Jumat, 04 November 2011

Dampak Positif-Negatif Internet Bagi Perkembangan Anak

Setelah membaca beberapa artikel tentang “Dampak Internet Bagi Anak”, saya menemukan beberapa hal yang menarik, beberapa orang mengatakan berbahaya bagi anak, alasannya karena bahaya dari situs porno, menjadikan anak malas, anak menjadi lebih sering di depan komputer dari pada mengembangkan kecerdasan interpersonalnya dan membuat anak jarang berinteraksi dengan masyarakat. Kemudian ada alasan lagi tentang kesehatan, terutama kesehatan mata karena terlalu sering duduk di depan komputer.

INTERNET tak selamanya berdampak buruk bagi anak. Dengan batasan-batasan tertentu, internet akan membuat anak memiliki wawasan yang lebih luas.

Dalam menyikapi hal tersebut, psikolog anak dari Universitas Atmajaya Jakarta Fabiola P Setiawan (sumber : artikel okezone.com) mengatakan bahwa setiap anak boleh bermain internet, tetapi harus atas izin dari orangtua. “Tidak salah kok membiarkan anak bermain internet. Internet itu untuk membuka cakrawala dunia,” tandasnya. Selain itu, sebelum anak-anak asyik berjam-jam main internet, orangtua pun harus menerapkan “do and donts to do”, di mana peraturan itu dibuat oleh orangtua. “Jadi sebelum orangtua mengizinkan, harus ada peraturannya terlebih dahulu,” ujar Feby, sapaan akrab Fabiola.

Feby menjelaskan, tidak ada batasan umur bagi anak-anak yang boleh mengakses internet. Karena jika dilihat berdasarkan fungsinya, anak-anak juga butuh internet. Fungsinya tersebut pun bermacam-macam, seperti untuk mengerjakan tugas, iseng membuka situs untuk menambah pengetahuan, atau sekadar membuka permainan komputer.

“Anak-anak sekarang jam sekolahnya padat, dan pulang dibekali dengan tugas yang menumpuk. Di sini internet bisa memperingan kerja anak, sehingga orangtua pun memperbolehkan membuka internet untuk memudahkan mereka mengerjakan tugas,” ucap psikolog lulusan Universitas Atmajaya ini.

Untuk anak-anak yang ingin mengakses internet, sebaiknya dilakukan di bawah pengawasan orangtua. Baik itu mengerjakan tugas sekolah maupun hanya bermain game di rumah. “Siapa pun itu orangnya, entah orangtua, kakak atau pengasuh di rumah, jika anak sedang berinternet, harus ada yang mendampingi,” papar psikolog yang menyelesaikan program S-2 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Saat anak berinternet pun, orangtua diperkenankan untuk menunjukkan rasa ketertarikannya pada apa yang dilakukan anak. Misal bertanya, apa yang tadi anak buka, apa saja yang mereka lihat. “Dari sini anak menjadi terbuka dan tidak menyembunyikan apa saja yang mereka dapat di internet,” jelas psikolog satu anak ini.

Hal yang terpenting bagi orang tua, ketika orangtua mengizinkan anak bermain internet, jangan lupa untuk mengunci situs- situs tertentu yang berhubungan dengan situs orang dewasa, mendampingi mereka, dan mengingatkan anak untuk boleh membuka situs yang diperlukan saja.

http://ilmupsikologi.wordpress.com/2010/02/10/dampak-positif-negatif-internet-bagi-perkembangan-anak/

Kamis, 03 November 2011

ANAK TUNA NETRA

A. Pengertian Gangguan Penglihatan (ketunanetraan)

Pengertian tunanetra tidak saja mereka yang buta, tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tetapi terbatas sekali dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari terutama dalam belajar. Jadi, anak-anak dengan kondisi penglihatan yang termasuk “setengah melihat”, “low vision” atau rabun adalah bagian dari kelompok anak tunanerta.

Anak-anak dengan gangguan penglihatan ini diketahui dalam kondisi :

1. ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang awas.
2. Terjadi kekeruhan pada lensa mata atau terdapat cairan tertentu.
3. Posisi mata sulit dikendalikan oleh saraf otak.
4. Terjadi kerusakan susunan saraf otak yang berhubungan dengan penglihatan.

Dari kondisi diatas, pada umumnya yang digunakan sebagai patokan apakah seorang anak termasuk tunanetra atau tidak ialah berdasarkan pada tingkat ketajaman penglihatannya. Untuk mengetahui ketunanetran dapat mengunakan tes Snellen Card. Anak dikatakan tunanetra bila ketajaman penglihatannya (visusnya) kurang dari 6/21. Artinya, berdasarkan tes, anak hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas dapat dibaca pada jarak 21 meter.

Anak tunanetra dapat dikelompokkan menjadi 2 macam, yaitu:

1. Buta
Dikatakan buta jika anak sama sekali tidak mampu menerima rangsang cahaya dari luar (visusnya = 0).

2. Low Vision
Anak masih bisa menerima rangsang cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau anak hanya mampu membaca headline pada surat kabar.

