitas berat dalam berkomunikasi dan daya nilai, tidak mampu befungsi hampir semua bidang 20 – 11 : Bahaya melukai diri dan orang lain, disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus diri 10 – 1 : Seperti di atas – persistens dan lebih serius 1. Langkah – Langkah Membuat Diagnosa Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. Tidak ada cara yang sama atau baku yang ditetapkan untuk semua orang 2. Penentuan dalam melakukan pendekatan diagnostik yang tepat untuk klien adalah umpan balik yang ditunjukan klien saat interview Ada lima langkah yang logis dalam membuat diagnosa : 1. Petunjuk diagnostik 1. Bina raport 2. Buatlah semua daftar kemungkinan diagnostik 3. Klasifikasi semua data assessment dengan menentukan gangguan sesuai dengan petunjuk yang ada 1. Kriteria diagnostik 1. Tentukan durasi dari gejala / sindrom psikiatrik yang menonjol 2. Buatlah penilaian kadar keparahan gejala / sindrom dengan melihat akibat yang ditimbulkan pada klien 3. Uji hipotesa diagnostik yang telah dibuat : uji ulang, merujuk dari psikiater atau dokter 4. Check up dengan masalah gangguan kepribadian dan psikososial serta lingkungan 5. Gunakan pertanyaan diagnostik spesifik untuk mengidentifikasi tanda – tanda penting 1. Riwayat psikotik Mengambil bukti – bukti pendukung, antara lain riwayat premorbid, dasar gangguan, dan riwayat keluarga. 1. Diagnostik multiaksial 2. Organisasikan impresi yang sudah ditentukan dalam DSM / PPDGJ - Aksis I – II : diagnosa saat ini - Aksis III – IV : masalah medis, psikososial dan lingkungan terkait serta penilaian umum 1. Simpulkan faktor – faktor biologis, psikologis, dan sosial yang mempengaruhi diagnosa klien dan etiologi gangguan 1. Prognosa 2. Perhatikan bagaimana cara klien mengahadapi kesepakatan treatment dan bagaimana respon sikapnya terhadap gangguan dan kesungguhan dalam treatment 1. Perhatikan sifat – sifat yang mendasari gangguan PROGNOSA 1. Definisi Prognosa adalah tahap yang dilalui setelah melakukan diagnosa. Tujuan dari prognosa adalah untuk mengkomunikasikan prediksi dari kondisi klien di masa datang. 1. Fungsi 2. Menentukan rencana terapi selanjutnya 3. Sabagai bahan pertimbangan perawatan dan rehabilitasi 1. Pertimbangan Dalam Membuat Prognosa Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat prognosa, yaitu : 1. Sifat atau ciri – ciri gangguan yang dialami klien 2. Fungsi apa yang paling tinggi tingkat aktivitasnya dan yang masih bisa berfungsi dengan baik 1. Lamanya sakit 2. Waktu menculnya gajala 3. Kekambuhan 3. Masalah umum, jika terjadi pada usia awal. Biasanya pronosisnya lebih buruk, terutama untuk perkembangan selanjutnya 1. Dukungan sosial yang mungkin akan diterima klien dari lingkungan 2. Bentuk treatment yang efektif serta treatment yang pernah gagal dilakukan. DAFTAR PUSTAKA Markam, Sumarno. 2003. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta : Universitas Indonesia Wiramihardja, Sutarjo A. 2004. Pengantar Psikologi Klinis. Bandung : Retika Aditama Sunberg, N.D. 1983. Introduction to Clinical Psychology. New Jersay : Prentice-Hall.Inc

