Selasa, 12 Juni 2012

Deteksi Dini Pada Gangguan Pemusatan Perhatian

Universitas Wisnuwardhana Malang

Abstract: Early detection for problematic children must be done more early, to get help soon for reducing or deleted the problem. For the general people, particularly the parent’s thinks that the problem on the children can be reduce or delete according to the way of the time, together with the age of the children it self. This condition often caused to handle the problematic children can be late, and the problem can be seriously done resting on this children. Basically the problematic children are children whose get the psychological effect. Detection on this effect can be late, because the disorder indication often wrong perception. It can be wrong on diagnosis or wrong to get the value of the disordering. Research shows us that the best value can be getting if the interference and therapy was started between 2-4 years of age. On the nonverbal children, therapy wants to destine for improving the functional communication utility, multi line, and two ways direction (Paul,2001). On the verbal children, therapy wants to destine for improving the vocabulary building and to expand the verbal language communication functional and social communication skill.

Key Words: Deteksi Dini, Gangguan Pemusatan Perhatian.

Ada empat macam gangguan yang sering dipersepsi keliru. Gangguan tersebut adalah:
- Gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH).
Sering disebut Attention Deficit Hyper-aktivity Disorder (ADHD).
- Gangguan Tingkah laku (GTL).
- Autisme Infantil.
- Terlambat Bicara (Keterlambatan Komuni-kasi).

Deteksi dini pada ganguan pemusatan perhatian, dengan harapan untuk meng-hindari atau memperkecil kekeliruan atau kesalahan deteksi. Dalam mendeteksi secara dini, kesulitan yang terjadi oleh karena adanya ke-samaan-ke-samaan disamping juga per-bedaan-perbedaan. Dalam makalah ini disajikan kesamaan dan perbedaan dari gangguan tersebut diatas. Pada umumnya anak-anak dengan ADHD mempunyai pola kompresi anteroposterior dari kranium dengan akibat bahwa cranial Rhythmic Impulse menurun hingga 4 permenit (normal adalah antara 10-15 per menit). ADHD sering disertai dengan gangguan fisik diantaranya hipertelorisme, palatum drum yang tinggi, kuping yang rendah, dan lain sebagainya (Kaplan dan Sadock,1997).

Teknik Diagnosa dan Terapi untuk ADHD dan Autisme
- Metode Palpasi untuk diagnosa kelainan mekanisme kraniosakral dan pencatatan kelainan tersebut di-medical records. Penggunaan pencatatan visual seperti potret atau video camera adalah ideal.
- Koreksi kelainan mekanisme kraoni-sakral yang diketemukan secara teknik manipulasi Osteopati Kra-nium. Proses ini dapat dimonitor dengan melekatkan Demogram pada jari pasien untuk memonitor skin galvanic response. Frekuensi terapi berkisar dari sekali seminggu 4 x seminggu tergantung keadaan klinis.
- Mobilisasi emosi dan katharsis dari trauma dengan metode Somato Emo-tional Realese dimana gerakan pasien ditunjang oleh terapis dan asistennya sambil memonitor CRI se-hingga terjadi stand-still dan emotional relase. Lainnya maupun terapi suportif-eksploratif.
- Penggunaan formula mikroherbal, homeo-pati maupun herbal dan akupunture untuk menunjang pengobatan dan memperkuat serta menormalkan mekanisme kranio-sakral dan bioenergy fileds diantaranya sistem meridian.
- Penggunaan farmakoterapi dibenarkan un-tuk gejala-gejala yang berat diantaranya hiperaktivitas, labilitas, emosi, agresi, self-destruksi, halusinasi, waham, labilitas emosi, dan sebagainya. Sebaiknya peng-gunaan farmakoterapi dihindarkan karena dapat menggangu proses pengobatan mau-pun keefektifan formula mikroherbal, homeopato dan herbal maupun suplemen makanan.
- Penggunaan metode terapi lainnya, psiko-terapi, behavioral analysis, nutri, imulogi, akupuntur, dan lainnya selama tidak mengganggu dan merusak mekanisme kraniosakral dan kemampuan sipasien untuk “self regulation” dan “self healing”.
- Pendidikan keluarga dalam metode kranio-sakral untuk diaplikasikan dirumah apabila perlu untuk menunjang terapi.

Psikologi Klinis Anak dan Pediatri

Dalam latar belakang sejarah psikologi klinis, psikologi klinis berpijak pada jalur akademik dan praktik. Klinik pertama yang didirikan oleh Witmer adalah untuk membantu anak-anak yang mempunyai masalah belajar . sebelum tahun 1990, anak-anak dianggap sama dengan orang dewasa. Klasifikasi gangguan jiwa DSM I dan II tidak membedakan gangguan jiwa untuk dewasa dan anak. Baru setelah tahun 1990-an gangguan jiwa pada anak diperhatikan secara khusus. DSM IV tertera lebih dari 12 jenis gangguan jiwa pada axsis I. Baru itu muncul bidang Clinical Child Psychologi. Bidang ini membahas masalah-masalah psikiatrik pada anak, terutama dalam lingkup praktik pribadi. Bidang ini menggunakan pendekatan psikodinamik. Psikologi klinis-anak ber-kembang spesialis untuk menangani kelainan khusus, misalnya untuk kasus pelecehan seks pada anak, depresi pada anak. Tahun 1966 ada 300 psikolog yang bekerja dalam setting pediatri di ling-kungan rumah sakit, klinik- klinik perkembangan, dan lain-lain. Yang dibantu adalah anak-anak yang tidak me-ngalami gangguan berat namun me-merlukan perhatian dan nasihat yang berkaitan dengan perkembangannya di masa depan. Bidang ini dinamakan Pediatric Psychology. Tahun 1967 ada dua divisi dalam American Psycho-logical Association, divisi 1 dan 2, yang membahas masalah anak-anak, yaitu Clinical Child Psychology dan Pediatric Psychology. Perhatian yang terbesar pada kekhususan psikologi untuk anak berkembang karena beberapa temuan, yaitu:

• bertambah banyaknya kasus psikopatologi anak yakni 22 %.
• banyak gangguan yang terjadi pada anak-anak yang mempunyai konsekuensi serius pada usia dewasa.
• kebanyakan gangguan pada masa dewasa mungkin berasal dari masalah pada masa kanak-kanak yang tidak terdiagnosis.
• perlu dilakukan intervensi untuk mencegah berlanjutnya suatu gangguan pada anak sampai dewasa.

Meskipun penekanan pada Psikologi Klinis-Anak dan Psikologi Pediatri berbeda, tetap terjadi tumpang tindih antara keduanya. Secara umum keduanya mem-perhatikan perspektif perkembangan untuk menentukan ada/tidaknya gangguan. Misalnya, kasus mengompol yang terjadi pada anak 2 tahun akan berbeda dengan anak 12 tahun. Demikian juga perspektif epidemiologis kedua disiplin. Kasus hiperaktif ditemukan lebih banyak pada anak laki-laki, komunitas ter-tentu lebih rentan gangguan dibanding komunitas lain, perilaku anak usia yang sama berubah dari zaman ke zaman. Perlu diperhatikan bahwa perilaku abnormal kadang-kadang situation specific. Misalnya, pemalu hanya dalam lingkungan tertentu tapi tidak di lingkungan lain. Demikian juga mengenai perilaku abnormal seperti mencuri, atau berbohong pada anak merupakan suatu yang lebih dekat dengan situasi daripada dengan adanya suatu gangguan atau sifat tertentu pada anak. Lingkungan anak orang tua, guru kadang memiliki pengetahuan yang tidak cukup, kadang keliru tentang anak. Ini dapat menyebabkan mereka tidak dapat mengatasi ketika anak mengalami masalah. Adanya pengetahuan tentang psikopatologi anak yang ditunjukkan pada DSM IV dapat membantu untuk memahami dan merencanakan treatment pada anak. Psikologi klinis anak dan psikologi pediatri juga membahas hal-hal standar dalam pe-nanganan kasus- kasus seperti masalah ases-men, intervensi, pencegahan dan konsultasi.

GANGGUANPEMUSATAN PERHATIAN (HIPERAKTIVITAS)

Gangguan pemusatan pehatian (hiperaktivitas) disingkat GPP/H adalah gangguan perilaku yang sering terjadi pada anak. Gangguan ini ditandai dengan adanya gejala ketidak-mampuan anak untuk memusatkan per-hatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat buruk atau sangat singkat waktunya di-bandingkan dengan anak-anak lain yang seusianya. Gejala lain yang menyertai adalah adanya tingkah laku yang hiperktif dan tingkah laku yang impulsif. Gangguan ini dapat menimbulkan akibat buruk yang menghambat perkembangan anak, baik dalam perkembangan kog-nitif, emosi, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi. Gangguan ini dapat terjadi sejak dari usia bayi sampai 12 tahun. Sering didapatkan pada anak-anak usia sekolah. Prevalensinya antara 2-5 %, dengan perbandingan anak laki-laki dan perem-puan 3:1 (Aarons dan Gittens, 1996). Gangguan Pemusatan Perhatian/ Hiperaktivitas mempunyai gambaran klinis yang bersifat spektrum, artinya dari gejala yang paling ringan sampai gejala yang paling berat. Demikian pula gambaran klinis yang ditampilkan berbeda-beda untuk tiap anak. Perbedaan ini dapat diakibatkan oleh karena usia anak, usia onset dari gangguan dan juga berat ringannya gangguan.
Pada usia bayi, akan nampak bayi sangat sensitif terhadap suara, cahaya, temperatur dan perubahan lingkungan. Bayi akan menjadi mudah rewel, aktif di tempat tidur, tidurnya sedikit dan sering menangis. Orang tua, terutama ibunya akan mengeluh bahwa bayinya sangat sulit dalam perawatannya (difficult child). Akan tetapi ada pula bayi-bayi yang menampakkan gejala tenang, sulit untuk menyusu, lemah, banyak tidur dan per-kembangannya terlambat.

Pada anak-anak pra sekolah, tampak kurang konsentrasi, aktivitas berlebihan dan tidak dapat diam. Sehingga anak memerlukan pengawasan dari pengasuh atau gurunya yang berlebih dibandingkan anak lain yang normal. Anak tidak mampu untuk menunggu giliran, apabila ada kegiatan yang memerlukan giliran. Anak dalam bermain tidak pernah selesai dengan baik, dan ada kecenderungan untuk ganti-ganti mainan. Emosinya sangat sensitif, sehingga mudah marah dan meledak ke-marahannya. Oleh karena tingkahlakunya yang hiperaktif, maka anak sangat rentan untuk terjadinya kecelakaan. Pada anak usia sekolah, nampak perilaku agresif, khususnya terhadap teman-teman bermainnya. Perilaku menentang terhadap guru dan temannya juga bisa terjadi. Akibatnya, disekolah anak akan mengalami kesulitan dalam belajar dan bergaul dengn teman-teman sebaya.

Pada orang tua sering mengalami kesulitan dalam mengasuh anak dan mengeluhkan tentang anaknya tersebut antara lain:
- Hiperaktivitas.
- Gangguan motorik perseptual.
- Labilitas emosi.
- Kesulitan koordinasi motorik.
- Kurang konsentrasi.
- Impulsivitas.
- Gangguan daya ingat dan cara berpikir.
- Kesulitan belajar, khususnya yang mem-butuhkan konsentrasi yang penuh.
- Terlambat bicara atau kurang pendengaran.

Apabila sebelumnya anak sudah diperiksa oleh dokter (neurologi) akan dilaporkan adanya tanda-tanda neurologi samar, dan disfungsi pada Electro Ecepalo Grafi. Perjalanan dari gangguan ini bisa hilang sendiri sebelum usia 12 tahun. Pada umumnya akan mengakibatkan terjadinya keterlambatan perkembangan anak dalam beberapa aspek perkembangan. Bisa juga gangguan ini me-netap sampai dewasa dengan tetap ada gejala-gejala sisa. Bisa juga merupakan dasar untuk terjadinya gangguan kepribadian anti sosial pada masa dewasa. Oleh karena pada Gangguan Pemusatan Perhatian/ Hiperaktivitas sering terjadi perubahan perilaku, maka diagnosis banding yang paling utama adalah Gangguan Tingkah Laku (conduct disorder). Demikian pula karena sering ada keterlambatan atau gangguan dalam komunikasi maka diagnosis banding yang lain adalah Autisme Infatil (DSM,1994). GANGGUAN TINGKAH LAKU Gangguan Tingkah Laku (GTL) atau kenakalan pada anak mempunyai gam-baran yang mirip dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas, terutama dalam hal penyimpangan perilaku anak. Pada Gangguan Tingkah Laku penyimpangan perilaku tersebut dapat terbentuk :
- Merugikan diri sendiri.
- Merugikan orang lain.
- Dilakukan sendiri.
- Dilakukan berkelompok dengan anak lain.

Penyimpangan perilaku pada Gangguan Tingkah Laku mempunyai jenis-jenis yang tergolong berat, antara lain :
- Mencuri (di luar rumah).
- Merusak barang.
- Berbohong.
- Melarikan diri dari rumah.
- Menganiaya binatang.
- Kekerasan Seksual.
- Suka bermain api.
- Tindakan-tindakan provokatif.
- Suka menetang aturan yang dibuat orang dewasa.
- Mudah marah, bila marah meledak-ledak sampai disertai tindakan ber-bahaya.
- Sering melakukan sabotase.
Ada beberapa persamaan penyimpangan perilaku yang sering muncul pada anak Gangguan Pemusatan Perhatian/ Hiperaktivitas dan Gangguan Tingkah Laku :
- Adanya aktivitas yang berlebihan.
- Adanya sikap menentang terhadap aturan.
- Keras kepada yang sulit untuk ditaklukkan.
- Tidak patuh terhadap aturan yang ada di rumah maupun di sekolah.
- Suka memukul, melukai sampai tindakan kekerasan dalam bersosialisasi dengan teman sebaya.
- Tidak merasa melakukan kesalahan setelah melakukan tindakan yang menyimpang.
- Tidak menyesal dengan tindakannya sendiri.
- Tidak disiplin dengan kegiatan sehari-hari.
- Suka ngambek bila keinginannya tidak dipenuhi.
- Memerluikan pengawasan yang berlebih dibandingkan anak lain.

