Tampilkan postingan dengan label Psikologi Konseling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Konseling. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Konseling Kelompok


 Konseling Kelompok
         Konseling kelompok memiliki tujuan preventif & kuratif
         Konseling kelompok seringkali berorientasi masalah/topik, dengan isi dan tujuan ditentukan oleh anggota
         Peran konselor adalah memfasilitasi interaksi diantara anggota, membantu proses saling belajar satu anggota dengan lainnya, membantu anggota mengembangkan tujuan pribadi, dan mendorong anggota untuk menerjemahkan pemahaman mereka ke dalam rencana konkrit yang melibatkan perilaku yang meluas di luar kelompok
         Konselor memainkan peran dengan mengajari anggota untuk berfokus pd here-and-now dan mengidentifikasi hal-hal yang ingin digali di dalam kelompok

Persamaan dgn konseling individual:
  1. Tujuan: self integration, self direction, responsibility
  2. Konselor menciptakan situasi penerimaan.
  3. Klien dibantu mencermati dan peka terhadap perasaan dan sikapnya
  4. Menjamin privasi dan kerahasiaan klien

Perbedaan :

Ø      Insight bahwa tidak hanya klien yang mengalami masalah itu lebih mudah
Ø      Anggota konseling tidak hanya menerima bantuan tapi juga membantu orang lain.
Ø      Efektivitas konseling tergantung kohesivitas kelompok
Ø      Tugas konselor di tahap awal lebih berat karena harus memenuhi tuntutan dan memuaskan banyak orang dalam satu waktu

Nilai Lebih Konseling Kelompok
Klien belajar:
v     Memahami orang lain dan cara pandangnya
v     Mengembangkan penghargaan yang lebih dalam pada orla, terutama yang berbeda dengan dirinya
v     Mencapai ketrampilan sosial yang lebih besar dengan peer group
v     Berbagi dengan orang lain
v     Memperjelas masalah, pikiran, nilai dan ide melalui diskusi dengan oral
v     Menyediakan empati dan dukungan yang diperlukan untuk menciptakan suasana kepercayaan yang dapat menuntun pada pengungkapan dan penggalian.
v     Anggota kelompok dibantu utk mengembangkan keterampilan yang sudah dimiliki dalam mengatasi masalah interpersonal sehingga konseli diharapkan akan dapat mengatasi masalahnya di kemudian hari

 Proses Konseling Kelompok :

A.Tahap pembentukan kelompok:
Pemilihan anggota
Ø      Tujuan: agar tidak ada anggota yang mundur di tengah jalan
Ø      Syarat: memiliki kesamaan tema dan taraf permasalahan, tujuan, usia/kematangan
Ø      Catatan: orang yang terlalu agresif, pemalu dan memiliki gangguan penyesuaian diri berat tidak dapat dimasukkan kelompok
Ø      Besarnya kelompok: 6-12 orang/ klp
Ø      Rancangan frekuensi pertemuan: 1-2 kali seminggu
Ø      Lama sesi: anak F 30 -45 menit, remaja & dewasa F 90 menit
Ø      Lama terapi: minimal 10 kali pertemuan
Ø      Setting: sesuai jumlah anggota (tidak terlalu padat, tidak terlalu kosong)
B. Tahap involvement
Ø      Mempersiapkan anggota: perkenalan, interview awal
Ø      Konselor menjelaskan aturan main agar kelompok dapat berfungsi baik
Ø      Menentukan apakah kelompok bersifat terbuka/tertutup dan apakah keanggotaannya bersifat sukarela/ terpaksa
C.Tahap Transisi (transition stage):
merupakan tahap yang penuh konflik karena masing-masing klien masih menyesuaikan diri dengan anggota lainnya
D.Tahap terapi (working stage):
kelompok mulai kohesif, kerjasama dapat dilakukan, masing-masing anggota sudah dapat memahami/ berempati pada anggota lain
E.Tahap akhir (ending stage):
dilakukan jika semua masalah telah selesai