B. Faktor-faktor Penyebab Ketunanetraan.

Secara ilmiah ketunanetraan anak dapat disebabkan oleh berbagai factor, apakah itu factor dalam diri anak (internal) ataupun factor dari luar anak (eksternal).

Hal-hal yang termasuk factor internal yaitu factor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan : factor gen (sifat pembawa keturunan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat dan sebagainnya.

Factor eksternal yaitu factor-faktor yang terjadi pada saat atau sesudah bayi dilahirkan. Misalnya : kecelakaan, terkena penyakit siphilis yang mengenai matanya saat dilahirkan, pengaruh alat bantu medis (tang) saat melahirkan sehingga system sayafnya rusak, kurang gizi atau vitamin, terkena racun, virus trachoma, panas badan yang terlalu tinggi, dan peradangan mata karena penyakit, bakteri, atau virus.

C. Perkembangan Kognitif Anak Tunanetra

Akibat dari ketunanertaan, maka pengenalan atau pengertian terhadap dunia luar anak, tidak dapat diperoleh secara lengkap dan utuh. Akibatnya perkembangan kognitif anak tunanerta cendrung terhambat dibandingkan dengan anak-anak normal pada umumnya. Hal ini disebabkan perkembangan kognitf tidak saja erat kaitannya dengan kecerdasan (IQ), tetapi juga dengan kemampuan indra penglihatannya.

Melalui indera penglihatan seseorang mampu melakukan pengamatan terhadap dunia sekitar, tidak saja pada bentuknya (pada objek berdimensi dua) tetapi juga pengamatan dalam (pada objek berdimensi tiga), warna, dan dinamikanya. Melalui indra inilah sebagian besar rangsang atau informasi akan diterima untuk selanjutnya diteruskan ke otak, sehingga timbul kesan atau persepsi dan pengertian tertentu terhadap rangsang tersebut. Melalui kegiatan-kegiatan yang bertahap dan terus menerus seperti inilah yang pada akhirnya mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan kognitif seseorang sehingga mampu berkembang secara optimal.

D. Perkembangan Motorik Anak Tunanetra

Perkembangan motorik anak tunanetra cendrung lambat dibandingkan dengan anak awas pada umumnya. Keterlambatan ini terjadi karna dalam perkembangan perilaku motorik diperlukan adanya koordinasi fungsional antara neuromuscular system (system persyarafan dan otot) dan fungsi psikis (kognitif, afektif, dan konatif), serta kesempatan yang diberikan oleh lingkungan.

Pada anak tunanerta mungkin fungsi neuromuscular system tidak bermasalah tetapi fungsi psikisnya kurang mendukung serta menjadi hambatan tersendiri dalam perkembangan motoriknya. Secara fisik, mungkin anak mampu mencapai kematangan sama dengan anak awas pada umumnya, tetapi karna fungsi psikisnya (seperti pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan mengetahui adanya bahaya dan cara menghadapi, keterampilan gerak yang serba terbatas, serta kurangnya keberanian dalam melakukan sesuatu) mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas motorik. Hambatan dalam fungsi psikis ini secara langsung atau tidak langsung terutama berpangkal dari ketidakmampuannya dalam melihat.

E. Perkembangan Emosi Anak Tunanetra

Perkembangan emosi anak tunanetra akan sedikit mengalami hambatan dibandingkan dengan anak yang awas. Keterhambatan ini terutama disebabkan oleh keterbatasan kemampuan anak tunanetra dalam proses belajar. Pada awal masa kanak-kanak, anak tunanetra mungkin akan melakukan proses belajar mencoba-coba untuk menyatakan emosinya, namun hal ini tetap dirasakan tidak efisien karma dia tidak dapat melakukan pengamatan terhadap reaksi lingkungannya secara tepat. Akibatnya pola emosi yang ditampilkannya mungkin berbeda atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh diri maupun lingkungannya.

Perkembangan emosi anak tunanetra akan semakin terhambat bila anak tersebut mengalami deprivasi emosi , yaitu keadaan dimana anak tunanetra tersebut kurang memiliki kesempatan untuk menghayati pengalaman emosi yang menyenangkan seperti kasih sayang, kegembiraan, perhatian, dan kesenangan. Anak tunanetra yang cenderung mengalami deprivasi emosi ini terutama adalah anak-anak yang pada masa awal kehidupan atau perkembangannya ditolah kehadirannya oleh linkungan keluarga atau masyarakat. Deprivasi emosi ini akan sangat berpengaruh terhadap aspek perkembangan lain : kelambatan dalam perkembangan fisik, motorik, bicara, intelektual dan social. Selain itu, anak yang mengalami deprivasi emosi akan bersifat menarik diri, mementingkan diri sendiri,serta sangat menuntut pertolongan atau perhatian dan kasih saying dari orang-orang disekitarnya.