Disamping ada persamaan seperti tersebut di atas, ada pula perbedaan yang bisa diamati :
- Kemampuan Konsentrasi

Gangguan Tingkah Laku: masih mampu berkonsentrasi dengan baik, terutama pada kegitan-kegiatan yang disukai. Misal: nonton TV, bermain play station, menggambar. Gangguan Pemusatan Perhatian: tak mampu berkonsentrasi/kemampuan konsentrasinya ter-batas.
- Tujuan Aktivitas

Gangguan Tingkah Laku: jelas tujuannya dan runtut. Gangguan Pemusatan Perhatian: tidak dipikir, impulsivitas.
- Lama Aktivitas

Gangguan Tingkah Laku: bila terlalu lama bisa kelelahan. Gangguan Pemusatan Perhatian: tahan lama, tidak pernah kelelahan, seperti didorong mesin.
- Sosialisasi

Gangguan Tingkah Laku: bisa diterima oleh teman-temannya dan bisa memimpin. Gangguan Pemusatan Perhatian: tidak dapat diterima oleh teman-temannya dan tidak dapat memimpin.
- Kondisi Tidur

Gangguan Tingkah Laku: sering mengigau, berteriak dan jalan-jalan waktu tidur. Gangguan Pemusatan Perhatian: posisi tidur sering berubah, sering jatuh sehingga perlu diamankan.
- Patologi Otak

Gangguan Tingkah Laku: kondisi otak normal. Gangguan Pemusatan Pperhatian: mielinisasi akson tak sempurna.
- Arah Perkembangan Perilaku

Gangguan Tingkah Laku: penyimpa-ngan. Gangguan Pemusatan Perhatian: mengalami keterbelakangan.
- Terapi

Gangguan Tingkah Laku: terapi bermain dan terapi keluarga. Gangguan Pemusatan Perhatian: terapi medikamentosa, terapi ber-main dan terapi keluarga.


MANAJEMEN GANGGUAN BAHASA DAN KOMUNIKASI

Langkah-langkah pada sindoma austik non verbal:
- Menumbuhkan perilaku antisipatorik dan intensional.
- Mengubah perilaku komunikasi non konvensional.
- Mengembangkan komunikasi multi jalur.
- Menambah ragam fungsi komuni-kasi.
- Mengembangkan dan memelihara strategi komunikasi.
- Memberikan lingkungan yang sportif untuk komunikasi.



Langkah-langkah pada sindroma autistik dengan ekolalia:
Ekolalia bukan sesuatu yang harus di-padamkan, tetapi harus pandang sebagai batu loncatan untuk dikembangkan menjadi peng-gunaan bahsa yang lebih optimal. Pada awal bahasa mulai berkembang:
- Perluas kosa kata.
- Tunjukkan bahwa komunikasi verbal dihargai. Pusatkan perhatian pada peng-gunaan komunikasi verbal, tanpa meng-utamakan kejelasan ucapan.
- Ajaran pemusatan perhatian.
- Rangsang ucapan rangkaian kata.
- Kembangkan struktur kalimat.
- Kembangkan kemampuan membaca dan menulis.
- Ajarkan manfaat imitasi untuk tujuan yang fungsional.
- Manfaatkan potongan kalimat multi kata dan penggalannya untuk digunakan secara fungsional.

Pada tingkat perkembangan bahasa yang lebih lanjut:
- Mengembangkan cerita tentang kejdian mulai yang kini hingga yang lalu.
- Ajarkan ketrempilan konversasi.
- Ajarkan persiapan untuk even khusus.
- Latih penggunaan komunikasi dengan tulisan untuk menunjang kualitas komuni-kasi, misalnya surat.


PENGEMBANGAN KETRAMPILAN MOTORIK KOMPENSASI
Sebagai akibat dari gangguan sensorik, minat yang sempit dan terbatas, sering dijumpai keterlambatan perkembangan motorik kasar dan motorik halus yang memerlukan koor-dinasi, ketrampilan perawatan diri sendiri dan aktifitas sehari-hari. Gangguan perkembangan ini harus dideteksi dan diberikan peltihan yang sesuai. Pelatihan ini dapat diberikan sebagai pelengkap terapi integrasi sensorik, jika karena sesuatu hal terapi integrasi sensorik tak dapat di-berikan, setelah terapi integrasi sensorik tidak lagi menunjukkan kemajuan atau jika secara urgen sianak harus meng-uasai ketrampilan tersebut, dan me-nunggu hasil terapi integrasi sensorik terlalu lama. Dalam hal ini keterampilan tersebut secara langsung kepada anak.

TERAPI MUSIK
Adalah pengguanaan musik (oleh seorang yang qualified), atau interaksi atau rangkaian kejadian yang ber-kembang melalui suatu pengalaman musik, untuk membantu seseorang untuk mencapai suatu golongan yang non musikal (Brunk, 1999). Terapi musik memanfaatkan ketertarikan terhadap nikmat yang dirasakan seseorang, yang berasal dari musik, untuk membantu individu tersebut mencapai perubahan spesifik, dibidang yang non misikal dalam hidupnya.

KESIMPULAN
Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPP/ H) sering terjadi pada anak. Sampai sekarang belum diketahui secara pasti faktor penyebabnya. Diduga banyak faktor yang berperan dan saling berinteraksi. Gangguan ini dapat mengganggu perkembangan anak, baik dalam per-kembangan kognitif, emosi, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi. Walau-pun gangguan ini dapat sembuh sendiri, akan tetapi akibat keterlambatan per-kembangan dan gejala sisanya dapat menetap sampai dewasa. Gangguan Pemusatan Perhatian/ Hiper-aktivitas perlu dibedakan dengan gang-guan tingkah laku (GTL), Autisme Infantil maupun terlambat bicara, sebab pada masing-masing banyak persamaannya. Hal ini untuk meng-hindari kesalahan dalam diagnosis, terapi dan pengelolaan pasien. Dengan deteksi dini yang tepat, gangguan yang terjadi diharapkan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat memperkecil akibat yang ditimbulkan.

DAFTAR RUJUKAN Aarons M & Gittens T. 1996. The handbook of Autism. 2 ed. London: Rotuledge. Diagnostic criteria from DSM-IV. 1994. American Psychiatric. Asso-ciation: Kaplan & Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri, Edisi ketujuh. Jakarta: Binarupa Aksara.
Paul R. 2001. Language disorder from infancy through adolescence. 2 ed. St Louis: Mosby. Gangguan Pemusatan Perhatian/ Hiper-aktivitas perlu dibedakan dengan gang-guan tingkah laku (GTL), Autisme Infantil maupun terlambat bicara, sebab pada masing-masing banyak persamaannya. Hal ini untuk meng-hindari kesalahan dalam diagnosis, terapi dan pengelolaan pasien. Dengan deteksi dini yang tepat, gangguan yang terjadi diharapkan dapat diatasi dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat memperkecil akibat yang ditimbulkan.

Psikologi klinis anak dan pediatri

Psikologi klinis berpijak pada jalur akademik dan praktik. Klinik pertama yang didirikan oleh Witmer adalah untuk membantu anak-anak yang mempunyai masalah belajar. Sebelum tahun 1900, anak-anak dianggap sama dengan orang dewasa. Klasifikasi gangguan jiwa DSM I dan II tidak membedakan gangguan jiwa untuk dewasa dan anak. Baru setelah tahun 1900-an gangguan jiwa pada anak diperhatikan secara khusus. Pada DSM III dan IV tertera lebih dari 12 jenis gangguan jiwa anak axis I. Setelah itu muncul bidang Clinical Child Psychology. Bidang ini membahas masalah-masalah psikiatri pada anak, terutama dalam lingkup praktik pribadi. Bidang ini menggunakan pendekatan psikodinamik. Dalam psikologi klinis-anak berkembang spesialis untuk menangani kelainan khusus, misalnya untuk kasus pelecehan seks pada anak, depresi pada anak.

Pada tahun 1966 ternyata ada 300 psikolog yang bekerja dalam setting pediatri-dilingkungan rumah sakit, klinik-klinik perkembangan, dan lain-lain. Yang dibantu adalah anak-anak yang tidak mengalami gangguan berat namun memerlukan perhatian dan nasihat yang berkaitan dengan perkembangannya di masa depan. Bidang ini dinamakan Pediatric Psychology. Pada tahun 1967 ada dua divisi dalam American Psychological Association, divisi 1 dan 2, yang membahas masalah anak-anak, yaitu Clinical Child Psychology dan Pediatric Psychology.Pediatri atau ilmu kesehatan anak ialah spesialisasi kedokteran yang berkaitan dengan bayi dan anak. Kata pediatri diambil dari dua kata Yunani kuno, paidi yang berarti “anak” dan iatros yang berarti “dokter”. Sebagian besar dokter anak merupakan anggota dari badan nasional seperti Ikatan Dokter Anak Indonesia, American Academy of Pediatrics, Canadian Pediatric Society, dan lainnya. Abraham Jacobi adalah bapak dari pediatri.

Perhatian yang besar pada kekhususan psikologi untuk anak berkembang karena beberapa temuan, yaitu :

Bertambah banyaknya kasus psikopatologi anak, yakni 22%

Banyak gangguan yang terjadi pada anak-anak yang mempunyai konsekuensi serius pada usia dewasa.

Kebanyakan gangguan pada masa dewasa mungkin berasal dari masalah pada masa kanak-kanak yang tidak terdiagnosis

Perlu dilakukan intervensi untuk mencegah berlanjutnya suatu gangguan pada anak sampai dewasa.

Meskipun penekanan pada Psikolog Klinis-Anak dan Psikologi Pediatri berbeda, tetap terjadi tumpang tindih antara keduanya. Secara umum keduanya memperhatikan perspektif perkembangan untuk menentukan ada/tidaknya gangguan. Misalnya, kasus mengompol yang terjadi pada anak 2 tahun akan berbeda dengan anak 12 tahun. Demikian juga perspektif epidemiologis kedua disiplin. Kasus hiperaktif ditemukan lebih banyak pada anak laki-laki, komunitas tertentu lebih rentan gangguan dibanding komunitas lain, perilaku anak usia yang sama berubah dari zaman ke zaman. Perlu diperhatikan bahwa perilaku abnormal kadang-kadang situation spesific. Misalnya, pemalu hanya dalam lingkungan tertentu tapi tidak di lingkungan lain. Demikian juga mengenai perilaku abnormal seperti mencuri, atau berbohong pada anak merupakan suatu yang lebih dekat dengan situasi daripada dengan adanya suatu gangguan atau sifat tertentu pada anak. Lingkungan anak-orang tua, guru-kadang memiliki pengetahuan yang cukup, kadang keliru tentang anak. Ini dapat menyebabkan mereka tidak dapat mengatasi ketika anak mengalami masalah. Adanya pengetahuan tentang psikopatologi anak yang ditunjukkan pada DSM III dan IV dapat membantu untuk memahami dan merencanakan treatment pada anak. Selain pokok-pokok umum diatas, psikologi klinis anak dan psikologi pediatri juga membahas hal-hal standar dalam penanganan kasus-kasus seperti masalah asesmen, intervensi, pencegahan dan konsultasi.

Anak-anak terkadang mengalami kesukaran emosional, karena perubahan tuntutan hidup dan perubahan sikap orang tuanya, di samping pertumbuhan diri pribadi mereka, yang terkadang tidak dimengerti oleh orang tuanya. Terapi yang diberikan kepada anak yang mengalami gangguan emosi diantaranya adalah dengan menggunakan pendekatan non-directive therapy dan menggunakan permainan.

Peran Neurolog Pediatri Dalam Usaha Melawan Autisme

Sekalipun memiliki prevalensi yang tinggi, mencapai 1 per 175 anak, autisme ternyata belum memperoleh perhatian dan penanganan yang memadai, khususnya di Indonesia. Hakikat autisme sebagai suatu gangguan yang hanya dapat diperbaiki namun tidak dapat disembuhkan tentu saja semakin menimbulkan kecemasan bagi para orang tua penderita Autism Spectrum Disorders (ASD). Pemberian informasi seputar gejala-gejala kontroversi, dan penanganan penderita autisme menjadi sesuatu yang semakin mendesak dan mutlak dibutuhkan. Kolaborasi intensif antar orangtua dan guru pendamping dalam upaya penyediaan pendidikan bagi penderita autisme tidak dapat dilepaskan dari peran serta para ahi neurolog pediatri yang berkiprah melalui terapi biomedis.

Stress Hambat Pertumbuhan Bayi Dalam Kandungan

Stress mungkin menghambat pertumbuhan bayi dalam kandungan seorang wanita. Ukuran bayi pada wanita yang stress cenderung lebih kecil daripada yang tidak stress.
Hormon Cortisol yang dihasilkan kelenjar adrenalin saat stress sepertinya menjadi faktor penyebabnya. Telah dibuktikan juga bahwa stress saat hamil juga memicu kelahiran prematur dan tentu turunnya bobot bayi saat lahir. Tapi, penelitian untuk mempelajari pengaruh stress ibu hamil kepada janin yang masih di dalam kandungan baru kali ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur ultrasonografi (untuk melihat perkembangan janin dalam kandungan). Untuk mengatasi stress pada ibu hamil mungkin lebih cocok dengan terapi psikologi atau dukungan sosial yang lebih tinggi. Sebab pengaruh penggunaan obat-obatan antistress untuk wanita hamil juga masih kontroversial.