Kenseling pada kelompok khusus :
Ø      Konseling kelompok untuk anak-anak
Ø      Konseling kelompok remaja
Ø      Konseling kelompok mahasiswa
Ø      Konseling kelompok lanjut usia

Konseling kelompok untuk anak-anak
         Dapat bertujaun untuk preventif atau kuratif
         Di sekolah, konseling kelompok diberikan untuk anak-anak yang menunjukkan perilaku tertentu, mis: berkelahi berlebihan, tidak mampu menjalin hubungan dengan teman, atau diabaikan.
         Anak-anak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan perasaan mereka dan masalah yang mereka hadapi
         Mengidentifikasi anak yg memiliki gangguan perilaku atau emosi sangat penting.

 Konseling kelompok remaja
Ø      Sangat tepat diberikan pada remaja karena memberikan kesempatan untuk mengekspresikan konflik-konflik perasaan mereka, menggali keraguan diri/self-doubt, dan menyadari bahwa anggota-anggota saling berbagi perhatian diantara mereka
Ø      Anggota memungkinkan remaja untuk menanyakan secara terbuka nilai-nilai mereka dan memodifikasi nilai-nilai yang perlu diubah
Ø      Remaja belajar berkomunikasi dengan teman-teman mereka, mereka mengambil keuntungan dari modelling yang disediakan oleh konselor, dan menguji keterbatasan mereka
Ø      Memberikan kesempatan kepada anggota untuk saling bertumbuh
Ø      Anggota dapat mengekspresikan perhatian mereka dan didengarkan, mereka dapat membantu satu dengan lainnya menuju pemahaman diri dan penerimaan diri

Konseling kelompok mahasiswa
         Pada saat memasuki masa kuliah, remaja terpreokupasi dengan keinginan untuk mengembangkan intelektualitas, mengabaikan pertumbuhan emosional dan sosial
         Tujuan utama dari konseling kelompok mahasiswa adalah menyediakan anggota kesempatan untuk bertumbuh, mengambil keputusan karir, hubungan interpersonal, masalah identitas, rencana pendidikan, perasaan terisolasi, dll yg terkait untuk menjadi individu yang mandiri.

Konseling kelompok lanjut usia
         Muncul perasaan tidak produktif, tidak dibutuhkan & tidak diinginkan pada masa tua à melihat tidak adanya lagi harapan, dibiarkan sendirian, dan tidak berguna
         Tujuan konseling kelompok : mendapatkan kembali integritas & penghargaan diri à membantu anggota keluar dari isolasi dan menawarkan dukungan yang diperlukan untuk menemukan makna dalam kehidupannya sehingga mereka dapat hidup sepenuhnya dan tidak hanya sekedar ada

Contoh Konseling Kelompok
Ø      Di RSJ, konselor diminta untuk mendesain dan memimpin kelompok untuk konseli dengan berbagai macam permasalahan (untuk yang ingin meninggalkan RS & kembali memasuki masyarakat, atau juga untuk keluarga pasien)
- Kelompok vokasional, kelompok pelatihan asertif, kelompok duka cita, kelompok rekreasional
         Di pusat kesehatan mental masyarakat (community mental health center), pusat konseling universitas, atau klinik pribadi, konselor diharapkan untuk memberikan konseling kelompok dlm setting yg beragam (usia, masalah, SES, tingkat pendidikan, etnis, latar belakang budaya)
à    Konseling kelompok untuk wanita, pengembangan kesadaran untuk pria, psikoedukasi untuk ortu, ketergantungan alkohol untuk anak/pasien kanker/gangguan makan, konseling untuk kelompok dukungan HIV/AIDS, kelompok orang lanjut usia.
à    Di sekolah, konselor akan diminta utk membentuk kelompok eksplorasi karir, self-esteem, anak korban perceraian, keterampilan interpersonal, dan pertumbuhan pribadi
à    Di sekolah menengah, konseling kelompok ditujukan pada siswa-siswa yang menjalani rehabilitasi ketergantungan obat, korban kekerasan, atau melewati krisis tertentu.