F. Perkembangan Sosial Anak Tunanetra

Perkembangan social berarti dikuasainya seperangkat kemampuan untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan masyarakat. Bagi anak tunanetra penguasaan seperangkat kemampuan bertingkah laku tersebut tidaklah mudah. Anak tunanetra lebih banyak menghadapi masalah dalam perkembangan social. Hambatan-hambatan tersebut adalah kurangnya motivasi, ketakutan menghadapi lingkungan social yang lebih luas atau baru, perasaan rendah diri, malu, keterbatasan anak untuk dapat belajar social melalui proses identifikasi dan imitasi, serta sikap-sikap masyarakat yang sering kali tidak menguntungkan : penolakan, penghinaan dan sikap tak acuh.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa bagaimana perkembangan social anak tunanetra itu sangat bergantung pada bagaimana perlakuan dan penerimaan lingkungan terutama lingkungan keluarga terhadap anak tunanetra itu sendiri. Bila perlakuan dan penerimaannya baik, maka perkembangan social anak tunanetra tersebut akan baik dan begitu juga sebaliknya.

G. Dampak Ketunanetraan bagi Keluarga, Masyarakat, dan Penyelenggara Pendidikan

Hasil penelitian para ahli mengenai pandanga dan sikap orang awas terhadap penyandang tunanetra adalah bahwa dalam pandangan orang awas,penyandang tunanetra memiliki beberapa karakteristik, baik yang sifatnya positif maupun negative.

Penilaian Negative :
1. Penyandang tunanetra pada umumnya memiliki sikap tidak berdaya.
2. Sifat ketergantungan.
3. Memiliki tingkat kemampuan rendah dalam orientasi waktu.
4. Tidak pernah merasakan kebahagiaan.
5. Memiliki sifat kepribadian yang penuh dengan frustasi-frustasi.
6. Kaku.
7. Resisten terhadap perubahan-perubahan.
8. Cenderung kaku dan cepat menarik tangan dari lawannya pada saat bersalaman.
9. Mudah mengalami kebingungan ketika memasuki lingkungan yang tidak familiar yang ditunjukkan dengan perilaku-perilaku yang tidak tepat.

Penilaian Positif :
1. Penyandang tunanetra lebih peka terhadap suara, perabaan, ingatan, keterampilan dalam memainkan alat musik.
2. Ketertarikan yang tinggi terhadap nilai-nilai moral dan agama.

Sebaliknya, para penyandang tunanetra sendiri beranggapan bahwa orang awas pada umumnya memiliki sikap sebagai berikut :

1. Pada umumnya orang awas tidak tahu banyak tentang ‘orang buta’ dan kemudian akan terheran-heran ketika orang tunanetra menunjukkan kemampuannya dalam beberapa hal.
2. Orang awas cenderung kasihan pada orang tunanetra dan pada saat yang sama mereka berfikir bahwa mereka lebih berani dibandingkan dengan orang awas lainnya.

Sikap orang tunanetra terhadap kebutaannya, menurut Bauman (Kirtley, 1975) bahwa keberhasilan dalam penyesuaian social dan ekonomi pada penyandang tunanetra berkaitan erat dengan sikap-sikap diri dan keluarganya terhadap penerimaan secara emosional yang realistik terhadap kebutaannya serta pemilikan kemampuan intelektual dan stabilitas psikologis.

Reaksi orang tua terhadap ketunanetraan anaknya dibagi menjadi 5 kelompok :

1. Penerimaan secara realistik terhadap anak dan ketunanetraannya.
2. Penyangkalan terhadap ketunanetraan anak.
3. Overprotection atau perlindungan yag berlebihan.
4. Penolakan secara tertutup.
5. Penolakan secara terbuka.

Sikap para guru sebagai penyelenggara pendidikan, hasil penelitian Murphy (Kirtley, 1975) menunjukkan bahwa pada umumnya para guru (guru umum dan guru PLB) cenderung mengesampingkan anak tunanetra, tetapi guru khusus (guru PLB) cenderung bersikap lebih positif terhadap anak tunanetra.

Sumber :

Dra. Hj. T. Sutjihati Somantri, M.Si., psi. (2007). “Psikologi Anak Luar Biasa”. Karakteristik dan Masalah Perkembangan Anak Tunanetra, 65-91. Bandung: PT. Refika Aditama.

http://devianggraeni90.wordpress.com/2010/02/17/anak-tunanetra/

Rabu, 02 November 2011

Memijahkan ikan gurame

Inilah cara memijahkan ikan gurame. Agar lebih jelas, kita mulai dari arti. Pemijahan ikan gurame adalah kegiatan menyatukan induk jantan yang sudah matang kelamin dan betina yang sudah matang gonad ke dalam satu kolam. Dengan disatukan keduanya, maka akan terjadi pemijahan. Pemijahan ikan gurame terjadi dengan sendirinya, atau dengan kata lain, ikan gurame akan memijah secara alami, bukan secara buatan.

Agar terjadi pemijahan, maka harus dilakukan persiapan. Persiapan pertama adalah kolam. Pada prinsipnya kolam pemijahan sama dengan kolam pemeliharaan induk, baik kontruksi, ukuran dan persyaratan lainnya. Persiapan kolamnya juga sama, mulai dari pengeringan perbaikan pematang, dan pengisian air. Hanya satu perbedaannya, yaitu pada kolam pemijahan diberi bahan pembuat sarang.