Gizi Buruk

Gizi buruk (severe malnutrition) adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Menurut Departemen Kesehatan (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar 27,5% (5 juta balita kurang gizi), 3,5 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang, dan 1,5 juta anak gizi buruk (8,3%). WHO (1999) mengelompokkan wilayah berdasarkan prevalensi gizi kurang ke dalam 4 kelompok yaitu: rendah (di bawah 10%), sedang (10-19%), tinggi (20-29%), sangat tinggi (=>30%).

Status gizi anak balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk. Namun penghitungan berat badan menurut panjang badan lebih memberi arti klinis. Anak kurang gizi pada tingkat ringan dan atau sedang masih seperti anak-anak lain, beraktivitas , bermain dan sebagainya, tetapi bila diamati dengan seksama badannya mulai kurus dan staminanya mulai menurun. Pada fase lanjut (gizi buruk) akan rentan terhadap infeksi, terjadi pengurusan otot, pembengkakan hati, dan berbagai gangguan yang lain seperti misalnya peradangan kulit, infeksi, kelainan organ dan fungsinya (akibat atrophy / pengecilan organ tersebut).

Gizi Buruk tentu saja terkait dengan dampak terhadap sosial ekonomi keluarga maupun negara, di samping berbagai konsekuensi yang diterima anak itu sendiri. Kondisi gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan system, karena kondisi gizi buruk ini juga sering disertai dengan defisiensi (kekurangan) asupan mikro/ makro nutrien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. Gizi buruk akan memporak porandakan system pertahanan tubuh terhadap microorganisme maupun pertahanan mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi. Secara garis besar, dalam kondisi akut, gizi buruk bisa mengancam jiwa karena berberbagai disfungsi yang di alami, ancaman yang timbul antara lain hipotermi (mudah kedinginan) karena jaringan lemaknya tipis, hipoglikemia (kadar gula dalam darah yang dibawah kadar normal) dan kekurangan elektrolit penting serta cairan tubuh.

Jika fase akut tertangani dan namun tidak di follow up dengan baik akibatnya anak tidak dapat ‘catch up’ dan mengejar ketinggalannya maka dalam jangka panjang kondisi ini berdampak buruk terhadap pertumbuhan maupun perkembangannya. Akibat gizi buruk terhadap pertumbuhan sangat merugikan performance anak, akibat kondisi ‘stunting’ (postur tubuh kecil pendek) yang diakibatkannya. Yang lebih memprihatinkan lagi, perkembangan anak pun terganggu. Efek malnutrisi terhadap perkembangan mental dan otak tergantung dangan derajat beratnya, lamanya dan waktu pertumbuhan otak itu sendiri. Jika kondisi gizi buruk terjadi pada masa golden period perkembangan otak (0-3 tahun) , dapat dibayangkan jika otak tidak dapat berkembang sebagaimana anak yang sehat, dan kondisi ini akan irreversible ( sulit untuk dapat pulih kembali).

Dampak terhadap pertumbuhan otak ini menjadi vital karena otak adalah salah satu ‘aset’ yang vital bagi anak untuk dapat menjadi manusia yang berkualitas di kemudian hari. Beberapa penelitian menjelaskan, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak adalah anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor tes IQ, penurunan perkembangn kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi akademik di sekolah. Kurang Gizi berpotensi menjadi penyebab kemiskinan melalui rendahnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Tidak heran jika gizi buruk yang tidak dikelola dengan baik, pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi penerus bangsa

Psikologi Komunitas

Sejarah.

Psikologi komunitas di Amerika mulai berkembang sejak 1955, ketika diumumkan undang-undang tentang pengembangan konsep kesehatan mental komunitas untuk mengurangi jumlah rumah sakit jiwa. Pada tahun 1963 Kennedy Bill mengemukakan sistem komprehensif dalam layanan kesehatan mental, melakukan deteksi dini dari gangguan kesehatan mental yang dapat menurunkan jumlah penderita yang dimasukkan ke RSJ. Tahun 1965 dianggap sebagai kelahiran Psikologi Komunitas pada saat itu diadakan konferensi di Massachusetts dimana para psikolog membahas masa depan dan peran kesehatan mental, dan tak lama berselang terbentuk Community Psychology dalam American Psychological Association (APA)

Arti dan Fungsi

Di Indonesia Psikologi Komunitas dibahas sebagai “Kesehatan Masyarakat” dalam disiplin ilmu kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Psikologi Komunitas juga merupakan subbagian dalam Psikologi Sosial, Sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tapi dalam hal ini Psikologi Komunitas akan diuraikan sebagai suatu kegiatan yang berkaitan dengan memberi bantuan kepada orang lain dalam hal gangguan emosional, penysuaian diri dan masalah-masalah psikologis lainnya.

Dalam pendekatan psikologi klinis, treatment diberikan kepada seseorang atau kelompok yang mengalami gangguan atau yang memiliki masalah dan klien menerima treatment tersebut. Kenyataannya seringkali sulit untuk memastikan siapa yang memerlukan terapi atau bantuan psikologis. Dilihat dari pandanan sosiokultual, lingkungan sosio kltural dan interaksinya dengan subjek atau sekelompok subjeklah penyebab munculnya gangguan jiwa, hal ini dikarenakan tuntutan sosial kepada subjek untuk mengikuti kondisi yang berlaku misalnya norma sosial, dan lainnya.

Banyak perubahan-perubahan dalam tatanan masyarakat sekarang ini yang menyebabkan banyaknya muncul gejala-gejala sosial seperti kemiskinan, kekumuhan, polusi udara, pengungsian penduduk bahkan bencana alam sangat memungkinkan munculnya ancaman gangguan-gangguan psikologis terutama dalam hal gangguan emosional. Kondisi ini membutuhkan suatu pendekatan yang tidak menggunakan cara tradisional dari psikologi klinis, tetapi membutuhkan sutau pendekatan menyeluruh yakni pendekatan komunitas.

Psikologi komunitas pada dasarnya terkait dengan hubungan antar sistem sosial, kesejahteraan dan kesehatan individu dalam kaitan dengan masyarakat. Psikologi komunitas didefinisikan sebagai sutau pendekatan kepada kesehatan mental yang menekankan pada peran daya lingkunan dalam menciptakan masalah atau mengurangi masalah. Psikologi komunitas berfokus pada arah permasalahan kesehatan mental dan sosial yang dikembangkan melalui intervensi juga riset dengan setting mencakup masyarakat dan komunitas pribadi.

Sistem Kerja

Seorang ahli yang bernama Rapaport mengemukakan bahwa pespektif dari psikologi komunitas memberikan perhatian pada tiga hal utama yakni :
1. Pengembangan sumber daya individu.
2. Aktivitas politik.
3. Ilmu Pengetahuan.

Ada beberapa konsep yang sangat melekat pada pendekatan psikologi komuntas, yakni pada :

 Pencegahan. Pencegahan dari gangguan psikologis bertujuan untuk menghemat biaya perawatan penderita. Terdiri dari tiga yakni pencegahan primer, sekunder dan tertier.
 Pemberdayaan manusia. Pemberdayaan manusia dalam masyarakat bertujuan untuk mempertahankan kesehatan dan mencegah munculnya gangguan-gangguan psikologis.

Beberapa pertimbangan-pertimbangan dalam psikologi komunitas :
 Pertama. Psikologi Komunitas menekankan kepada dua aspek secara serentak yakni kondisi masyarakat sebagai dasar teori dan riset pada proses lingkungan sosial.
 Kedua. Memusatkan, tidak hanya bertitik tolak pada kondisi psikologis individu, akan tetapi atas berbagai tingkatan analisa yang bergerak dari individu kemudian mengkelompokkannya ke dalam organisasi dan akhirnya kepada struktur yang terbesar yakni kelompok masyarakt secara utuh dimana individu berada.
 Ketiga. Psikologi Komunitas meliputi atau cakupan jangkauan luas berupa seting dan substansi dari suatu area/daerah komunitas.

Dari ketiga dasar tersebut di atas psikologi komunitas dalam menganalisis permasalahan individu memiliki keunikan tersendiri dimulai dari kondisi individu itu sendiri kemudian mengarah kepada suatu pergerakan sosial masyarakat atau sebaliknya atau juga dimulai secara bersama-sama.
Pada dasarnya Psikologi komunitas orientasi kerjanya hampir sama dengan psikologi klinis dan kesehatan mental masyarakat dengan tujuan untuk mengenalkan kesejahteraan manusia. Tetapi psikologi komunitas tidak hanya puas dengan kencenderungan klinis yang hanya menempatkan permasalahan kesehatan mental yang berfokus di dalam diri individu. Psikologi komunitas lebih melihat ancaman terhadap kesehatan mental dari lingkungan sosial atau konflik/ ketidakcocokan antara individu dengan lingkungannya. Penekanan secara spesifik lebih kepada dukungan sosial bukan kepada perubahan individu. Psikologi komunitas lebih memusatkan perhatian pada kesehatan bukan kepada penyakit, dan kepada peningkatan kemampuan individu dan komunitasnya. Hal inilah yang mungkin merupakan simbol dari psikologi komunitas dan yang membedakannya dengan psikologi klinis dan kesehatan mental yang lebih berfokus kepada perubahan individu.




Blomm mengemukakan perbedaan antara layanan psikologi tradisional dengan layanan pendekatan kesehatan mental komunitas terletak pada : penekanan pencegahan, intervensi dalam komunitas dilakukan dalam populasi yang terbatas, promosi dalam pelayanan tak lamgsung misalnya melalui pelatihan dan pemberdayaan, pelaksanaan yang dilakukan oleh ahli dari berbagai bidan ilmu.

Psikologi komunitas lebih berorientasi kepada tindakan preventif (pencegahan). Maknanya psikologi komunitas berusaha untuk mencegah permasalahan terjadi ke depan, dibandingkan menunggu permasalahan tersebut muncul dan menjadi lebih serius. Psikologi komunitas lebih melihat kepada adanya indikasi dari suatu keadaan sehingga bisa melakukan tindakan preventif, dan memiliki prediktor apa yang akan terjadi ke depan dengan kondisi yang ada sekarang.

Dengan adanya prediktor inilah yang menjadikan Psikologi komunitas berbeda dengan kesehatan masyarakat, dalam memandang kesehatan mental, institusi sosial, dan mutu hidup secara umum. Psikologi komunitas harus memiliki orientasi riset yang kuat, karena sangat tergantung kepada suatu dugaan yang mengarah kepada permasalahan-permasalahan sosial yang akan muncul dengan kondisi yang ada.

Psikologi komunitas seperti halnya juga psikologi sosial di dalam pengambilan suatu sistem atau kelompok melalui pendekatan kepada tingkah laku manusia, akan tetapi lebih terkait kepada suatu pengetahuan psikologis untuk memecahkan permasalahan sosial sedangkan psikologi sosial lebih berorientasi kepada fenomena-fenomena interaksi individu dengan sosialnya. Psikologi komunitas juga banyak mengunakan orientasi-orientasi psikologi industri dan organisasi tetapi diterapkan kepada organisasi masyarakat, bagaimana individu mengikuti sistem sosial yang ada dan mendukung jaringan sosial tersebut.

Permasalahan para pekerja dan klien pada sistem manajemen diaplikasikan ke dalam penelahaan isu peraturan sosial dan kontrol masyarakat, dan karakteristik serta kemampuan menghadapi kelompok sosial secara lemah, seperti permasalahan minoritas dan lain sebagainya.

Tujuan
Area psikologi komunitas terbentuk pada membantu atau meningkatkan kemampuan individu yang powerless terhadap komunitas sosialnya misalnya kalangan minoritas, dan kemampuan individu untuk dapat mengambil kendali atas lingkungan dan kehidupan mereka. Hal ini sangat diperlukan karena pada gilirannya, akan membantu perkembangan individu dalam mengembangkan psychological sense of community.
Psikologi komunitas memiliki berbagai pendekatan kearah perubahan sistem sosial :
1. Mengenalkan pertumbuhan dan pengembangan individu dan mencegah munculnya suatu permasalahan kesehatan mental dan sosial.
2. Membuat suatu format intervensi yang sesuai dan cepat pada saat mana intervensi tersebut sangat diperlukan.
3. Memungkinkan mereka yang telah bermasalah untuk hidup dengan baik dan mendapat sokongan dari komunitasnya dan lebih baik lagi tinggal pada tempat yang dapat menerima kondisinya dan dia akan mendapatkan dukungan

Sebagai contoh, psikologi komunitas mungkin dapat memberi intervensi terhadap individu dengan cara :
1. Menciptakan dan mengevaluasi arah kebijakan dan program yang membantu masyarakat mengontrol tekanan yang muncul dari aspek dan lingkungan organisatoris yang memunculkan permasalahan.
2. Menilai kebutuhan suatu masyarakat dan memberi arahan anggotanya bagaimana cara mengenali suatu masalah yang masih permulaan dan menghadapi permasalahan yang sudah muncul dan besar.
3. Belajar dan menerapkan jalan yang lebih efektif dan menyesuaikan dengan populasi untuk hidup secara lebih produktif dalam tedensi masyarakat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pendekatan komunitas :
1. Pendekatan Komunitas menekankan kepada efek dari dukungan sosial dan tekanan sosial masyarakat serta tindakan preventif dan self-help.
2. Pemberdayaan lokal dan pentingnya keanekaragaman dan relatifitas budaya.
3. Menekankan kepada masyarakat, kekmampuan dan kekuatan pribadi sebagai counter terhadap penyakit dan kelemahan.
4. Perspektif komunitas menekankan pada fungsi riset tidak hanya sebagai pengembangan teori tetapi juga untuk kebijakan dan evaluasi program analisis, dan kehadirannya secara impliait dan berharga bagi pengembangan kesejahteraan masyarakat dan juga ilmu pengetahuan.