Selasa, 24 April 2012

Pengertian, bidang kajian, psikologi klinis

A. Pengertian psikologi klinis. Dilihat dari cakupannya, psikologi klinis dapat diartikan secara sempit atau luas. Secara sempit psikologis klinis tugasnya ialah, mempelajari orang-orang abnormal atau subnormal. Tugas psikologi klinis adalah menggunakan tes yang merupakan bagian integral suatu pemeriksaan klinis, yang biasanya dilakukan di rumah sakit. Para dokter biasanya memberikan arti sempit pada psikologi klinis. Sedangkan pengertian psikologi klinis dalam cakupan yang lebih luas, psikologi klinis ialah bidang psikologi yang membahas dan mempelajari kesulitan-kesulitan serta rintangan-rintangan emosional pada manusia, tidak memandang apakah ia abnormal atau subnormal.psikologi klinis meneropong gejala-gejala yang dapat mengurangi kemungkinan manusia untuk berbahagia. Kebahagiaan erat hubungannya dengan kehidupan emosional-sensitif dan harus dibedakan dengan kepuasan yang lebih berhubungan dengan segi-segi rasional dan intelektual. Psikologi klinis menunjuk pada bidang yang membahas kajian, diagnosis, dan penyembuhan (treatment) masalah-masalah psikologis, gangguan (disorders) atau tingkah laku abnormal (Phares, 1992, dalam Markam Dkk., 2003: 2) Menurut American Psychological Association, psikologi klinis adalah suatu wujud psikologi terapan yang bermaksud memahami kapasitas perilaku dan karakteristika individu yang dilaksanakan melalui metode pangukuran, analisis, serta pemberian saran dan rekomendasi, agar individu mampu melakukan penyesuaian diri secara patut. B. Bidang-bidang kajian yang terkait dengan Psikologi Klinis 1. Psikopatologi, adalah bidang yang mempelajari patologi atau kelainan dari proses kejiwaan. Istilah ini digunakan dalam lingkungan psikiatri. Psikopatologi sebenarnya tidak termasuk psikologi klinis, walaupun demikian seorang psikolog klinis harus menguasai psikopatologi untuk dapat berhasil dalam pekerjaan diagnostiknya. 2. Psikologi Medis, merupakan suatu penjabaran dari psikologi umum dan psikologi kepribadian untuk ilmu kedokteran. Tujuannya adalah untuk melengkapi pengetahuan dokter tentang gambaran biologis manusia dengan gambaran kehidupan kejiwaan, fungsi-fungsi psikis, berpikir, pengamatan, afek, sert kehidupan perasaan pada manusia normal.pengetahuan menyeluruh tentang fungsi normal pada individu ini akan menjadi dasar dalam mengenai kejiwaan yang terganggu. 3. Psikologi Abnormal, istilah ini baru populer pada tahun 50-an. Nama ini diciptakan oleh psikolog-psikolog yang ingin mengklasifikasikan keadaan yang tidak normal yang mungkin terjadi pada individu. 4. Psikologi Konflik dan Pato-Psikologi, kedua nma ini diusulkan untuk menunjukkan bahwa seseorang yang membutuhkan pertolongan psikolog tidak selalu “sakit”. Pertolongan pskolog dapat diberikan kepada mereka yang mengalami kesulitan, misalnya konflik, ketegangan, dan sebagainya yang dapat mengganggu keseimbangan. Kesulitan ini belum terlalu akut sehingga individu belum perlu dikatakan “sakit”. Kadang-kadang manifestasi dari konflik merupakan tanda dari suatu keadaan yang lebih tinggi dari normal. 5. Mental Health dan ‘Mental Hygiene’. Istilah ini mental hygiene lebih dekat dengan bidang kedokteran. Istilah ini banyak membahas dari segi penyembuhan. Mental health lebih banyak membahas dari segi preventif. Mental hygiene bertugas mempertahankan dan memelihara kesehatan mental dan mencegah terjadinya gangguan mental. Dalam praktiknya, mental hygiene mancakup juga penyembuhan sedini mungkin atas gangguan mental, membahas tentang bagaimana mempertahankan dan memelihara kesehatan mental, dan mencegah terjadinya gangguan mental. C. Ruang Lingkup Psikologi Klinis Ruang lingkup psikologi klinis mencakup assesment, intervensi, dan penelitian. 1. Assesment, merupakan proses pengumpulan informasi mengenai klien atau subyek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai seseorang (Wiramihardja S.A., 2004: 38). Sedangkan menurut Bern dan Nietzel (Markam, 2003) assesmen dalam psikologi klinis, ialah pengumpulan informasi untuk digunakan sebagai dasar bagi keputusan yang akan disampaikan oleh penilaian. 2. Intervensi, secara umum adalah upaya untuk mengubah perilaku, pikiran, perasaan seseorang. Kendall dan Norton Ford berpendapat bahwa intervensi klinis meliputi penggunaan prinsip-prinsip psikologi untuk menolong orang menangani masalah-masalah dan mengembangkan kehidupannya yang memuaskan. 3. Penelitian, dalam psikologi klinis penelitian bertujuan untuk membuktikan kebenaran suatu teori dalam praktiknya, dan untuk lebih memahami keunikan perilaku, perasaan, dan pikiran individu klien, bukan untuk mengadakan generalisasi. Metode penelitian dalam psikologi klinis pada dasarnya sama dengan metode penelitian pada umumnya, namun tujuan dan penekanannya adalah untuk keperluan populasi khusus, misalnya mengetahui efektivitas suatu perlakuan pada kelompok tertentu, menentukan tes yang dapat meramalkan kerentanan seseorsng terhadap serangan stroke, dan lain-lain. Metode-metode yang digunakan ialah: metode observasi, penelitian epidemiologi, meode korelasi, eksperimen, penelitian longitudinal, dan desain satu kasus. Daftar pustaka Sumarmo S. 2003. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta.:Universitas Press Wiramihardja S. A. 2004.Pengantar Psikologi Klinis. Bandung: PT. Refika Aditama.