Komunikasi dalam Konseling

Hubungan konseling dimaknai sebagai hubungan yang membantu (helping relationship) antara konselor sebagai professional dengan konseli, bertujuan untuk memudahkan perkembangan individu Pada hubungan konseling, ketulusan, kejujuran, saling menghargai dan keutuhan konselor dan konseli amat penting.

Hubungan konseling terjadi atas persetujuan bersama, disertai kerjasama, dan konselor harus dapat menunjukkan sebagai pribadi yang mudah didekati, mudah menerima orang lain, hangat, menampilkan keaslian diri dan dapat dipercaya.

Hubungan konseling pada prinsipnya ditekankan bagaimana konselor mampu mengembangkan hubungan konseling yang ditandai keakraban, keharmonisan, kesesuaian, kecocokkan, dan saling tarik menarik (terbentuk rapport), melalui komunikasi verbal dan non verbal.

Untuk itu hal yang perlu dikuasai konselor adalah menguasai keterampilan dalam merespon konseli dengan teknik komunikasi yang benar dan sesuai dengan keadaan konseli saat itu. Respon yang baik adalah pernyataan-pernyataan verbal dan non verbal yang dapat menyentuh, merangsang, dan mendorong keterbukaan konseli dalam menyatakan pikiran, perasaan dan pengalamannya.

Keterampilan Komunikasi Konseling :

Beberapa keterampilan merespon yang harus dikuasai konselor baik verbal maupun nonverbal dalam komunikasi konseling akan diuraikan berikut ini.

1. Perilaku attending
Perilaku attending adalah perilaku penampilan yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan yang menghampiri konseli. Perilaku attending yang baik, merupakan kombinasi ketiga komponen ini, sehingga akan memudahkan konselor untuk membuat konseli terlibat pembicaraan dan terbuka. Attending yang baik akan meningkatkan harga diri konseli, menciptakan suasana aman, memudahkan ekspresi perasaan konseli secara bebas.
Perilaku penampilan (attending) yang baik :
Muka : ekspresi wajah tenang, senyum, ceria
Kepala : melakukan anggukan jika setuju
Posisi tubuh : agak condong ke arah konseli, jarak perlu diperhatikan tidak terlalu jauh/dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan
Tangan : variasi gerakan tangan sesuai dengan ucapan, spontan dan berubah-ubah untuk menekankan ucapan atau sebagai isyarat
Mendengarkan aktif penuh perhatian, menunggu ucapan konseli hingga selesai, tidak memotong pembicaraan konseli, diam, perhatian pada lawan bicara.

2. Bertanya
Pada proses konseling kebanyakan konselor kesulitan untuk membuka percakapan dengan konseli. Untuk memudahkan membuka percakapan, maka konselor harus memiliki keterampilan bertanya melalui pertanyaan terbuka yang memungkinkan munculnya pernyataan-pernyataan baru dari konseli, melalui kalimat Apa sebabnya dan Mengapa sampai hal itu bisa terjadi , Bagaimana perasaan anda saat itu , Dapatkah anda menjelaskan kejadian pada saat itu . Pertanyaan konselor dapat juga bersifat tertutup untuk menjernihkan atau memperjelas informasi, memfokuskan pembicaraan konseli, memperoleh informasi tertentu. Pertanyaan tertutup dapat dilakukan melalui kalimat Anda tinggal dimana , Saat ini IP anda mencapai berapa

3. Dorongan Minimal (minimal encouragement)
Upaya utama konselor adalah agar konseli selalu terlibat dalam pembicaraan dan dirinya terbuka, sehingga pembicaraan mencapai tujuan. Dorongan minimal adalah suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikatakan konseli. Respon yang diberikan oleh konselor sesedikit mungkin dengan tujuan memberikan kesempatan kepada konseli berbicara lebih lanjut. Misalnya dengan mengatakan terus , lalu , ya dan ., hm , dapat juga dengan isyarat anggukan. Dorongan minimal dilakukan secara selektif, pada saat konseli kelihatan akan mengurangi atau menghentikan pembicaraan, atau kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan.