Pada intinya pendekatan komunitas tidak meletakkan gangguan di dalam individu yang terganggu dan juga tidak secara totalitas menyalahkan lingkungan akan tetapi fokusnya kepada interaksi orang dengan lingkungan-mengidentifikasikan peran dan daya lingkungan yang dapat menciptakan/mengurangi masalah individu dan kemudian memusatkan diri pada pemberdayaan individu dan kelompok individu untuk lebih dapat dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya


Bentuk peran nyata dari psikologi komunitas :

1. Melakukan penelitian untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisa masalah-masalah komunitas, melakukan penelitian mengenai sikap-sikap masyarakat, mengevaluasi program-program sosial tertentu.
2. Berpartisipasi dalam merancang/membuat pola-pola pelayanan sosial serta memberikan evaluasi terhadap program tersebut.
3. Secara profesional berpartisipasi aktif dalam program gerakan-gerakan, sosial bagi pengembangan masyarakat, termasuk juga merancang lingkungan sosial yang dapat memperkecil kesulitan-kesulitan penyesuaian dan memperluas kesempatan pengembangan pribadi dilingkungan sosial tersebut.





Model dan proses Psikologi Komunitas.

Disini akan dipaparkan sedikit bagaimana sudut pandang psikologi komunitas dalam melihat atau menganalisis dan melakukan pendekatan terhadap permasalahan psikologi pada diri individu.

Sebagai ilustrasi, ahli psikologi mengatakan gangguan jiwa disebabkan oleh fenomena intra psikis (interaksi yang terjadi diantara aspek-aspek psikis). Ahli psikoanalisis mengatakan terdapat 3 struktur kepribadian pada individu : id, ego dan superego. Menurut pandangan psikoanalisis timbulnya permasalahan kejiwaan dikarenakan adanya ketidakseimbangan di 3 struktur kepribadian tersebut. Misalnya psikopat dikatakan sebagai gangguan kepribadian yang berat dengan ciri perkembangan superego yang terhambat, fungsi ego baik dan id yang normal. Tapi dilihat dari sudut pandang psikologi komunitas muculnya gangguan ini merupakan produk dari interaksi anatar individu dengan lingkungan sosialnya.

Dalam menganalisis kedudukan individu dalam komunitasnya, psikologi komunitas menggunakan 2 titik tolak :

1. Individu sebagai agen (tokoh;pelaku) didalam kehidupan komunitasnya. Dalam hal ini komunitas berfungsi sebagai :
- Arena/tempat munculnya tingkah laku.
- Tempat individu berinteraksi dan merupakan lingkungan yang dapat mendukung/menghambat individu..
Contoh : Individu yang cerdas, tidak akan berkembang pada lingkungan sosial yang tidak mendukungnya, dan tidak memiliki fasilitas pendukung. Tapi individu ini akan berkembag jika berada pada lingkugan sosial yang mendukung dan memiliki fasilitas yang cukup

2. Individu dipandang sebagai objek dari kehidupan komunitasnya. Disini fungsi komunitas sebagai sarana/media untuk terjadinya perubahan-perubahan kualitas dari individu.
Contoh : suatu daerah yang terpencil, mengalami perubahan yang radikal seiring dengan perkembangan zaman, menjadi daerah yang ramai dan pesat. Secara langsung akan mengubah perilaku individu-individu yang ada di dalamnya.

Proses psikologi komunitas merupakan konteks (ruang lingkup) untuk menerapkan model-model psikologi komunitas. Istilah model digunakan untuk menunjuk pada suatu penyajian struktur dan fungsi dalam hal ini permasalahan komunitas. Dalam masalah-masalah komunitas, psikologi komunitas menerapkan model :

1. Model Kesehatan Mental ( The Mental Health Model). Model ini beranggapan bahwa mencegahterjadinya gangguan mental akan lebih efektif daripada mengobati. Model kesehatan mental lebih menekankan pada pendekatan preventif/prevention.
2. Model Organisasi (The Organization Model). Model ini didasarkan pada penelitian-penelitian sosial, terutama penelitian yang menelaah, mengenai pengaruh kondisi/organisasi atau sistem organisasi pada sistem sosial terhadap kelompok. Misalnya pengaruh gaya kepemimpinan. Model ini beranggapan bahwa manajemen/pengelolaan bertanggung jawab untuk mengorganisir elemen-elemen dalam kelompok., seperti : uang, materi/benda, alat-alat, manusia yang bertujuan untu7k mendapatkan profit. Dalam hubungannya dengan manusia, proses ini bertujuan untuk mengarahkan usaha-usaha memotivasi dan mengontrol tindakan serta mengontrol perilaku gara sesuai dengan tujuan. Tanpa adanya intervensi dari manajemen, manusia akan menjadi pasif dan tidak responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan kelompok.
3. Model Tindakan Sosial (The Social Action Model). Model ini menggunakan pendekatan dengan berpartisipasi langsung terhadap kondisi yang menyebabkan timbulnya gangguan/masalah di dalam masyarakat. Misalnya : mengatasi masalah kemiskinan, caranya dengan memobilisasi dan mengkoordinasikan sumber-sumber yang ada dalam komuniti, keterlibatan secara langsung dalam mengatasi kemiskinan, misalnya menciptakan lapangan kerja, merangsang pertumbuhan usaha-usaha wiraswasta, memberikan pinjaman/kredit.
4. Model ekologi (The Ecological Model). Model ini dipegaruhi oleh Teori Kurt Lewin yang menekankan pada saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungan. Model ini beranggapan bahwa prinsip-prinsip ekologi dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul serta untuk menciptakan proses-proses intervensi yang dibutuhkan.

TEST PSIKOLOGI DASAR

Tes Kemampuan Verbal
Subtes 1 : Padanan Kata (Sinonim)
Jumlah soal : 20 soal
Waktu : 10 menit

Petunjuk:
Untuk nomor 1 sampai dengan 20 masing-masing soal terdiri dari atas suku kata yang dicetak besar dengan huruf besar (huruf kapital) diikuti lima kemungkinan jawaban. Pilihlah satu jawaban yang mempunyai arti sama atau paling dekat dengan arti kata yang dicetak dengan huruf besar.

1. TENDENSI
a. Kesamaan
b. Kemiringan
c. Kecenderungan d. Keinginan
e. Ketergantungan

2. PARADOKS
a. Sejajar
b. Searah
c. Model d. Lawan
e. Pragmatis

3. ANDAL
a. Gesit
b. Absah
c. Tangguh d. Cerdas
e. Gagah

4. DAMPAK
a. Pengaruh
b. Benturan
c. Berubah d. Hambatan
e. Masalah

5. AUTENTIK
a. Palsu
b. Asli
c. Tiruan d. Mirip seperti
e. Layaknya

6. BAKU
a. Mentah
b. Belum jadi
c. Piala d. Standar
e. Cadangan
7. RELATIF
a. Ragu-ragu
b. Mengambang
c. Tidak pasti d. Statis
e. Pasti

8. MITRA
a. Kawan
b. Lawan
c. Piala d. Sahabat
e. Saingan

9. PREMAN
a. Sewaan
b. Jagoan
c. Berdinas d. Partikelir
e. Swasta

10. PIALANG
a. Pengembara
b. Juara
c. Pelopor d. Makelar
e. Ahli

11. INTUISI
a. Bisikan hati
b. Nurani
c. Naluri d. Semangat
e. Pemikiran

12. KARAKTERISTIK
a. Ciri
b. Watak
c. Tabiat d. Jiwa
e. Akhlak

13. KONKLUSI
a. Pernyataan
b. Argumentasi
c. Resume d. Rangkuman
e. Kesimpulan

14. SINYALIR
a. Praduga
b. Waspada
c. Pemberitahuan d. Pertanda
e. Peringatan

15. PREMI
a. Asuransi
b. Imbalan
c. Uang hadiah d. Iuran
e. Bonus



16. DAWAI
a. Suara
b. Kawat
c. Tambang d. Pita
e. Tinta

17. TABULASI
a. Pengolah data
b. Menyusun data
c. Menghitung data d. Pendataan
e. Penjumlahan data

18. DISPENSASI
a. Persetujuan
b. Pengecualian
c. Perijinan d. Penyimpangan
e. Pembebasan

19. KLARIFIKASI
a. Menuntut
b. Membandingkan
c. Menjelaskan d. Menggolongkan
e. Membersihkan

20. VERIFIKASI
a. Penjelasan
b. Pembetulan
c. Penggolongan d. Pembuktian
e. Pembatalan





















Subtes 2 : Lawan Kata (Antonim)
Jumlah soal : 20 soal
Waktu : 10 menit

Petunjuk:
Untuk nomor 21 sampai dengan 40 masing-masing soal terdiri dari atas suku kata yang dicetak besar dengan huruf besar (huruf kapital) diikuti lima kemungkinan jawaban. Pilihlah satu jawaban yang mempunyai arti berlawanan atau paling dekat dengan arti kata yang dicetak dengan huruf besar.

21. STABIL
a. Labil
b. Rusuh
c. Runtuh d. Hancur
e. Retak

22. KRUSIAL
a. Perpecahan
b. Khusus
c. Spesial d. Sepele
e. Penting

23. KONSTAN
a. Bervariasi
b. Berubah-ubah
c. Situasional d. Berbeda-beda
e. Bertentangan

24. DINAMIS
a. Aktif
b. Statis
c. Kondusif d. Apatis
e. Pragmatis

25. MAYA
a. Fatamorgana
b. Ilusi
c. Nyata d. Khayal
e. Jelas

26. PERINTIS
a. Pemilik
b. Pewaris
c. Pelopor d. Penerus
e. Pengikut



27. AKTUAL
a. Fiktif
b. Modern
c. Sebenarnya d. Kadaluarsa
e. Baru

28. METAFISIKA
a. Nyata
b. Fiksi
c. Penyucian d. Meditasi
e. Alam bawah sadar

29. PAKAR
a. Pelopor
b. Awam
c. Terpelajar d. Ahli
e. Pionkir

30. POLEMIK
a. Kontradiksi
b. Rukun
c. Debat d. Tengkar
e. Sengketa

31. MAYOR
a. Junior
b. Mikro
c. Minim d. Minor
e. Kecil

32. FENOMENA
a. Realitas
b. Fakta
c. Aktualitas d. Irasional
e. Rasional

33. PASCA
a. Sekarang
b. Sesudah
c. Sebelum d. Terlambat
e. Cepat

34. HARMONI
a. Sesuai
b. Setara
c. Sumbang d. Selaras
e. Cocok

35. KUANTITAS
a. Jumlah
b. Kualitas
c. Kapasitas d. Hasil
e. Ciri



36. SKEPTIS
a. Tanggungjawab
b. Semangat
c. Yakin d. Kumpulan
e. Tak yakin

37. ANTAGONIS
a. Selaras
b. Seimbang
c. Setingkat d. Sepihak
e. Searah

38. INSOMNIA
a. Susah makan
b. Susah bangun
c. Susah tidur d. Ngantuk
e. Pulas

39. ADHESI
a. Partisipasi
b. Asimilasi
c. Kohesi d. Regresi
e. Agresi

40. PROGRESIF
a. Regresif
b. Ofensif
c. Agresif d. Defensif
e. Kondusif












Subtes 3 : Padanan Hubungan Kata (Analogi)
Jumlah soal : 20 soal
Waktu : 10 menit

Petunjuk:
Untuk nomor 41 sampai dengan 60 masing-masing soal terdiri dari atas suku kata yang dicetak besar dengan huruf besar (huruf kapital) diikuti lima kemungkinan jawaban. Pilihlah satu jawaban yang mempunyai padanan hubungan kata (analog) dengan arti kata yang dicetak dengan huruf besar.

41. KALKULATOR : CHIP ::
a. Kepala : otak
b. Mobil : sopir
c. Merah : putih d. Perpustakaan : siswa
e. Terang : gelap

42. PISAU CUKUR : JENGGOT ::
a. Dompet : uang
b. Meja : makan
c. Sikat : gigi d. Sampah : bak
e. Almari : pakaian

43. PEMILU : LEGISLATIF ::
a. Kopi : mengantuk
b. Belanja : sayuran
c. Lamaran : pekerjaan d. Pasar : pedagang
e. Surat : amplop

44. SIKU : TANGAN ::
a. Lutut : kaki
b. Rambut : kepala
c. Kaki : tangan d. Lutut : siku
e. Kulit : daging

45. YOGYA : PELAJAR ::
a. Bogor : kebun raya
b. Jakarta : ancol
c. Palembang : empek-empek d. Surabaya : pahlawan
e. Purworejo : duren

46. AYAM : TELUR ::
a. Tanaman : bunga
b. Bekerja : upah
c. Sapi : susu d. Kambing : daging
e. Berudu : katak



47. API : PANAS ::
a. Lilin : abu
b. Dingin : beku
c. Es : dingin d. Air : basah
e. Salju : es

48. PROYEK : PROPOSAL ::
a. Pergi : pamit
b. Kredit : jaminan
c. Pulsa : abodemen d. Lulus : ijazah
e. Lapar : makan

49. BAN : KEMPES : POMPA ::
a. Sayuran : pedagang : pasar
b. Anak : layangan : lapangan
c. Meja : debu : lap d. Anak : orang tua : ayah
e. Anak : kota : ibu

50. TELUR : BERUDU : KATAK ::
a. Mengantuk : tidur : nyenyak
b. Lapar : makan : kenyang
c. Telur : kepongpong : kupu-kupu d. Pagi : siang : sore
e. Bayi : anak-anak : dewasa

51. GITAR : KAYU : MUSIK ::
a. Tari : khazanah : daerah
b. Bola : karet : volley
c. Pasien : resep : obat d. Sambal : cabai : nasi goreng
e. Motor : rusak : bengkel

52. TEMBAKAU : ROKOK : KANKER ::
a. Kelapa : minyak : goring
b. Kayu : arang : memasak
c. Benang : pintal : pakaian d. Kambing : gulai : darah tinggi
e. Terigu : kue : makan

53. PEKERJAAN : MASALAH : FRUSTASI ::
a. Air : minum : dahaga
b. Jatuh : luka : khawatir
c. Lemak : kolesterol : darah tinggi d. Belajar : lulus : senang
e. Bolos : guru : tidak naik kelas

54. ROKOK : HISAP : BATUK ::
a. Uang : judi : pailit
b. Api : tangan : panas
c. Buku : perpustakaan : mahasiswa d. Mobil : pelanggaran : tilang
e. Atlet : latihan : prestasi

55. KIJANG : CEPAT :: SIPUT :
a. Kecil
b. Rumah
c. Lambat d. Makanan
e. Hama tanaman



56. KUMAN : PENYAKIT :: API :
a. Arang
b. Panas
c. Merah d. Kebakaran
e. Asap

57. SPEDOMETER : KECEPATAN = Jam :
a. Arloji
b. Dingin
c. Waktu d. Mendidih
e. Beku

58. RAMALAN : PASTI = Potensi :
a. Fakta
b. Kini
c. Esok d. Kenyataan
e. Mungkin

59. BISA : RACUN = Dapat :
a. Upas
b. Opas
c. Tuba d. Bisa
e. Madu

60. SEKUTU : KOMPETISI = Kooperasi :
a. Teman
b. Karib
c. Versus d. Main
e. Dagang





















Tes Kemampuan Kuantitatif
Subtes 1 : Deret Angka
Jumlah soal : 20 soal
Waktu : 30 menit

Petunjuk:
Untuk nomor 1 sampai dengan 20 masing-masing soal terdiri dari deretan angka yang belum selesai. Setiap soal disertai dengan lima pilihan jawaban tertentu. Pilihlah satu jawaban untuk menyelesaikan deretan angka itu, sesuai dengan prinsip yang mendasari.