Bahan pembuat sarang ikan gurame bisa berupa ijuk, bisa juga berupa sabuk kelapa. Bila menggunakan ijuk, maka sebelum digunakan, ijuk harus disisir terlebih dahulu, agar bersih. Selain itu harus dipilih ijuk yang halus, agar sarang yang dibuatnya rapi. Demikian juga dengan sabuk kelapa, maka sabuk kelapa juga harus disisir terlebih dahulu. Namun sabuk kelapa itu sudah halus.

Bahan pembuat sarang diletakan pada rak (para) yang telah disiapkan sebelumnya. Rak dibuat dari anyaman belahan bambu yang berjarak 10 cm dan berukuran panjang dan lebar kurang lebih satu meter. Pada tiap sudut diletakan pada empat buah tiang bambu yang ditancapkan pada dasar kolam. Bahan itu diletakan secara menyebar ke seluruh permukaan rak. Jaraknya 10 cm di atas permukaan air.

Setelah bahan pembuat sarang sudah diletakan, persiapan belum selesai. Ada alat lain harus dipasang, yaitu sosog, suatu alat yang dibuat dari bambu berbentuk seperti keranjang sampah berdiameter 20 cm, tapi pada ujungnya bergagang. Sosog akan digunakan oleh ikan gurame sebagai tempat membuat sarang. Sosog dipasang 10 cm di bawah permukaan air. Selain sosog bisa juga keranjang sampah dengan berdiameter sama.

Bila bahan pembuat sarang sudah diletakan dan sosog telah dipasang, berarti persiapan pemijahan sudah selesai. Kalau sudah begitu induk jantan dan betina bisa ditebar. Namun sebelumnya kedua jenis induk harus diseleksi agar induk-induk yang ditebar betul-betul siap. Untuk mengetahui kematangan induk dapat dilihat dari bibir bawah, warna tubuh, bentuk perut, dan gerakannya.

Jantan yang sudah matang berbibir bawah memerah, warna seluruh tubuh juga memerah atu hitam terang, perut membentuk sudut tumpul, bersisik normal dan gerakannya lincah. Sedangkan betina yang matang telur perutnya membesar atau membulat, nampak sedikit benjolan, bersisik agak terbuka atau tidak normal, dan gerakannya lamban.
Penebaran ini dilakukan pagi hari. Karena pada saat itu suhu air masih rendah. Padat tebar induk di kolam pemijahan 1 – 2 ekor/m2, dengan perbandingan antara jantan dan betina 1 : 4. Jadi untuk kolam yang luasnya 20 m2 dapat ditebar induk sebanyak 24 ekor, yang terdiri dari 4 ekor induk jantan dan 20 ekor induk betina.

Selama pemijahan, induk harus diberi pakan tambahan. Tujuannya untuk mendapatkan telur yang berkualitas baik dan jumlah yang banyak. Karena dalam pemijahan ikan gurame tidak hanya untuk sekali pemanenan telur

Proses pemijahan :
Proses pemijahan ikan gurame berbeda dengan proses pemijahan ikan mas. Setelah ditebar, induk ikan mas bisa langsung memijah dan telurnya bisa dilihat. Sedangkan ikan gurame tidak, setelah ditebar, ikan gurame harus beradaptasi terlebih dahulu. Proses ini berjalan cukup lama, bisa sampai 2 minggu. Namun sambil beradaftasi biasanya mereka juga mencari pasangannya.

Setelah mendapatkan pasangan, maka jantan akan membuat sarang, yaitu dengan menarik bahan pembuat sarang, lalu membawanya ke sosog dan meletakannya di sana. Proses itu berlangsung berkali-kali hingga akhirnya sarang itu tersusun dengan rapi, seperti sarang burung tetapi dengan pintu di samping yang masih terbuka. Pembuatan sarang membutuhkan waktu minimal seminggu. Selesai membuat sarang, jantan akan mengajak betina untuk memijah.

Pemijahan dimulai sore hari, dimana suasana sudah tenang, kadang bisa sampai malam. Pada proses itu, induk betina akan mengeluarkan telur dari perutnya dan meletakan telur itu dalam sarang. Pada saat yang bersamaan induk jantan mengeluarkan sperma, hingga akhirnya terjadi pembuahan. (Pesan sponsor klik iklan) Dalam proses itu tidak semua telur mulus masuk ke dalam sarang, ada pula telur yang jatuh. Telur-telur yang jatuh akan dipungut oleh jantan dengan mulutnya dan diletakan kembali dalam sarang.

Selama pemijahan, jantan sangat cekatan. Selain mengeluarkan sperma, memungut telur dari dasar kolam, jantan juga terus menjaga sarang. Bila ada yang mengganggu segera menghalaunya. Setelah telur dari induk betina habis, jantan pun menghentikan spermanya. Selanjutnya jantan menutup pintu sarang, dan pergi. Sedangkan sarang dijaga oleh induk betina, sambil mengibas-ngibaskan siripnya untuk mensuplay oksigen pada telurnya.

Contoh Kisah Wirausahawan Sukses

Pria berpakaian "dinas" celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.


Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.

Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. "Yang paling penting tindakan," kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. "Hati saya ikut hancur," kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, "Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah."
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik.Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah "warung" shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan dan 100 ton sayuran segar.
"Saya hidup dari fantasi" kata Bob menggambarkan keberhasilan usahannya

Sumber : TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Sikap Mental Wirausaha

1. Karakteristik Wirausaha

Karakteristik yang dimaksud dalam konteks materi disini (wirausaha) adalah sesuatu yang berhubungan dengan cirikhas, watak, perilaku tabiat, sikap seseorang (wirausaha) terhadap perjuangan hidup untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin.

Menurut Geoffrey G. Meredith dalam bukunya “Kewirausahaan”, ciri-ciri profil wirausaha adalah sebagai berikut :

Ciri-ciri :

-. Percaya diri

-. Berorientasikan tugas dan hasil

-. Pengambil resiko

-. Kepemimpinan

-. Keorisinilan

-. Berorientasi ke masa depan
Watak :

-. Keyakinan, ketidaktergantungan, induviduali-tas, optimisme.

-. Kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energitic, inisiatif.

-. Kemampuan mengambil resiko, suka pada tantangan.

-. Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain, menanggapi saran saran dan kritik.

-. Inovatif dan kreatif, fleksibel, punya banyak sumber, serba bisa, mengetahui banyak.

-. Pandangan ke depan, perseptis.

Sedangkan Bygrave merumuskan 10 sifat dari wirusaha yang terkenal dengan istilah 10 D yaitu :

a. Dream (mimpi)

Seorang wirausaha mempunyai bisi keinginan terhadap masa depan pribadi dan bisnisnya serta mempunyai kemampuan untuk mewujudkan impiannya.

b. Decisiveness (cepat mengambil keputusan)

Seorang wirausaha adalah orang yang tidak bekerja lambat. Mereka membuat keputusan secara cepat dengan penuh perhitungan. Kecepatan dan ketepatan mengambil keputusan adalah faktor kunci dalam kesuksesan bisnis.

c. Doers (pelaku)

Seorang wirausaha dalam membuat keputusan akan langsung menindaklanjuti. Mereka melaksanakan kegiatannya secepat mungkin. Seorang wirausaha tidak mau menunda-nunda kesempatan yang baik dalam bisnisnya.

d. Determination (ketetapan hati)

Seorang wirausaha, melaksanakan kegiatannya dengan penuh perhatian. Rasa tanggung jawabnya tinggi dan tidak mau menyerah, walaupun dihadapkan pada kalangan dan rintangan yang tidak mungkin dapat diatasi.

e. Dedication (dedikasi)

Seorang wirausaha memiliki dedikasi yang tinggi terhadap bisnisnya, kadang-kadang mengorbankan kepentingan keluarga untuk sementara. Wirausaha di dalam melaksanakan pekerjaannya tidak mengenal lelah. Semua perhatian dan kegiatannya dipusatkan semata-mata untuk kegiatan bisnisnya.

f. Devotion (kesetiaan)

Seorang wirausaha mencintai pekerjaan bisnisnya dan produk yang dihasilkannya. Hal inilah yang mendorong keberhasilan yang sangat efektif untuk menjual produknya.

g. Detail (rincian)

Seorang wirausaha sangat memperhatikan faktor-faktor kritis secara rinci. Dia tidak mau mengabaikan faktor-faktor kecil yang dapat menghambat kegiatan usahanya.

h. Destiny (nasib)

Seorang wirausaha bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yang hendak dicapainya. Dia merupakan orang yang bebas dan tidak mau tergantung kepada orang lain.

i. Dollars (uang)

Seorang wirausaha tidak mengutamakan mencapai kekayaan, motivasinya bukan karena masalah uang. Uang dianggap sebagai ukuran kesuksesan bisnisnya. Ia berasumsi jika berhasil dalam bisnis maka ia pantas mendapat laba, bonus, atau hadiah.

j. Distribute (distribusi)

Seorang wirausaha bersedia mendistribusikan kepemilikan bisnisnya kepada orang-orang kepercayaannya itu yaitu orang-orang yang kritis dan mau diajak mencapai sukses dalam bidang bisnisnya.

Untuk mewujudkan karakteristik (ciri, watak dan sifat) diatas dibutuhkan :

a. Kerja Keras

Artinya kegiatan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah atau berhenti sebelum target kerja tercapai dan selalu mengutamakan/memperhatikan kepuasan hasil pada setiap kegiatan yang dilakukan.

Contoh :

Seorang penjahit harus memenuhi janji kepada pelanggan, sesuai waktu yang ditetapkan walaupun harus dikerjakan siang dan malam.

b. Disiplin

Artinya sikap yang selalu tepat waktu dan tepat janji. Sehingga orang lain mempercayainya, modal utama dalam berwirausaha adalah “perolehan kepercayaan dari orang lain”.

Contoh :

Seorang pengusaha warung harus selalu tepat dan disiplin dalam membuka dan menutup warungnya, karena pembeli sudah memperkirakan sesuai dengan kebijaksanaan buka/tutupnya warung. Seandainya pengusaha tidak disiplin dalam membuka dan menutup warung, pembeli kecele (salah menduga) dan enggan untuk datang membeli.

c. Mandiri

Artinya sikap untuk tidak menggantungkan keputusan akan apa yang harus dilakukan kepada orang lain, sesuatu dikerjakan karena kemauan sendiri serta tidak merasa besar.