4. Klarifikasi,
Klarifikasi, adalah ketrampilan untuk menjernihkan ucapan-ucapan konseli yang kurang jelas, samar-samar dan agak meragukan.
Tujuan :
Memeriksa kembali isi pesan konseli
Memperjelas pesan konseli
Memeriksa ketepatan pesan konseli dengan persepsi konselor
Contoh :
Konselor: Apakah yang kamu maksudkan . ( isi pesan konseli)
Apakah yang kamu katakan bahwa . (isi pesan) .

-->
5. Refleksi perasaan,
Refleksi perasaan merupakan upaya konselor memantulkan kembali perasaan, pikiran, dan pengalaman yang diungkapkan oleh konseli melalui pernyataan, intonasi dan sikap konseli.
Ada tiga jenis refleksi, yaitu ; refleksi perasaan, refleksi pikiran, dan refleksi pengalaman.
Tujuan :
Konseli dapat mengungkapkan diri secara luas.
Bertanya untuk membuka percakapan
Konselor dapat mendalami masalah yang dialami oleh konseli
Pertanyaan-pertanyaan terbuka yang dapat digunakan dimulai dengan kata-kata: Apakah , Bagaimana , Dimana , Siapa , Bolehkah
Contoh :
Refleksi Perasaan
Kamu merasa bingung menghadapi situasi seperti sekarang ini?
Saat ini kamu sedang kecewa karena hasil studi semester ini kurang memuaskan
Refleksi Pikiran
Adakah yang kamu maksudkan adalah ..
Nampaknya kamu akan mengatakan
Refleksi Pengalaman
Apakah yang anda maksudkan suatu peristiwa .
Nampaknya pada saat itu anda berada pada situasi

6. Menangkap pesan utama (Paraphrasing)
Konselor perlu menangkap pesan utama dari ide, perasaan, dan pengalaman yang dikemukakan
konseli. Kemudian menyampaikan kembali kepada konseli dengan bahasa sederhana dan mudah
difahami konseli. Hal ini perlu karena seringkali konseli mengungkapkan perasaan, pikiran, dan
pengalamannya berputar-putar. Biasanya digunakan kata awal adakah....... , dan
nampaknya.........
Contoh:
Ki: Biasanya dia selalu senang dengan saya, namun tiba-tiba dia memusuhi saya
Ko: Adakah yang anda katakan bahwa perilakunya tidak konsisten?
Ki: Itu suatu pekerjaan yang baik. Akan tetapi saya tidak akan mengambilnya. Saya tidak tahu
mengapa?
Ko: Nampaknya anda masih ragu


7. Empati, kemampuan konselor untuk memahami permasalahan konseli, melihat melalui sudut pandang konseli, peka terhadap perasaan-perasaan konseli, merasa dan berfikir bersama konseli dan bukan untuk atau tentang konseli, sehingga konselor mengetahui bagaimana konseli merasakan perasaannya. Selain itu, konselor dapat memahami permasalahan konseli tidak hanya pada permukaan, tetapi lebih dalam. Empati dilakukan bersamaan dengan perilaku attending.
Tujuan :
Mendorong konseli mengekpresikan perasaan positif maupun perasaan negatif tentang suatu hal.
Membantu konseli untuk lebih merasakan perasaannya secara mendalam agar lebih sadar akan masalah yang belum terselesaikan. Membantu konseli untuk mengenali perasaan-perasaan yang mendominasi mereka
Konselor menggunakan pertanyaan terbuka, sehingga memberi peluang kepada konseli untuk memberikan jawaban yang panjang dan luas. Untuk melakukan empati, konselor harus mampu; mengosongkan perasaan dan pikiran egoistic, memasuki dunia dalam konseli, melakukan empati primer dengan mengatakan
Contoh :
Saya dapat memahami pikiranmu
Saya merasakan kepedihan kamu .
Saya mengerti keinginanmu
Kemudian melakukan empati tingkat tinggi, dengan mengatakan
Contoh:
Setelah mendengar ungkapanmu, saya menjadi mengerti mengapa kamu merasa kecewa,
dan saya ikut terluka dengan pengalamanmu .