1. 8 9 12 17 24
a. 29
b. 31c. 33 d. 35e. 41

2. 1, 3, 4, 7, 9, 13, 16, 21, …, …
a. 25, 27
b. 25, 29
c. 27, 29 d. 27, 31
e. 25, 31

3. 1 1 2 3 5 8 10 18 …
a. 17
b. 19c. 25 d. 27e. 28

4. 15, 15, 14, 12, 9, 5, …
a. 3
b. 2c. 1 d. 0
e. ¬


5. 3 7 16 35 …
a. 54
b. 64c. 70 d. 7e. 74

6. 8, 12, 10, 15, 12, 18, …
a. 11
b. 12c. 14 d. 16
e. 18


7. 15 15 14 12 9 5 …
a. 4
b. 3c. 2 d. 1e. 0

8. 14, 1, 8, 27, 64, 125, …
a. 185
b. 216
c. 236 d. 250
e. 196

9. 1 3 4 7 9 13 16 21 25 …
a. 26
b. 27c. 29 d. 31
e. 36

10. 5, 6, 7, 5, 6, 7, 8, 5, 6, 7, 8, 9, …
a. 4 – 5
b. 5 – 6
c. 6 – 7 d. 7 – 8
e. 8 – 9

11. 4 6 9 14 …
a. 19
b. 21c. 23 d. 24
e. 26

12. 12, 10, 14, 8, 18, 6, …
a. 18
b. 20c. 24 d. 26
e. 28

13. 300 300 150 50 …
a. 25
b. 16,7
c. 12,7 d. 10e. 5

14. 9, 9, 9, 6, 9, 3, …
a. 0
b. 1c. 3 d. 6e. 9

15. 3 8 9 14 27 …
a. 19
b. 32c. 42 d. 81
e. 135



16. 1, 4, 8, 11, 15, …
a. 15
b. 16c. 17 d. 18
e. 19

17. 4 8 8 16 …
a. 16
b. 20c. 24 d. 28
e. 32

18. 50, 40, 31, 24, 18, …
a. 12
b. 13c. 14 d. 15
e. 16

19. 8 12 10 15 12 18 …
a. 14
b. 15c. 17 d. 20
e. 21

20. 1, 7, 7, 2, 8, 6, 3, 9, …
a. 5
b. 6c. 7 d. 8e. 9





















Subtes 2 : Tes Hitungan Dasar
Jumlah soal : 20 soal
Waktu : 30 menit

Petunjuk:
Untuk nomor 21 sampai dengan 40 masing-masing soal terdiri dari deretan angka yang belum selesai. Setiap soal disertai dengan lima pilihan jawaban tertentu. Pilihlah satu jawaban untuk menyelesaikan deretan angka itu, sesuai dengan prinsip yang mendasari.

21. 83 berapa persennya dari 150?
a. 120
b. 122
c. 124 d. 125
e. 126

22. Jika M adalah himpunan huruf yang terdapat pada kata “ CATATAN”, maka banyaknya himpunan bagian dari M yang tidak kosong adalah?
a. 12
b. 13c. 14 d. 15
e. 16

23. √(696 + 232) = ?
a. 29
b. 35c. 38 d. 45
e. 25

24. Berapakah tiga bilangan berurutan jika dipangkatkan berjumlah 50 ?
a. 2, 3, 4
b. 3, 4, 5
c. 4, 5, 6 d. 5, 6, 7
e. 6, 7, 8

25. Berapakah 210,4 : 50,7 = ?
a. 4,15
b. 4,35
c. 4,45 d. 4,75
e. 4,85

26. Jika CJ = 310 dan LP = 1216, maka berapakah GR ?
a. 187
b. 817
c. 718 d. 781
e. 178


27. 0,5 : = ?
a.
b. 0,40
c. 0,56 d. 0,65
e. 0,75

28. Bila c = (a + 2b)/ab ; dimana a = 4 dan b = 3 ; berapakah (a + b)/c ?
a.
b.
c.
d.
e.


29. Berapakah 22 % dari 152?
a. 33,44
b. 44,33
c. 33,33 d. 34,34
e. 44,44

30. 36 x 15 + 85 – 23 x 15 = …
a. 2304
b. 1555
c. 3255 d. 2808
e. 9030

31. Berapakah akar dari { (6)2 + (8)2 } = ?
a. 7
b. 8c. 10 d. 12
e. 14

32. 2,7 % = maka x = …
a. 0,027
b. 0,27
c. 2,7 d. 27
e. 270

33. Jika tabung A tingginya dua kali tinggi tabung B dan jari-jarinya setengah dari tabung B. berapakah perbandingan isi tabung A terhadap isi tabung B ?
a. 1 : 1
b. 1 : 2
c. 2 : 1 d. 1 : 3
e. 3 : 1

34. Jika 10 (33) 13, maka nilai x untuk 18 (x) 17 adalah …
a. 31
b. 33c. 35 d. 37
e. 39
35. Jika 5 x 5 x a = 20 x 25 x 15, maka a = …
a. 200
b. 300
c. 400 d. 500
e. 600

36. Jika = 1,414; maka berapakah nilai + 2 ?
a. 3,124
b. 3,214
c. 3,414 d. 3,456
e. 3,487

37. √ ( ) = ?
a. 0,832
b. 0,732
c. 0,632 d. 0,583
e. 0,532

38. Bilangan manakah yang terkecil ?
a.
b.
c.
d.
e.


39. 5.855 : 15 – 57 = ...
a. 1057
b. 1114
c. 1000 d. 1100
e. 1157

40. 256 x 17 + … = 4425
a. 73
b. 74c. 75 d. 76
e. 78













Subtes 3 : Tes Hitungan Dasar
Jumlah soal : 10 soal
Waktu : 20 menit

Petunjuk:
Untuk nomor 41 sampai dengan 50 terdiri dari soal-soal hitungan. Soal itu menanyakan tentang berbagai hal seperti hitungan sederhana dalam permasalahan aritmatika. Setiap soal disertai lima pilihan jawaban. Jawablah setiap soal dengan memilih satu dari lima pilihan jawaban yang ada.

41. Jarak kota A ke kota B 200 Km. sebuah mobil bergerak dari kota A ke kota B dengan kecepatan rata-rata 20 Km/jam kemudian sebuah mobil lain bergerak dari kota B ke kota A dengan kecepatan rata-rata 20 per 30 menit. Setelah berapa Km kah dari kota B kedua mobil itu bertemu?
a. 60 Km
b. 80 Km
c. 100 Km d. 120 Km
e. 160 Km

42. Dalam suatu pertemuan jumlah peserta yang berusia diatas 30 tahun dua kali lebih banyak dari peserta yang berusia dibawah 50 tahun. Jika jumlah seluruh peserta 250 orang dan jumlah yang berusia dibawah 30 tahun ada 75 orang, maka berapa persenkah jumlah peserta yang berusia 30 tahun?
a. 10 %
b. 30 %
c. 55 % d. 60 %
e. 70 %

43. Seorang siswa SMA memperoleh nilai 92, 88, 75, 87, dan 86 untuk lima mata pelajaran, masing-masing untuk mata pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, dan Bahasa Indonesia. Berapa nilai yang harus diperoleh untuk mata pelajaran keenam (Bahasa Inggris) agar dia memperoleh nilai rata-rata 85?
a. 87
b. 86c. 85 d. 82e. 80






44. Dengan mengendarai mobil, A menempuh jarak sejauh Z Km dengan kecepatan x Km/jam. Jika pulang kembali dengan menempuh jarak yang sama dengan kecepatan y Km/jam, berapakah kecepatan rata-rata pulang pergi?
a. Km/jam
b. Km/jam
c. Km/jam
d. Km/jam
e. Km/jam


45. Seorang petani mampu mengolah sebidang sawah seluas 600m2 selama eman jam. Jika ia menggunakan traktor untuk mengolah tanah, waktu yang dibutuhkan hanya 3 jam. Setelah 1 jam 30 menit menggunakan traktor, tiba-tiba mesin mengalami kerusakan, dan petani harus menyelasaikan tugasnya dengan menggunakan cangkul. Berapa menit lagi yang dibutuhkan petani untuk mengolah tanahnya?
a. 210 menit
b. 180 menit
c. 160 menit d. 120 menit
e. 90 menit

46. Sebuah took music setempat menjual suatu rekaman CD original. Harga umum untuk setiap keeping @ Rp 30.000,-. Jika membeli 2 keping CD sekaligus maka akan diberikan harga jual khusus sebesar Rp 50.500,-. Agung membeli 4 keping CD music original dengan harga jual khusus. Berapa harga jual khusus yang harus dibayar Agung?
a. Rp. 120.000,-
b. Rp. 110.000,-
c. Rp. 105.000,- d. Rp. 101.000,-
e. Rp. 100.000,-

47. Bagian perlengkapan suatu kantor memiliki persediaan 600 rim kertas kwarto HVS. Ia kemudian mengeluarkan persediaan kertas rim-nya pada bagian X, pada bagian Y, dan pada bagian Z. jumlah persediaan kertas rim yang tersisa adalah …
a. 48 rim
b. 85 rim
c. 115 rim d. 125 rim
e. 250 rim









48. Perhatikan himpunan-himpunan berikut ini:
A = {kota kelahiran}
B = {golongan darah}
C = {bulan kelahiran}
Himpunan siswa di sekolahmu adalah domain suatu relasi. Agar terjadi pemetaan, maka dari ketiga himpunan di atas yang dapat menjadi kodomain adalah …
a. { A dan B }
b. { A dan C }
c. { B dan C } d. { A, B, dan C }
e. Semua salah
49. Tukang kebun dengan menggerakkan sabit dapat memotong rumput pada sebidang tanah selama 20 menit. Jika ia menggunakan mesin pemotong rumput waktu yang dibutuhkan hanya 8 menit. Setelah enam menit menggunakan mesin pemotong tiba-tiba mesin rusak dan tukang kebun harus menyelesaikannya dengan menggunakan sabit. Berapa menit lagi yang dibutuhkan tukang kebun untuk menyelesaikan tugasnya?
a. 2 menit
b. 3 menit
c. 4 menit d. 5 menit
e. 6 menit

50. 20 orang tenaga pembantu tukang mendapat upah sebesar Rp. 1.500,- per jam per orang, dan 15 orang tukang mendapat upah Rp. 2.000,- per jam per orang, sedang 10 orang tukang kayu mendapat upah Rp. 2.500,- per jam per orang. Berapa jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar upah tukang tersebut dalam 7 jam kerja?
a. Rp. 510.500,-
b. Rp. 525.500,-
c. Rp. 545.000,- d. Rp. 595.000,-
e. Rp. 605.000,-



















JAWABAN DAN PEMBAHASAN TES POTENSI AKADEMIK

TES KEMAMPUAN VERBAL
Subtes 1 : Padanan Kata
1. (C) Tendensi = kecenderungan
2. (D) Paradoks = lawan asas
“Paradoks” berasal dari kata asing yang memiliki makna “lawan asas”; kebalikan dari asas; bertentangan (kontradiktori)
3. (C) Andal = tangguh
4. (A) dampak = pengaruh
5. (B) Autentik = asli  [1 dapat dipercaya; 2 benar; 3 asli]
6. (D) Baku = standar
7. (C) Relatif = nisbi
Tidak pasti [1 tidak mutlak (pasti); 2 nisbi]
8. (A) Mitra = kawan
9. (D) Preman = dinas
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), “Preman” diartikan sebagai kepunyaan sendiri atau milik pribadi; bukan militer atau tentara, atau tidak sedang berdinas; misalnya mobil preman: bukan mobil dinas (milik pemerintah atau tentara/militer). Sepadan dengan pengertian tersebut adalah “partikelir” yakni tidak/bukan untuk umum; bukan kepunyaan pemerintah; tidak dinas
10. (D) Pialang = makelar
11. (A) Intuisi = bisikan hati
[1 bisikan hati; 2 gerak hati; 3 daya batin untuk mengerti atau mengetahui sesuatu tidak dengan berpikir atau belajar]
12. (A) Karakteristik = ciri
13. (E) Konklusi = kesimpulan
Kesimpulan [menarik kesimpulan; menyimpulkan pendapat]
14. (E) Sinyalir = peringatan
[1 memperingatkan (memberitahukan dsb) supaya memperhatikan atau berawas-awas (terhadap kepada)]
15. (E) Premi = bonus
16. (B) Dawai = kawat
17. (B) Tabulasi = menyusun data yang terkumpul ke dalam bentuk table
18. (B) Dispensasi = pengecualian
19. (C) Klarifikasi = menjelaskan
[Klarifikasi member penjelasan atau uraian terhadap sesuatu hal agar tidak terjadi silang pendapat]
20. (D) Verifikasi = pembuktian
Verifikasi : pembuktian, tahkik; yakni penetapan (penentuan) kebenaran dengan bukti