Karena orang lain, tetapi besar karena usaha kerasnya resiko yang dihadapi serta hambatan dan masalah yang harus diselesaikan adalah milik kita sendiri dan kita yang memutuskan cara menghadapi dan menuntaskannya, tentunya selalu berdo’a dan ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Contoh :

Norman Edwin pendaki gunung yang mempunyai reputasi nasional, sampai dengan akhir pendakiannya (meninggal dunia) ketika berusaha menyelamatkan temannya, masih mengenakan perlengkapan pendakian yang dipersiapkan sendiri sesuai standar profesional seorang pendaki.

d. Realistis

Yaitu cara berfikir yang penuh dengan perhitungan dan sesuai dengan kemampuan sehingga gagasan yang akan diajukan bukan hanya menjadi angan-angan atau mimpi belaka. Oleh karena itu apabila anda memiliki gagasan atau ide sekecil atau sebesar apapun harus dipikirkan kemungkinan realitasnya atau keterlaksanaannya.

Contoh :

Sekelompok siswa SMK jurusan Otomotif memberanikan diri membuat mobil dengan cara merakit onderdil dan mesin bekas, serta membangun bodi sesuai keinginan dan kemampuannya.

f. Prestatif

Yaitu melakukan sesuatu dengan pikiran bahwa yang akan diwujudkan memiliki nilai-nilai keunggulan sehingga memperoleh penghargaan dari orang lain, tidak asal jadi bahkan merampas/meniru hasil karya orang lain.

Contoh :

Teguh Karya dalam menggarap filmnya, secara serius dan mengutamakan keunggulan, sehingga memenangkan banyak piala citra mampu menghasilkan sutradara unggul, maupun bintang film unggul yang dibimbingnya seperti : Christine Hakim, Slamet Raharjo, Eros Jarot.

g. Komitmen Tinggi

Yaitu sikap yang Teguh memegang prinsip-prinsip kebenaran yang berlaku, tidak sekalipun mengingkarinya walaupun dengan dirinya sendiri, serta berusaha menyesuaikan perkataan dan perbuatannya.

Contoh :

Kebanyakan peluki selalu mencantumkan nama dan tanggal pembuatannya, serta tidak mau menjual lukisannya sebelum dia merasa layak. Bahkan banyak lukisan yang dibuangnya sendiri, karena ia merasa karyanya tidak memenuhi kreteria.

2. Falsafah wirausaha

Sebagai bagian dari kekhasan wirausaha, berikut ini dikemukakan falsafah dari profil falsafah wirausaha yaitu :

* Untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam hidup harus banyak belajar tentang dirinya sendiri.
* Kegagalan usaha harus diterma sebagai pengalaman.
* Kekuatan berusaha datangnya dari tindakannya sendiri bukan dari tindakan orang lain.
* Risiko kegagalan selalu ada, tapi para wirausahawan harus menerimanya dan bertanggung jawab.
* Adanya keberhasilan berusaha, setelah mengalami kegagalan.
* Wirausahawan yang menghindari risiko rendah tidak ada tantangan dan menjauhi risiko tinggi karena ingin berhasil.
* Harta terbesar untuk mempertahankan kemampuan wirausahawan adalah adanya sikap positif.
* Prestasi total sebuah bisnis, terutama ditentukan oleh sikap dan tindakan wirausahawan.
* Kejarlah tujuan-tujuan yang berhubungan dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya.
* Terimalah apa adanya dan kurangilah kelemahan-kelamahan diri sendiri.

sumber : http://elearning.smkn1trucuk.sch.id/sikap_mental_wirausaha.html

Pengertian Kewirausahaan

Istilah kewirausahaan berasal dari kata wirausaha. Kata wirausaha merupakan gabungan dua kata yang menjadi satu yaitu kata wira dan usaha. Wira artinya pahlawan, laki-laki, sifat jantan, perwira. Usaha artinya kegiatan dengan mengerahkan tenaga, pikiran, atau badan untuk mencapai suatu maksud. Usaha juga berarti pekerjaan (perbuatan, prakarsa, ikhtiar, daya upaya) untuk mencapai sesuatu. Usaha dibidang perdagangan (dengan maksud mencari keuntungan) berarti perdagangan, perusahaan. Dalam bahasa Inggris istilah wirausaha dikenal dengan istilah entrepreneur (lihat Kamus Dagang, Savary – 1723).

Pada mulanya enterpreneur atau wirausaha diartikan sebagai orang yang membeli barang dengan harga pasti, meskipun orang itu belum mengetahui berapa harga barang (atau guna ekonomi) itu akan dijual. Disamping itu, ada pula yang mengartikan wirausaha sebagai berikut :

· sebagai orang yang berani menanggung resiko

· sebagai orang yang memobilisasi dan mengalokasikan modal

· sebagai orang yang menciptakan barang baru.

· sebagai orang yang mengurus perusahaan.


Dalam perkembangannya istilah entrepreneur atau wirausaha didefinisikan sebagai orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dan tindakan yang tepat guna memastikan sukses.