8. Menyimpulkan sementara (Summarization)
Hal ini dilakukan konselor bersama konseli setiap periode waktu tertentu, agar diperoleh pemahaman terhadap apa yang sudah dibicarakan.
Tujuan:
Memberi kesempatan konseli untuk mengambil feedback dari hal yg sudah dibicarakan
Menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap
Meningkatkan kualitas diskusi
Mempertajam atau memperjelas fokus wawancara konseling

9. Mendekatkan diri (disclosing self)
Konselor harus memiliki kemampuan membuka informasi-informasi personal dengan tujuan membuat konseli menjadi lebih terbuka.Kegiatan ini dilakukan biasanya pada saat awal pertemuan konseling, untuk menciptakan kenyamanan, perasaan aman, perasaan diterima, dan menumbuhkan kesediaan konseli untuk mengikuti konseling.


10. Memimpin (leading)
Konselor harus mampu memimpin arah pembicaraan sehingga mencapai tujuan.
Tujuan :
Konseli tidak menyimpang dari fokus pembicaraan
Arah pembicaraan terfokus pada tujuan konseling
Contoh:
Saat ini perhatian anda tertuju pada kuliah sambil bekerja, mungkin anda tinggal merinci apa saja yang menjadi perhatian itu. Mengenai pacaran apakah termasuk perhatian anda juga?


11. Memudahkan (facilitating)
Adalah suatu ketrampilan membuka komunikasi agar konseli mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan permasalahannya secara bebas dan memberdayakan konseli untuk mencapai tujuan-tujuannya, dengan cara a.l.
Membantu konseli untuk bersikap terbuka terhadap konflik
Membantu konseli untuk mengatasi hambatan berkomunikasi langsung
Menciptakan situasi yang aman dan memberikan keberanian bagi konseli untuk mengambil resiko
Contoh :
Konselor :
Saya yakin kamu akan berbicara apa adanya karena saya akan mendengarkan sebaik-baiknya. Saya mengerti perasaan saudara, saya yakin bahwa jika kita berdiskusi tentu masalah saudara akan mudah diatasi


12. Pemberian Informasi (Information Giving),
Dilakukan oleh konselor pada saat konseli membutuhkan informasi untuk memperjelas pengetahuan dan pemahamannya tentang berbagai hal. Baik itu informasi mengenai tujuan, proses dan kode etik proses konseling yang akan diikuti konseli, maupun informasi lainnya.Jika konselor kurang mengusai informasi yang dibutuhkan konseli, maka dapat diarahkan agar konseli mencari langsung kepada sumbernya.
Contoh:
Konselor:
Mengenai informasi persyaratan masuk sekolah tinggi statistik, saya sama sekali tidak mengusainya. Karena itu saya sarankan anda langsung saja ke Biro Pusat Statistik atau ke sekolah tinggi statistik yang bersangkutan


13. Konfrontasi (Confrontation),
teknik komunikasi yang menantang konseli, karena adanya ketidaksesuaian yang terlihat dalam pernyataan dan tingkah laku konseli, karena terjadi inkonsistensi antara perkataan dan perbuatan, ide awal dengan ide berikutnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar konfrontasi dapat terlaksana secara efektif:
Adanya kesenjangan yang diungkapkan konseli.
Konselor telah memahami masalah konseli secara mendalam
Telah terbinanya keakraban antara konselor dan konseli secara mendalam
Bertujuan meredakan ketegangan yang ada dalam bathin konseli
Mendorong konseli mengadakan penelitian secara jujur
Meningkatkan potensi konseli
Membawa konseli pada kesadaran adanya diskrepansi, konflik atau kontradiksi dalam dirinya
Disampaikan dengan bahasa yang lugas; ringkas, tepat, jelas mudah dipahami konseli.
Tidak menyalahkan atau menilai, disertai perilaku attending, disampaikan pada waktu yang tepat.
Contoh :
Konselor :
Kamu mengatakan bahwa kamu rela tetapi wajah kamu terlihat kecewa
Kamu mengatakan sudah memaafkannya, tetapi kamu masih mengungkapkan kekesalan