Subtes 2: Lawan Kata
21. (A) Stabil >< labil 22. (D) Krusial >< sepele 23. (B) Konstan >< berubah-ubah 24. (B) Dinamis >< kondusif 25. (C) Maya >< nyata 26. (D) Perintis >< penerus 27. (D) Aktual >< kadaluarsa 28. (A) Metafisika >< nyata 29. (B) Pakar >< awam 30. (B) Polemik >< rukun 31. (D) Mayor >< Minor 32. (D) Fenomena >< irasional 33. (C) Pasca >< Sebelum 34. (C) Harmoni >< sumbang 35. (C) Kuantitas >< kapasitas 36. (C) Skeptis >< yakin 37. (E) Antagonis >< searah 38. (E) Insomnia >< pulas 39. (C) Adhesi >< kohesi 40. (A) Progresif >< regresi

Subtes 3: Padanan hubungan kata
41. KALKULATOR : CHIP = (A) kepala : otak
Kalkulator tidaka akan bisa bekerja (operasi hitung) tanpa adanya chip, seperti kepala tidak akan bisa berpikir bila tidak ada otak
42. PISAU CUKUR : JENGGOT = (C) sikat : gigi
Alat yang dipakai untuk merapikan jenggot adalah pisau cukur, sedang alat yang dipakai untuk membersihkan gigi adalah sikat gigi
43. PEMILU : LEGISLATIF :: (C) Lamaran : pekerjaan
Untuk menjadi anggota legislatif, seseorang harus mengikuti pemilu. Sedang untuk mendapat pekerjaan seseorang harus memasukkan lamaran
44. SIKU : TANGAN = (A) lutut : kaki
Tangan tidak bisa ditekukan tanpa adanya siku, seperti kaki tidak bisa ditekuk apabila tidak ada lutut
45. YOGYA : PELAJAR :: (D) Surabaya : pahlawan
Dalam hubungan ini antara nama tempat (kota) dihubungkan dengan atribut orng bukan nama tempat atau sejenis panganan, atau buah-buahan. Yogya sering disebut juga sebagai kota pelajar, seperti Surabaya sering disebut kota pahlawan
46. AYAM : TELUR = (C) sapi : susu
Ayam menghasilkan telur seperti sapi menghasilkan susu
47. API : PANAS = (C) es : dingin
Api bila disentuh terasa panas, demikian juga dengan es bila disentuh terasa dingin
48. PROYEK : PROPOSAL :: (B) kredit : jaminan
Orang atau perusahaan yang ingin mendapat proyek harus mengajukan proposal. Seperti ingin mendapat kredit harus mengajukan jaminan
49. BAN : KEMPES : POMPA = (C) meja : debu : lap
Ban yang kemps harus dipompa, begitu juga meja yang berdebu harus di lap (dibersihkan)
50. TELUR : BERUDU : KATAK :: (E) bayi : kanak-kanak : dewasa
Ada tiga fase yang harus dilalui oleh mahluk hidup dalam hidupnya. Bermula dari telur terus berubah menjadi berudu, setelah besar dinamakan katak. Demikian juga dengan manusia, bermula bayi kemudian memasuki masa kanak-kanak setelah besar dinamakan dewasa
51. GITAR : KAYU : MUSIK :: (B) bola : karet : volley
Alat music gitar terbuat dari kayu dipergunakan untuk bermain music, seperti bola terbuat dari karet yang dipergunakan untuk bermain volley (nama salah satu jenis olahraga yang menggunakan bola)
52. TEMBAKAU : ROKOK : KANKER :: (D) kambing : gulai : darah tinggi
Daun tembakau diolah menjadi rokok, bila orang terlalu banyak merokok akan menderita penyakit kanker. Seperti daging kambing yang diolah menjadi gulai, bila orang terlalu banyak makan gulai bisa menyebabkan penyakit darah tinggi
53. PEKERJAAN : MASALAH : FRUSTASI :: (B) jatuh : luka : khawatir
Bila pekerjaan tidak pernah selesai akan menimbulkan masalah sehingga membuat hati menjadi frustasi. Sedangkan bila kita jatuh yang dapat menimbulkan luka sehingga membuat hati menjadi khawatir
54. ROKOK : HISAP : BATUK :: (A) uang : judi : pailit
Rokok apabila terlalu banyak dihisap akan menyebabkan batuk, seperti uang bila dipakai untuk berjudi akan menyebabkan pailit
55. KIJANG : CEPAT :: SIPUT : (C) lambat
Kijang bergerak cepat. Bila siput dihubungkan dengan kijang yang geraknya cepat, maka sedang siput bergerak sangat lambat
56. KUMAN : PENYAKIT :: API (D) kebakaran
Kuman dapat menimbulkan penyakit. Bila api dihubungkan dengan kuman yang dapat menimbulkan sesuatu yang merugikan, maka api dapat dianalogikan dengan kebakaran
57. SPEDOMETER : KECEPATAN = jam : (C) waktu
Spedometer adalah alat untuk menunjukkan keadaan laju kendaraan (kecepatan), sedang jam alat untuk menunjukkan keadaan waktu
58. RAMALAN : PASTI = potensi : (A) fakta
Ramalan adalah sesuatu keadaan yang belum pasti, sedang potensi adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu, fakta yang kini terjadi
59. BISA : RACUN = dapat : (D) bisa
Bisa juga berarti racun, seperti dapat juga sama makna dengan bisa
60. SEKUTU : KOMPETENSI = kooperasi : (C) versus
Sekutu saling kerja sama, kompetisi adalah saling berlomba atau bertanding. Kooperasi saling kerjasama, versus berarti melawan musuh
TES KEMAMPUAN KUANTITATIF
Subtes 1: Deret Angka
1. C. 33 [penambahan bilangan ganjil dari 1,3,5,7,9]
2. E. 25, 31 [ada dua pola dalam deret angka ini. Pertama, 1 + 3 = 4; 4 + 5 = 9; 9 + 7 = 16, dan 16 + 9 = 25; pola kedua, 3 + 4 = 7; 7 + 6 = 13; 13 + 8 = 21, dan 21 + 10 = 31]
3. E. 28 [penambahan angka didepannya]
4. D. 0 [seri ini memiliki pola –n  15 – 0 = 15; 15 – 1 = 14; 14 – 2 = 12; 12 – 3 = 9; 9 – 4 = 5; 5 – 5 = 0]
5. E. 74 [selisih angka pertama dan kedua di X 2 + 1 dst]
6. C. 14 [terdapat dua seri, seri pertama memiliki pola n + 2, dan seri kedua memiliki pola n + 3]
7. E. 0 [pengurangan urut dari yang terkecil dan ke yang besar 0, 1, 2, dst]
8. B. 216 [angka yang berikutnya adalah perkalian dari deret berikut ini 2 x 4 = 8; 3 x 9 = 27; 4 x 16 = 61; 5 x 25 = 125; dan 6 x 36 = 216]
9. D. 31 [penambahan urut dari bilangan yang terkecil ke yang besar]
10. B. 5 – 6 [seri itu 5, 6, 7 kemudian anggotanya bertambah 4 suku menjadi 5, 6, 7, 8 lalu anggotanya bertambah satu lagi menjadi 5, 6, 7, 8, 9]
11. B. 21 [penambahan bilangan prima]
12. D. 26 [seri pertama memiliki pola berikut; 12 + 2 = 14; 14 + (2 x 2) = 18; 18 + (2 x 4) = 26
13. D. 10 [pembagian dari 1, 2 dst]
14. A. 0 [seri berikut yang kedua adalah dengan mengurangi angka sebelumnya  9 – 6 = 3; 3 – 3 = 0]
15. C. 42 [penambahan selang seling dengan angka 1, 5, 13]
16. D. 18 [seri itu adalah +3, +4, +3, +4, (+3)  (15 +3) = 18]
17. A. 16 [penambahan dengan penyebut ditambah nol]
18. B. 13 [seri itu menurun 10, 9, 8, 7, 6 dan 5; (18 – 5) = 13]
19. A. 14 [penambahan dan pengurangan urut]
20. A. 5 [seri itu 1, 2, 3,; 7, 8, 9; dan 7, 6 (5)]

Subtes 2: Hitungan Dasar
21. B. 122  (183 : 150 x 100 %)
22. D. 15 [jika himpunan M = {C, A, T, N}  n = 4. Jumlah himpunan bagian M = 24 = 16; banyak himpunan bagian M yang kosong = 1. Jadi banyak himpunan yang tidak kosong = 16 – 1 = 15]
23. B. √(696 + 232) = √(696 + 529) = √1225 = 35
24. B. 3, 4, 5 [jika 32 + 42 + 52 = 9 + 16 + 25 = 50]
25. A. 4,1499 dibulatkan 4,15
26. C. 718 [C dalam abjad menempati urutan 3; J = 10; dan L = 12; P = 16. Jadi G = 7 dan R = 18  GR = 718]
27. C. ( ) – ( )2 = = = =
28. A.
29. A. 152 x 0,22 = 33,44
30. E. 9030 [dengan mengabaikan aturan mana yang harus didahulkan maka hasil tersebut adalah 36 x 15 = 540 + 85 = 625 – 23 = 602 x 15 = 9030]
31. C. [62 + 82 = 36 + 64 = 100  √100 = 10]
32. D. 27 [2,7 : 100 = 0,027  x = 0,027 x 1000 = 27]
33. B. [1 : 2]
34. C. 35 [dengan mengikuti pola bilangan di sebelah kanan ditambah dengan bilangan di sebelah kiri akan diperoleh hasil diantara dua bilangan tersebut, maka untuk 18(x) 17  18 + 17 = 35. Jadi x = 35]
35. B. 300 [5 x 5 x a = 20 x 25 x 15 25a = 7500  a = 7500 : 25 = 300]
36. C. 3,414 [1,414 + 2 = 3,414]
37. C. = = = 0,632
38. E. [ = 0,33; = 1,73; = 1,1; = 1; = 0,19]
39. C. 1000 [15.855 : 15 = 1057 – 57 = 1000]
40. A. 73 [256 x 17 + … = 4425  (256 x 17) + x = 4425  4352 + x = 4425  4425 – 4352 = 73]

Subtes 3: Penalaran Aritmatik
41. (D) 120 Kn
42. (A) 10 %
43. (D) 82
44. (B)
45. (B) 180 menit
46. (D) Rp. 101.000,-
47. (D) 125 rim
48. (B) {A dan C}
49. (A) 2 menit
50. (D) Rp. 595.000,-







Contoh tes psikologi

Tes psikologi adalah tool atau alat yang digunakan untuk mengungkap sisi-sisi psikologis peserta tes. Tentunya bahwa tes psikologi ini hanya diketahui cara pengadministrasian dan interpretasi oleh pakar psikologi (psikolog).
Tes psikologi sangat beragam dari segi jumlah. Tetapi penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya untuk mengukur kecepatan dan kestabilan kerja digunakan tes Kraeplin atau Tes Pauli, untuk mengukur leadership (kepemimpinan), arah kerja (work style) dan lain-lain digunakan test Papi Kostick.
Berikut adalah contoh tes-tes psikologi:
TES PAPI KOSTICK (PERSEPTUAL AND PREFERENCE INVENTORY TEST)
TES KEPRIBADIAN (PERSONALITY TEST)
TES GRAFIS
TES SITUASIONAL
TES INVENTORY (INVENTORY TEST)
TES GATB (GENERAL APTITUDE TEST BATTERAY)
TES DAT (DIFFERENTIAL APTITUDE TEST)
TES PAULI
TES RORSCHACH
TES MMPI (MINNESOTA MULTIPHASIC PERSONALITY INVENTORY)
TES TAT (THEMATIC APPERCEPTION TEST)
TES FACT (FLANAGAN APTITUDE CLASIFICATION TEST)
TES RMIB (ROTHWELL MILLER INTEREST BLANK)
TES KPR-V (KUDER PREFERENCE RECORD-VOCATIONAL)
TES SSCT (SACK SENTENCE COMPLETION TEST)
TES WAIS (WESHCLER ADULTH INTELLIGENCE SCALE)
TES DAP (TES DROW PERSON)
TES PROYEKSI
TES MBTI (MYERS-BRIGS TYPE INDICTOR)


UNGKAP KEPRIBADIAN DARI GAYA BERJALAN

Banyak cara untuk mengungkap kepribadian seseorang. Salah satu cara yang paling praktis dan mudah diamati adalah dari gaya berjalan. Anda bisa menebak kepribadian seseorang dengan hanya mengamatinya dari jauh. Ini adalah cara praktis yang membutuhkan keahlian, ketelitian dan kejelian. Hasil yang didapat, memang terkadang eror, sehingga perlu kroscek dengan alat ungkap kepribadian yang lain untuk dicompare (pembanding).
Karaktersitik kepribadian yang dapat diungkap melalui cara berjalan antara lain, posisi badan pada saat berjalan, posisi tangan, pandangan/sorot mata dan lain-lain.
Orang perfect
Cara berjalan cepat, padangan tertuju kedepan dan tidak menghiraukan keadaan disamping kiri atau kanan. Biasanya orang seperti ini adalah orang-orang yang dikejar-kejar waktu, sibuk dengan jadwal yang harus diikuti, dan kurang ada waktu untuk bercanda dijalan jika ketemu dengan teman atau kenalan.
Orang santai, tidak ada tekanan
Cara berjalan kadang lambat, mudah teralihkan perhatiannya kesamping pada saat berjalan, sangat antusias jika ketemu teman atau kenalan dijalan. Biasanya orang seperti ini, tidak ada waktu yang mengikat untuk dipenuhi segera.
Orang dalam keadaan ada masalah atau tidak PD (pecaya diri)
Hal ini bisa terbaca dari gerakan dan ayunan tangan orang yang sedang berjalan. Jika posisi tangan berada dibelakang atau dimasukkan dalam saku celana atau jaket, maka kemungkinan orang tersebut adalah orang yang tidak PD (tidak percaya diri), sedang ada masalah yang mengancam atau ada masalah yang membuatnya tidak tenang. Orang seperti ini biasanya orang yang bersifat pemalu, kurang percaya diri tampil didepan umum, dan kadang dengan gaya bicara yang kurang meyakinkan.
Orang optimis
Jika ayunan tangan berada disamping dan sesekali lengan diangkat kedepan, menandakan bahwa orang tersebut adalah orang optimis. Badan sedikit dibungkukkan kedepan, menandalan bahwa seseorang optimis dengan tujuan. Gaya berjalan juga cepat, disertai sorot/padangan mata yang mantap dan tajam.