Selasa, 01 November 2011

Konsep Dasar Kewirausahaan

Fenomena menyedihkan yang terjadi sekarang ini adalah banyaknya pengangguran. Masalah tersebut juga merupakan masalah negara yang cukup pelik tentunya. Lulusan sekolah bahkan sarjana bertambah setiap harinya, namun lapangan pekerjaan tidak cukup untuk menyediakan tempat untuk bekerja. Kecenderungan untuk bekerja menjadi pegawai ataupun bekerja di sektor pemerintahan masih tergolong tinggi. Oleh sebab itu, perlu adanya keberanian untuk membuka usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Usaha tersebut juga akan membantu menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain, sehingga pengetahuan dan pemahaman tentang kewirausahaanlah yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global masa kini.

Kewirausahaan memiliki makna yang cukup luas. Intinya adalah berbisnis. Namun, berbagai pandangan bermunculan dengan mengaitkan kewirausahaan sebagai suatu kerja keras, menggabungkan berbagai ide, bermain dengan perkembangan pasar, dan banyak yang lainnya. Akan tetapi, hal terpenting dari kewirausahaan itu sendiri adalah sebuah inovasi. Inovasi tersebut dapat berwujud proses ataupun produk. Sesuatu yang disebut sebagai inovasi tersebut adalah hal yang baru yang muncul, entah itu merupakan murni karya yang baru ataupun penggabungan dan perbaikan dari ide-ide atau karya-karya yang sudah ada sebelumnya. Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara mandiri atau individu, kelompok kerja, ataupun dalam suatu organisasi dan perusahaan.

Beberapa sumber peluang inovasi adalah:

1. Hal-hal yag tidak terduga
2. Keganjilan
3. Proses
4. Perubahan
5. Pengetahuan baru

- "Lima Konsep Kewirausaahan", http://www.slideshare.net/dhimasln/5-konsep-kewirausahaan-rev-presentation (1 September 2010).

Inovasi juga perlu dilandasi dengan berapa prinsip, yaitu:

1. Dimulai dengan analisis peluang
2. Bersifat konseptual dan perseptual
3. Sederhana dan terpusat
4. Mulai dengan yang kecil
5. Ditujukan untuk menjadi leader

- "Lima Konsep Kewirausaahan", http://www.slideshare.net/dhimasln/5-konsep-kewirausahaan-rev-presentation (1 September 2010).

Agar dapat sukses dalam berwirausaha, tentu saja seorang pengusaha harus memperhatikan aspek-aspek kewirausahaan itu sendiri. Ada beberapa aspek yang berpengaruh dalam kewirausahaan, diantaranya:

1. Pentingnya mendapatkan ide untuk sebuah usaha
2. Bagaimana mendapatkan ide
3. Mengidentifikasi perdagangan yang tepat
4. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih bisnis
5. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan ketika memutuskan untuk memulai suatu usaha
6. Fungsi dari sebuah usaha

- Small-scale Enterprise for Neo-literates through CLCs, "Concepts of Entrepreneurship", http://scele.ui.ac.id/file.php/379/Concepts_of_Entrepreneurship.pdf (1 September 2010).
Hal-hal tersebut di dalamnya meliputi SDM, pembiayaan, organisasi, hingga pemasaran.

Ada beberapa jenis kewirausahaan menurut Williamson, yaitu:

1. Innovating Entrepreneurship (bereksperimentasi secara agresif)
2. Imitative Entrepreneurship (meniru dari Innoveting Entrepreneurship yang berhasil)
3. Fabian Entrepreneurship (berhati-hati dan skeptikal, peniruan sangat jelas)
4. Drone Entrepreneurship (menolak untuk memanfaatkan peluang)

- "PENDAHULUAN: KEWIRAUSAHAAN", http://scele.ui.ac.id/file.php/379/Pengantar_Kewirausahaan.PDF (1 September 2010).

Kata wirausahawan pun memiliki banyak definisi dari berbagai pandangan. Ada yang mendefinisikan bahwa wirausahawan adalah orang yang bekerja untuk dirinya sendiri, tidak menjadi pegawai orang lain, dan tidak terikat pada suatu lembaga. Namun, ada juga yang berpikir lebih luas bahwa seorang wirausahawan adalah orang yang menciptakan perubahan, berbeda dari kebanyakan orang, dan biasanya orang tersebut hanya segelintir kecil dari suatu komunitas. Seorang wirausahawan selalu mengembangkan ide-idenya untuk membuat suatu inovasi, kreatif, bisa mengatur dan mengorganisasikan orang banyak, pantang menyerah, mandiri, memikirkan dan berani mengambil risiko dan mau bersusah payah awalnya. Maka tak jarang pengusaha-pengusaha sukses sekarang ini dulunya sangat sederhana dan bukanlah seorang yang hebat. Satu hal yang juga menjadi ciri seorang wirausahawan adalah memegang teguh moto "dengan modal sekecil-kecilnya, diperoleh untung sebesar-besarnya".

Kata wirausahawan atau entrepreneur berasal dari Bahasa Perancis entreprendre yang artinya melakukan dan dalam hal ini adalah melakukan bisnis.
- Quickmba.com, "A Definition of Entrepreneurship", http://www.quickmba.com/entre/definition/ (31 Agustus 2010).