14. Memberikan penguatan
Konselor merangsang konseli untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkah laku yang positif dengan cara memberi pujian, penghargaan dan mendengarkan pembicaraan konseli dengan sungguh-sungguh.
Contoh :
Konselor : Saya kagum atas perjuangan saudara dalam mengatasi persoalan-persoalan hidup selama ini


15. Diam
Diam adalah amat penting. Diam bukan berarti tidak ada komunikasi, akan tetapi melakukan komunikasi non verbal. Diam yang paling ideal antara 5 10 detik dan selebihnya diganti dengan dorongan minimal.
Tujuan:
Menunggu konseli berpikir
Proses jika konseli bicara berputar-putar atau berbelit-belit
Menunjang perilaku attending dan empati sehingga konseli bebas berbicara.
Contoh:
Ki: Saya tidak senang dengan perilaku dosen itu......dan saya .....(berpikir)
Ko: ..............Diam
Ki: Saya harus bagaimana..........saya tidak tahu......
Ko: ..............Diam


16. Menyimpulkan ( Influencing Summarization)
Pada akhir pelayanan konseling, konselor dapat membantu konseli untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut Bagaimana keadaan konseli saat ini terutama menyangkut tema tertentu. Memantapkan rencana konseli yang akan datang. Pokok-pokok yang akan dibicarakan pada sesi berikut.
Contoh :
Konselor : Apakah sudah dapat kita buat kesimpulan, bahwa..
Coba kita rumuskan bersama mengenai hal-hal yang telah kita bicarakan

 Penggunaan teknik komunikasi dalam tahap konseling :

Penggunaan teknik komunikasi dalam tahap konseling. Proses konseling terdiri atas tiga tahapan, yaitu:
(1) tahap awal atau tahap mendefinisikanmasalah,
(2) tahap pertengahan disebut juga tahap kerja,
dan (3) tahap akhir atau tahap perubahan dan tindakan (action).
Setiap tahapan konseling memiliki teknik-teknik komunikasi tertentu.










