Selasa, 05 Juni 2012

Defenisi & Ruang Lingkup Psikologi Sosial


Definisi Psikologi Sosial

Psikologi Sosial merupakan cabang termuda dari psikologi (Sarwono, 1997)
Psikologi Sosial adalah kajian ilmiah yang berusaha memahami keadaan dan sebab-sebab terjadinya perilaku individu dalam situasi sosial (Baron & Byrne, 2004)

Sejarah Psikologi Sosial

Psikologi sosial ditandai dengan terbitnya dua buah buku berjudul sama “Social Psychology” pada tahun 1908 yang ditulis oleh dua ilmuwan dari dua disiplin yang berbeda, yaitu W.McDoughall (Psikologi) dan Ross (Sosiologi) (Baron & Byrne, 2004)

Tahun 1924 F. Allport mengeluarkan buku yang berjudul sama tetapi menggunakan pendekatan yang majemuk (Baron & Byrne, 2004)

Dimasa perang dunia pertama dan perang dunia kedua, perhatian psikologi sosial berkembang kearah studi tentang otoritarianisme (kekuasaan) (Baron & Byrne, 2004)
Setelah perang dunia selesai, psikologi sosial mulai mempelajari interaksi sosial

Proses pendewasaan Psi Sosial mencapai puncaknya antara tahun 1970-1980 dengan berbagai penelitian mengenai atribusi, sikap, gender, diskriminasi seksual, dll. Tahap ini ditandai juga dengan berkembangnya penelitian - penelitian psi sosial terapan (Baron & Byrne, 2004) seperti psi kesehatan, psi hukum, psi lingkungan, psi kepolisian (Sarwono, 1997)

Psi Sosial juga memiliki berbagai Jurnal, baik dari dalam maupun luar negeri. Jurnal Psi sosial yang pertama adalah “Jounal of Abnormal & Social Psychology” yang terbit tahun 1922 (Shaver, 1977 dalam Sarwono, 1997)

Hubungan Psikologi Sosial dengan disiplin ilmu lain

Faal/ Biologi
Psikiatri
Sosiologi
Antropologi


DASAR-DASAR PERILAKU SOSIAL

Sumber Perilaku adalah motivasi

Beberapa teori motivasi
Teori Hirarki Kebutuhan ( A. Maslow, 1953)
Kebutuhan Manusia :
Physiological
Safety & Security
Social (Belongingness & Love)
Esteem
Self Actualization


Teori Tiga Motif Sosial (D.McClelland)

Achievement Motive (nAch): Motif untuk berprestasi

Affiliation Motive (nAff): Motif untuk bersahabat.

Power Motive (nPow) : Motif untuk berkuasa


Secara garis besar ada dua jenis motivasi

Motivasi Internal
Motivasi Eksternal

Sherif & Sherif, 1956 dlm Sarwono, 1977
Motivasi Biogenik
Motivasi Sosiogenik


TEORI PSIKOLOGI SOSIAL


TEORI PSIKOANALIS DAN BIOLOGI
Psikoanalisis
Ciri utama : ketidaksadaran
Sigmund Freud (1856-1939)
Ada dua jenis insting
Eros ( naluri kehidupan)
Tanatos (naluri kematian)
Tiga komponen kepribadian
Id ~ pleasure principle
Ego ~ reality priniple
Super ego ~ moral standard

Carl Gustav Jung (1875-1961)
Ketidaksadaran kolektf dan keidaksadaran Pribadi
Tiga macam tipe kepribadian
Ekstrovert
Introvert
Ambivalen
4 Tipe reaksi manusia
Rational
Intuisi
Emosi
Sensasi
Erik Erikson
Krisis sepanjang hidup dalam rangka penyesuaan diri terhadap lingkungan
Trust vs Mistrust (0-1th)
Otonomi vs Shame and Doubt (1-3 th)
Industry vs Inferiority (3-6 th)
Identity vs Identity diffusion (6-12 th)
Intimacy vs Isolation (20-40 th)
Generativity vs Stagnacy (40 -65 th)
Integritu vs Despair (65 th keatas)

Karen Horney
Psikologi wanita tidak sama dengan Psikologi pria
Peran feminim pada wanita dan maskulin pada pria terjadi karena proses sosialisasi pada masa kanak-kanak

Alfred Adler
Organ inferiority
Inferiority feeling

William Schutz

Tipe kepribadian berdasarkan pengalaman seseorang pada masa kanak-kanaknya
Kontrol expressed  Selalu ingin mengatur/ menguasai orang lain
Kontrol wanted  Cenderung senang diatur, diberi petunjuk, diberi pengarahan
Inklusi expressed  Cenderung ingin melibatkan orang lain
Inklusi wanted  Cenderung ingin dilibatkan atau diajak oleh orang lain
Afeksi expressed Selalu ingin memberi kasih sayang kepada orang lain
Afeksi wanted  Selalu ingin disayang

Biologi

1. Etologi (C. Darwin, Konrad Lorenz, Niko Tinbergen, John Bowlby)
Etologi : Ilmu tentang dasar-dasar Evolusi dari perilaku dan perkembangan
Perilaku sosial pada spesies sudah terprogram secara biologik sebagai hasil evolusi dan hasil proses survival
Contoh pada unggas imprinting
Pada manusia, bayi menangis dan menjerit jika lapar

2. Sosiobiologi ( E.O. Wilson, 1975)
Prilaku adaptif demi kelangsungan gen-gen

3. Genetika dan Perilaku
Kombinasi antara genetik dan pengaruh perilaku
Tiga jenis temperamen (sifat) pada anak
Easy temperament
Difficult temperament
Slow to warm-up temperament
ENVIROMENTALIS
Teori Belajar Sosial
(J.B Watson, B.F Skinner, Albert Bandura)
Perilaku manusia selalu dikendalikan oleh faktor luar (lingkungan, rangsangan, stimulus)
Positive reinforcement
Negative reiforcement
Bandura ; Proses belajar tidak hanya tergantung pada faktor lingkungan tapi juga faktor kognitif

Pandangan Ekologi (Bronfenbrenner)

Perilaku dipengaruhi oleh faktor-fakor dari luar yang tersusun dalam lingkaran yang berlapis-lapis
Lingkaran pertama : mikro-sistem
Liingkaran kedua : meso-sistem
Lengkaran ketiga : exo-sistem
Lingkaran terluar : makro-sistem

KOGNITIF
Segala informasi yang masuk diproses dalam kognisi manusia sebelum akhirnya dijadikan keputusan, kesimpulan, pandangan, sikap atau perilaku
Piaget : Perkembangan Kognitif
Tahap Prasensori motorik ( 0-1 th)
Tahap Pra operasional (2-7 th)
Tahap Operasional kongkrit (7-11th)


PERSEPSI, ATRIBUSI, DAN KOGNISI SOSIAL

Persepsi : Proses pencarian informasi untuk difahami
Alat untuk memperoleh informasi: pengindraan
Alat untuk memahami : kognisi
Atribusi : Penjelasan / perkiraan dibalik perilaku seseorang
Persepsi dan atribusi bersifat sangat subjektif

KOMUNIKASI, SIKAP DAN PRASANGKA

Sikap: kesiapan untuk merespon / menilai terhadap suatu objek.
Perbedaan sikap dengan sifat
Sikap mengandung 3 domain
Affective (perasaan), Behavior (perilaku), Cognitive (kesadaran) (Myers, 1996)
Korelasi sikap dan perilaku
Pengukuran sikap

Prasangka : Sikap yang negatif terhadap kelompok tertentu atau seseorang, semata-mata karena keanggotaannnya dalam kelompok tsb (Baron & Byrne, 2004)
Teori prasagka
Teori konflik kelompok
Teori belajar sosial
Teori kognitif
Teori psikodinamika

Sumber-sumber prasangka
Interaksi sosial
Ketidakadilan
In-group-outgroup
Konformitas
Dukungan institusional
Konflik antar kelompok
Dinamika kepribadian
Frustasi agresi/ “kambing hitam”
Sense of belonging
Kepribadian otoriter
Faktor kognitif

*Bentuk-bentuk prasangka
Prasanga rasial
Prasagka jenis kelamin
Prasangka agama
Prasangka lain (dll)

*Mengurangi prasangka
Pembagian sumber daya alam
Sosialisasi
Kontak langsung



Jumat, 11 Mei 2012

PENELITIAN DALAM PSIKOLOGI KLINIS

Disusun oleh :
Adi Handoko (11080029)
Fakultas Psikologi
Universitas Borobudur 2012





PENELITIAN DALAM PSIKOLOGI KLINIS


TUJUAN PENELITIAN
- Penelitian dapat menghindarkan dari keadaan spekulatif yang murni
- Memperluas dan memodifikasi teori yang telah ada, sebagaimana peneltiian dapat mengembangkan manfaat dan kegunaan teori

METODE PENELITIAN
Pada dasarnya hampir sama dengan metode penelitian umum, namun tujuan dan penekanannya adalah untuk keperluan populasi khusus misalnya mengetahui efektivitas suatu perlakuan pada kelompok tertentu.

1. Observasi
Tujuan observasi :
- untuk keperluan asesment awal
- untuk menentukan kelebihan dan kelemahan observee
- untuk merancang rencana individual bagi klien
- sebagai dasar / titik awal dari kemajuan klien
- bagi anak2 berguna mengetahui perkembangannya pada tahap tertentu

2. DIMENSI OBERVASI
- Partisipan dan non partisipan
- Overt dan Covert
- Alamiah dan Buatan
Dengan berbagai kombinasi yaitu partisipan-overt-alamiah (poa), non partisipan-overt-alamiah (noa), partisipan-covert-buatan (pcb)

3. ALAT OBSERVASI
- Anecdotal ” Observer mencatat hal-hal yang penting”
- Catatan berkala ”Mengadakan observasi cara-cara orang bertindak dalam jangka waktu tertentu, kemudian menuliskannya kesan-kesan umumnya.
- Check List ” suatu daftar yang berisi nama-nama subjek dan faktor-faktor yang hendak diselidiki, agar jadi sistematis

4. RATING SCALE
”Pencatatan gejala menurut tingkat-tingkatnya”

Observer memiliki kesesatan, yaitu :
- Hallo Effect
Jika observer dalam pencatatannya terpikat oleh kesan umum yang baik pada observee
- Generosity Effect
Keadaan yang kurang baik, cecenderungan untuk menilai yang menguntungkan / merugikan observee
- Carry over Effect
Pencatat tidak dapat memisahkan satu gejala dari yang lain dan jika gejala yang satu kelihatan timbul dalam keadaan yang baik, gejala yang lainnya juga dicatat juga dalam keadaan yang baik.


5. MECHANICAL DEVICES
Perkembangan alat-alat optika yang maju memungkinkan seorang observer menggunakan alat pencatat mesin seperti kamera video untuk menyelediki tingkah laku orang.
OBSERVER menurut Spradley (1980)
1. Observer tidak berperan sama sekali
2. Observer berperan pasif
3. Observer berperan aktif
4. Observer berperan penuh

Hal-hal yang diobservasi
1. Penampilan fisik
2. gerakan tubuh/penggunaan anggota tubuh
3. ekspresi wajah
4. pembicaraan
5. reaksi emosi
6. aktivitas yang dilakukan

Langkah-langkah dalam Observasi (Rummel)
1. Peroleh dahulu pengetahuan apa yang akan diobservasi
2. selidiki tujuan-tujuan yang umum maupun khusus dari problem research untuk menentukan apa yang harus diobservasi
3. Buatlah suatu cara untuk mencatat hasil-hasil observasi
4. Adakan dan batasi dengan tegas macam-macam tingkah kategori yang diragukan
5. adakan observasi secermat-cermatnya
6. catatlah tiap-tiap gejala secara terpisah
7. ketahui alat pencatatan dengan baik dan tata caranya

METODE PENELITIAN EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi adalah kajian mengenai insidensi, prevalensi, dan distribusi penyakit dalam sebuah populasi.
Insidensi berkaitan dengan tingkat kasus baru dari suatu penyakit yang berkembang dalam suatu periode waktu
Prevalensi mengacu pada rata-rata kasus baru atau lama dalam suatu periode waktu

METODE KORELASIONAL
Metode korelasi ini ditujukan untuk mengukur korelasi (faktor-faktor resiko) dari suatu penyakit atau suatu gangguan (Phares dan Trull, 2001) teknik korelasi membantu peneliti untuk melihat apakah variabel X berhubungan dengan variabel Y. Misalnya apakah suatu pola tertentu dari skor tes intelegensi berhubungan dengan gangguan psikatrik tertentu?