Beberapa definisi:

* Dalam The Merriam-Webster Dictionary disebutkan bahwa wirausahawan adalah orang yang mengatur, mengelola, dan menanggung risiko sebuah bisnis.
* Joseph Schumpeter, ekonom Austria berpendapat bahwa kewirausahaan ditekankan pada inovasi, seperti:

1. Produk baru
2. Metode produksi baru
3. Pasar baru
4. Bentuk organisasi baru

- Quickmba.com, "A Definition of Entrepreneurship", http://www.quickmba.com/entre/definition/ (31 Agustus 2010).

Menurut Masykur W., seorang wirausahawan yang baik memiliki beberapa karasteristik, diantaranya:

1. Keinginan untuk berprestasi
2. Keinginan untuk bertanggung jawab
3. Preferensi kepada resiko menengah
4. Persepsi kepada kemungkinan berhasil
5. Rangsangan untuk umpan balik
6. Aktivitas energik
7. Orientasi ke masa depan
8. Keterampilan dalam pengorganisasian
9. Sikap terhadap uang

- "PENDAHULUAN: KEWIRAUSAHAAN", http://scele.ui.ac.id/file.php/379/Pengantar_Kewirausahaan.PDF (1 September 2010).

Wirausahawan biasa disebut juga pengusaha. Seringkali istilah pengusaha dan pemilik bisnis kecil dianggap sama atau tidak jauh berbeda. Keduanya memang sama-sama bergerak dalam dunia bisnis dengan usaha pribadi. Namun, jika ditelaah lebih dalam lagi, sesungguhnya terdapat beberapa perbedaan antara kedua istilah tersebut. Pandangan awam masyarakat mungkin melihat bahwa pemilik bisnis kecil lebih terkesan tradisional. Selain hal tersebut, perbedaan-perbedaan yang mendasar adalah:

1. Pengusaha dapat menciptakan kekayaan dan keuntungan yang nilainya jauh lebih besar.
2. Pengusaha memerlukan waktu yang lebih singkat untuk memperoleh kekayaan dan keuntungan.
3. Risiko usaha seorang pengusaha lebih besar.
4. Pengusaha biasanya melakukan inovasi-inovasi yang lebih baik.

- Quickmba.com, "A Definition of Entrepreneurship", http://www.quickmba.com/entre/definition/ (1 September 2010).

Proses melakukan suatu kewirausahaan memiliki tahapan-tahapan yang sistematis untuk mendukung sebuah kesuksesan. Tahap yang paling utama adalah menemukan suatu inovasi. Melihat peluang kemudian mendapatkan sebuah ide untuk menciptakan sesuatu. Setelah itu, ada pemicu untuk memulai usaha yang telah direncanakan. Ketika pemodalan, SDM, bahan baku, dan lain-lain siap, maka usaha dapat dimulai. Usaha yang telah dimulai itu pun harus dipertahankan dengan melakukan inovasi-inovasi yang lebih baik lagi, sehingga dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi.

Menjadi seorang wirausahawan jelas berbeda dengan bekerja sebagai seorang pegawai. Bagi orang yang tidak suka mengambil risiko, pilihan untuk berkarier lebih cenderung menjadi pegawai karena sudah jelas apa yang dikerjakan dan apa hasil yang didapatkan. Namun, tidak ada kesempatan untuk lebih mengembangkan diri, terutama pemikiran-pemikiran untuk menciptakan suatu inovasi. Berbeda ketika seseorang memutuskan untuk berwirausaha. Semua ide dan inovasi yang ada di dalam pikiran dapat diwujudkan dalam bentuk usaha yang dibangun sendiri. Selain itu, usaha yang dibangun juga membantu menyediakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Namun, risiko-risiko yang mungkin akan diterima juga ada, misalnya mulai dari jumlah pendapatan yang belum pasti hingga risiko kehilangan modal atau aset. Itulah mengapa, salah satu modal yang diperlukan dalam berwirausaha adalah kepercayaan diri. Selain itu, keberanian dalam mengambil risiko juga harus dimiliki oleh setiap wirausahawan.


Referensi:

A Definition of Entrepreneurship. http://www.quickmba.com/entre/definition/. diakses 31 Agustus 2010.

KONSEP DAN KARASTERISTIK KEWIRAUSAHAAN. http://scele.ui.ac.id/file.php/379/Kewirausahaan.PDF. diakses 2 September 2010.
Lima Konsep Kewirausaahan. 2008. http://www.slideshare.net/dhimasln/5-konsep-kewirausahaan-rev-presentation. diakses 1 September 2010.

PENDAHULUAN: KEWIRAUSAHAAN. http://scele.ui.ac.id/file.php/379/Pengantar_Kewirausahaan.PDF. diakses 1 September 2010.

Small-scale Enterprise for Neo-literates through CLCs. http://scele.ui.ac.id/file.php/379/Concepts_of_Entrepreneurship.pdf. diakses 1 September 2010.

What Is An Entrepreneur? A Definition of Entrepreneurship. 2008. http://www.morebusiness.com/business-entrepreneurship. diakses 31 Agustus 2010.