Jumat, 11 Mei 2012

KONSELING KELUARGA

A.Pengertian Konseling Keluarga

Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang pembimbing (konselor) kepada seseorang konseli atau sekelompok konseli (klien, terbimbing, seseorang yang memiliki problem) untuk mengatasi problemnya dengan jalan wawancara dengan maksud agar klien atau sekelompok klien tersebut mengerti lebih jelas tentang problemnya sendiri dan memecahkan problemnya sendiri sesuai dengan kemampuannya dengan mempelajari saran-saran yang diterima dari Konselor. Sedangkan arti dari keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga. Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi yang khusus. Konseling keluarga ini secara memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga.
Menurut D. Stanton konseling keluarga dapat dikatakan sebagai konselor terutama konselor non keluarga, yaitu konseling keluarga sebagai (1) sebuah modalitas yaitu klien adalah anggota dari suatu kelompok, yang (2) dalam proses konseling melibatkan keluarga inti atau pasangan ( Capuzzi, 1991 ) Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari anak (klien) baik dalam melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system, permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Pada mulanya konseling keluarga terutama diarahkan untuk membantu anak agar dapat beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui perbaikan lingkungan keluarganya (Brammer dan Shostrom,1982). Yang menjadi klien adalah orang yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga. Sedangkan masalah yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa yang akan dikerjakan agar tetap survive di dalam sistem keluarganya.
Pada masa lalu, menurut Moursund (1990), konseling keluarga terfokus pada salah satu atau dua hal, yaitu (1) keluarga terfokus pada anak yang mengalami bantuan yang berat seperti gangguan perkembangan dan skizofrenia, yang menunjukan jelas-jelas mengalami gangguan; dan
(2) keluarga yang salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki kemampuan, menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam member kelola anggota keluarga, dan biasanya memiliki sebagian masalah. Anak di dalam suatu keluarga sering kali mengalami masalah dan berada dalam kondisi yang tidak berdaya di bawah tekanan dan kekuasaan orang tua. Permasalahan anak adakalanya diketahui oleh orang tua dan sering kali tidak diketahui orang tua. Permasalahan yang diketahui orang tua jika fungsi-fungsi psikososial dan pendidikannya terganggu orang tua akan mengantarkan anaknya ke konselor jika mereka memahami bahwa anaknya sedang mengalami gangguan yang berat. Karena itu konseling keluarga lebih banyak memberikan pelayanan terhadap keluarga dengan anak yang mengalami gangguan. Hal kedua berhubungan dengan keadaan orang tua. Banyak dijumpai orang tua tidak berkemampuan dalam mengelola rumah tangganya, menelantarkan kehidupan rumah tangganya sehingga tidak terjadi kondisi yang berkesinambungan dan penuh konflik, atau memberi perlakuan secara salah (ubuse) pada anggota keluarga lain, dan sebagainya merupakan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti dan berkeinginan untuk membangun kehidupan keluarga yanag lebih stabil, mereka membutuhkan konseling. Perkembangan belakangan konseling keluarga tidak hanya menangani dua hal tersebut. Permasalahan lain yang juga ditangani karena anggota keluarga mengalami kondisi yang kurang harmonis di dalam keluarga akibat stressor perubahan-perubahan budaya, cara-cara baru dalam mengatur keluargannya, dan cara menghadapi dan mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan pengalaman dalam penanganan konseling keluarga, masalah yang dihadapi dan dikonsultasikan kepada konselor antara lain: keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orangtua, konflik antar anggota keluarga, perpisahan diantara anggota keluarga karena kerja di luar daerah dan anak yang mengalami kesulitan belajar atau sosialisasi. Berbagai permasalahan-permasalahan keluarga tersebut dapat diselesaikan melalui konseling keluarga. Konseling keluarga menjadi efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut jika semua anggota keluarga bersedia untuk mengubah system keluarganya yang telah ada dengan cara-cara baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah. Sebagaimana di kemukakan di bagian awal, konseling keluarga dalam beberapa hal memiliki keuntungan. Namun demikian konseling keluarga juga memiliki beberapa hambatan dalam pelaksanaannya, dan perlu dipertimbangkan oleh konselor jika bermaksud melakukannya. Hambatan yang dimaksud di antarannya: 1.Tidak semua anggota keluarga bersedia terlibat dalam proses konseling karena mereka menganggap tidak berkepentingan dengan usaha ini, atau karena alasan kesibukan, dan sebagainya; dan
2.Ada anggota keluarga yang merasa kasulitan untuk menyampaikan perasaan dan sikapnya secara terbuka dihadapan anggota keluarga lain, padahal konseling membutuhkan keterbukaan ini dan saling percayaan satu sama lain.

B.Pendekatan Konseling Keluarga Untuk memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah keluarga tersebut, berikut akan dideskripsikan secara singkat beberapa pendekatan konseling keluarga.

Tiga pendekatan konseling keluarga yang akan diuraikan berikut ini, yaitu pendekatan system, conjoint, dan struktural.
1.Pendekatan Sistem Keluarga Murray Bowen merupakan peletek dasar konseling keluarga pendekatan sistem. Menurutnya anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (disfunctining family). Keadaan ini terjadi karena anggota keluarga tidak dapat membebaskan dirinya dari peran dan harapan yang mengatur dalam hubungan mereka. Menurut Bowen, dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama dan kekuatan itu dapat pula membuat anggota keluarga melawan yang mengarah pada individualitas. Sebagian anggota keluarga tidak dapat menghindari sistem keluarga yang emosional yaitu yang mengarahkan anggota keluarganya mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak menghindari dari keadaan yang tidak fungsional itu, dia harus memisahkan diri dari sistem keluarga. Dengan demikian dia harus membuat pilihan berdasarkan rasionalitasnya bukan emosionalnya.
2.Pendekatan Conjoint Sedangkan menurut Sarti (1967) masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga berhubungan dengan harga diri (self-esteem) dan komunikasi. Menurutnya, keluarga adalah fungsi penting bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental. Masalah terjadijika self-esteem yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi yang terjadi di keluarga itu juga tidak baik. Satir mengemukakan pandangannya ini berangkat dari asumsi bahwa anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.
3.Pendekatan Struktural Minuchin (1974) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur kaluarga dan pola transaksi yang dibangunn tidak tepat. Seringkali dalam membangun struktur dan transaksi ini batas-batas antara subsistem dari sistem keluarga itu tidak jelas. Mengubah struktur dalam keluarga berarti menyusun kembali keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai. Berbagai pandangan para ahli tentang keluarga akan memperkaya pemahaman konselor untuk melihat masalah apa yang sedang terjadi, apakah soal struktur, pola komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan sebagainya. Berangkat dari analisis terhadap masalah yang dialami oleh keluarga itu konselor dapat menetapkan strategi yang tepat untuk mambantu keluarga.

C.Tahapan Konselor Keluarga

Tahapan konseling keluarga secara garis besar dikemukakan oleh Crane (1995:231-232) yang mencoba menyusun tahapan konseling keluarga untuk mengatasi anak berperilaku oposisi. Dalam mengatasi problem, Crane menggunakan pendekatan behavioral, yang disebutkan terhadap empat tahap secara berturut-turut sebagai berikut.
1.Orangtua membutuhkan untuk dididik dalam bentuk perilaku-perilaku alternatif. Hal ini dapat dilakukan dengan kombinasi tugas-tugas membaca dan sesi pengajaran.
2.Setelah orang tua membaca tentang prinsip dan atau telah dijelaskan materinya, konselor menunjukan kepada orang tua bagaimana cara mengajarkan kepada anak, sedangkan orang tua melihat bagaimana melakukannya sebagai ganti pembicaraan tentang bagaimana hal inidikerjakan. Secara tipikal, orang tua akan membutuhkan contoh yang menunjukan bagaimana mengkonfrontasikan anak-anak yang beroposisi. Sangat penting menunjukan kepada orang tua yang kesulitan dalam memahami dan menetapkan cara yang tepat dalam memperlakukan anaknya.
3.Selanjutnya orang tua mencoba mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah mereka pelajari menggunakan situasi sessi terapi. Terapis selama ini dapat member koreksi ika dibutuhkan. 4.Setelah terapis memberi contoh kepada orang tua cara menangani anak secara tepat. Setelah mempelajari dalam situasi terapi, orang tua mencoba menerapkannya di rumah. Saat dicoba di rumah, konselor dapat melakukan kunjungan untuk mengamati kemajuan yang dicapai. Permasalahan dan pertanyaan yang dihadapi orang tua dapat ditanyakan pada saat ini. Jika masih diperlukan penjelasan lebih lanjut, terapis dapat memberikan contoh lanjutan di rumah dan observasi orang tua, selanjutnya orang tua mencoba sampai mereka merasa dapat menangani kesulitannya mengatasi persoalan sehubungan dengan masalah anaknya.

D.Peran Konselor Peran konselor dalam membantu klien dalam konseling keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir (Cottone, 1992) di antaranya sebagai berikut.
1.Konselor berperan sebagai “facilitative a comfortable”, membantu klien melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri.
2.Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
3.Berusaha menghilangkan pembelaan diri dan keluarga.
4.Membelajarkan klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan malakukan self-control.
5.Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterpretasi pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota keluarga.
6.Konselor menolak perbuatan penilaian dan pembantu menjadi congruence dalam respon-respon anggota keluarga.

Daftar Pustaka Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang Sayekti Pujosuwarno. 1994. Bimbingan Dan Konseling Keluarga. Menara Mas Offset. Yogyakarta