PENELITIAN LONGITUDINAL VS CROSS-SECTIONAL
Cross sectional adalah suatu cara untuk mengevaluasi atau membandingkan individu-individu, mungkin dari kelompok usia yang berbeda namun dalam waktu yang sama. Misal membandingkan anak usia 5 tahun dengan anak usia 10 tahun di tahun 2006.
Disain Longitudinal meneliti sejumlah orang yang sama dalam kurun waktu tertentu. Misal meneliti sekelompok anak yang dibesarkan di panti asuhan antara tahun 1990-2005

METODE PENELITIAN EKSPERIMENTAL
Metode eksperimental perlu dilakukan untuk melihat adanya suatu hubungan sebab akibat antara dua peristiwa. Misal seorang peneliti ingin melihat apakah ada pengaruh pemberian pelatihan pengembangan diri untuk meningkatkan kemampuan berpikir positif.

Bentuk disain eksperimental :
- Disain antar kelompok (between group designs), ketika peneliti memisahkan dua kelompok partisipan yang masing-masing menerima stimulus yang berbeda kemudian membandingkan hasil keduanya.
- Disain dalam kelompok (within group designs), bila satu individu dalam kelompok terapi relaksasi dibandingkan kemajuannya dalam beberapa periode misalnya setelah satu minggu, dua minggu


METODE DISAIN SATU KASUS
Disain satu kasus merupakan pengembangan dari pendekatan operan dan pendekatan behavioral. Desain satu kasus adalah perwujudan dari pendekatan perilaku yang mengutamakan pengukuran perilaku nyata seperti yang disampaikan dalam belajar operan (Phares dan Trull,2001). Misal seorang eksperimenter mengukur perilaku subjek dalam beberapa kondisi dan dalam kondisi tersebut diterapkan berbagai teknik eksperimental namun fokus dari eksperimental adalah respon-respon dari satu subjek saja..

DISAIN GANDA atau multiple baseline design
Dua perilaku atau lebih dipilih untuk dianalisis. Misal di rumah atau di ruang terapi.

PENELITIAN PSIKOTERAPI, SEBUAH KEKHUSUSAN
Pengetahuan mengenai psikoterapi dapat diperoleh melalui sejumlah cara, yaitu
- Studi Kasus, kajian mendalam terhadap kasus individual, keterbatasannya studi kasus tidak terkontrol, sering tidak sistematis, generalisasi, dan tidak pasti
- Survei klinis, dengan cara mendata status pasien yang telah membaik atau tidak membaik
- Penelitian korelasional, kekurangan adanya jarak yang juga bervariasi, keuntungan tidak memerlukan kontrol dan manipulasi
- Eksperimental, metode paling murni dalam memperoleh pengetahuan dan menguji teori.


Sumber: Psikologi Klinis
Tristiadi Ardi Ardani,Iin Tri Rahayu, Yulia Sholichatun

KONSELING KELUARGA

A.Pengertian Konseling Keluarga

Konseling adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang pembimbing (konselor) kepada seseorang konseli atau sekelompok konseli (klien, terbimbing, seseorang yang memiliki problem) untuk mengatasi problemnya dengan jalan wawancara dengan maksud agar klien atau sekelompok klien tersebut mengerti lebih jelas tentang problemnya sendiri dan memecahkan problemnya sendiri sesuai dengan kemampuannya dengan mempelajari saran-saran yang diterima dari Konselor. Sedangkan arti dari keluarga adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga. Konseling keluarga pada dasarnya merupakan penerapan konseling pada situasi yang khusus. Konseling keluarga ini secara memfokuskan pada masalah-masalah berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga.
Menurut D. Stanton konseling keluarga dapat dikatakan sebagai konselor terutama konselor non keluarga, yaitu konseling keluarga sebagai (1) sebuah modalitas yaitu klien adalah anggota dari suatu kelompok, yang (2) dalam proses konseling melibatkan keluarga inti atau pasangan ( Capuzzi, 1991 ) Konseling keluarga memandang keluarga secara keseluruhan bahwa anggota keluarga adalah bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari anak (klien) baik dalam melihat permasalahannya maupun penyelesaiannya. Sebagai suatu system, permasalahan yang dialami seorang anggota keluarga akan efektif diatasi jika melibatkan anggota keluarga yang lain. Pada mulanya konseling keluarga terutama diarahkan untuk membantu anak agar dapat beradaptasi lebih baik untuk mempelajari lingkungannya melalui perbaikan lingkungan keluarganya (Brammer dan Shostrom,1982). Yang menjadi klien adalah orang yang memiliki masalah pertumbuhan di dalam keluarga. Sedangkan masalah yang dihadapi adalah menetapkan apa kebutuhan dia dan apa yang akan dikerjakan agar tetap survive di dalam sistem keluarganya.
Pada masa lalu, menurut Moursund (1990), konseling keluarga terfokus pada salah satu atau dua hal, yaitu (1) keluarga terfokus pada anak yang mengalami bantuan yang berat seperti gangguan perkembangan dan skizofrenia, yang menunjukan jelas-jelas mengalami gangguan; dan
(2) keluarga yang salah satu atau kedua orang tua tidak memiliki kemampuan, menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam member kelola anggota keluarga, dan biasanya memiliki sebagian masalah. Anak di dalam suatu keluarga sering kali mengalami masalah dan berada dalam kondisi yang tidak berdaya di bawah tekanan dan kekuasaan orang tua. Permasalahan anak adakalanya diketahui oleh orang tua dan sering kali tidak diketahui orang tua. Permasalahan yang diketahui orang tua jika fungsi-fungsi psikososial dan pendidikannya terganggu orang tua akan mengantarkan anaknya ke konselor jika mereka memahami bahwa anaknya sedang mengalami gangguan yang berat. Karena itu konseling keluarga lebih banyak memberikan pelayanan terhadap keluarga dengan anak yang mengalami gangguan. Hal kedua berhubungan dengan keadaan orang tua. Banyak dijumpai orang tua tidak berkemampuan dalam mengelola rumah tangganya, menelantarkan kehidupan rumah tangganya sehingga tidak terjadi kondisi yang berkesinambungan dan penuh konflik, atau memberi perlakuan secara salah (ubuse) pada anggota keluarga lain, dan sebagainya merupakan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Jika mengerti dan berkeinginan untuk membangun kehidupan keluarga yanag lebih stabil, mereka membutuhkan konseling. Perkembangan belakangan konseling keluarga tidak hanya menangani dua hal tersebut. Permasalahan lain yang juga ditangani karena anggota keluarga mengalami kondisi yang kurang harmonis di dalam keluarga akibat stressor perubahan-perubahan budaya, cara-cara baru dalam mengatur keluargannya, dan cara menghadapi dan mendidik anak-anak mereka. Berdasarkan pengalaman dalam penanganan konseling keluarga, masalah yang dihadapi dan dikonsultasikan kepada konselor antara lain: keluarga dengan anak yang tidak patuh terhadap harapan orangtua, konflik antar anggota keluarga, perpisahan diantara anggota keluarga karena kerja di luar daerah dan anak yang mengalami kesulitan belajar atau sosialisasi. Berbagai permasalahan-permasalahan keluarga tersebut dapat diselesaikan melalui konseling keluarga. Konseling keluarga menjadi efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut jika semua anggota keluarga bersedia untuk mengubah system keluarganya yang telah ada dengan cara-cara baru untuk membantu mengatasi anggota keluarga yang bermasalah. Sebagaimana di kemukakan di bagian awal, konseling keluarga dalam beberapa hal memiliki keuntungan. Namun demikian konseling keluarga juga memiliki beberapa hambatan dalam pelaksanaannya, dan perlu dipertimbangkan oleh konselor jika bermaksud melakukannya. Hambatan yang dimaksud di antarannya: 1.Tidak semua anggota keluarga bersedia terlibat dalam proses konseling karena mereka menganggap tidak berkepentingan dengan usaha ini, atau karena alasan kesibukan, dan sebagainya; dan
2.Ada anggota keluarga yang merasa kasulitan untuk menyampaikan perasaan dan sikapnya secara terbuka dihadapan anggota keluarga lain, padahal konseling membutuhkan keterbukaan ini dan saling percayaan satu sama lain.

B.Pendekatan Konseling Keluarga Untuk memahami mengapa suatu keluarga bermasalah dan bagaimana cara mengatasi masalah-masalah keluarga tersebut, berikut akan dideskripsikan secara singkat beberapa pendekatan konseling keluarga.

Tiga pendekatan konseling keluarga yang akan diuraikan berikut ini, yaitu pendekatan system, conjoint, dan struktural.
1.Pendekatan Sistem Keluarga Murray Bowen merupakan peletek dasar konseling keluarga pendekatan sistem. Menurutnya anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (disfunctining family). Keadaan ini terjadi karena anggota keluarga tidak dapat membebaskan dirinya dari peran dan harapan yang mengatur dalam hubungan mereka. Menurut Bowen, dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama dan kekuatan itu dapat pula membuat anggota keluarga melawan yang mengarah pada individualitas. Sebagian anggota keluarga tidak dapat menghindari sistem keluarga yang emosional yaitu yang mengarahkan anggota keluarganya mengalami kesulitan (gangguan). Jika hendak menghindari dari keadaan yang tidak fungsional itu, dia harus memisahkan diri dari sistem keluarga. Dengan demikian dia harus membuat pilihan berdasarkan rasionalitasnya bukan emosionalnya.
2.Pendekatan Conjoint Sedangkan menurut Sarti (1967) masalah yang dihadapi oleh anggota keluarga berhubungan dengan harga diri (self-esteem) dan komunikasi. Menurutnya, keluarga adalah fungsi penting bagi keperluan komunikasi dan kesehatan mental. Masalah terjadijika self-esteem yang dibentuk oleh keluarga itu sangat rendah dan komunikasi yang terjadi di keluarga itu juga tidak baik. Satir mengemukakan pandangannya ini berangkat dari asumsi bahwa anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.
3.Pendekatan Struktural Minuchin (1974) beranggapan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur kaluarga dan pola transaksi yang dibangunn tidak tepat. Seringkali dalam membangun struktur dan transaksi ini batas-batas antara subsistem dari sistem keluarga itu tidak jelas. Mengubah struktur dalam keluarga berarti menyusun kembali keutuhan dan menyembuhkan perpecahan antara dan seputar anggota keluarga. Oleh karena itu, jika dijumpai keluarga itu dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang baru yang lebih sesuai. Berbagai pandangan para ahli tentang keluarga akan memperkaya pemahaman konselor untuk melihat masalah apa yang sedang terjadi, apakah soal struktur, pola komunikasi, atau batasan yang ada di keluarga, dan sebagainya. Berangkat dari analisis terhadap masalah yang dialami oleh keluarga itu konselor dapat menetapkan strategi yang tepat untuk mambantu keluarga.

C.Tahapan Konselor Keluarga

Tahapan konseling keluarga secara garis besar dikemukakan oleh Crane (1995:231-232) yang mencoba menyusun tahapan konseling keluarga untuk mengatasi anak berperilaku oposisi. Dalam mengatasi problem, Crane menggunakan pendekatan behavioral, yang disebutkan terhadap empat tahap secara berturut-turut sebagai berikut.
1.Orangtua membutuhkan untuk dididik dalam bentuk perilaku-perilaku alternatif. Hal ini dapat dilakukan dengan kombinasi tugas-tugas membaca dan sesi pengajaran.
2.Setelah orang tua membaca tentang prinsip dan atau telah dijelaskan materinya, konselor menunjukan kepada orang tua bagaimana cara mengajarkan kepada anak, sedangkan orang tua melihat bagaimana melakukannya sebagai ganti pembicaraan tentang bagaimana hal inidikerjakan. Secara tipikal, orang tua akan membutuhkan contoh yang menunjukan bagaimana mengkonfrontasikan anak-anak yang beroposisi. Sangat penting menunjukan kepada orang tua yang kesulitan dalam memahami dan menetapkan cara yang tepat dalam memperlakukan anaknya.
3.Selanjutnya orang tua mencoba mengimplementasikan prinsip-prinsip yang telah mereka pelajari menggunakan situasi sessi terapi. Terapis selama ini dapat member koreksi ika dibutuhkan. 4.Setelah terapis memberi contoh kepada orang tua cara menangani anak secara tepat. Setelah mempelajari dalam situasi terapi, orang tua mencoba menerapkannya di rumah. Saat dicoba di rumah, konselor dapat melakukan kunjungan untuk mengamati kemajuan yang dicapai. Permasalahan dan pertanyaan yang dihadapi orang tua dapat ditanyakan pada saat ini. Jika masih diperlukan penjelasan lebih lanjut, terapis dapat memberikan contoh lanjutan di rumah dan observasi orang tua, selanjutnya orang tua mencoba sampai mereka merasa dapat menangani kesulitannya mengatasi persoalan sehubungan dengan masalah anaknya.

D.Peran Konselor Peran konselor dalam membantu klien dalam konseling keluarga dan perkawinan dikemukakan oleh Satir (Cottone, 1992) di antaranya sebagai berikut.
1.Konselor berperan sebagai “facilitative a comfortable”, membantu klien melihat secara jelas dan objektif dirinya dan tindakan-tindakannya sendiri.
2.Konselor menggunakan perlakuan atau treatment melalui setting peran interaksi.
3.Berusaha menghilangkan pembelaan diri dan keluarga.
4.Membelajarkan klien untuk berbuat secara dewasa dan untuk bertanggung jawab dan malakukan self-control.
5.Konselor menjadi penengah dari pertentangan atau kesenjangan komunikasi dan menginterpretasi pesan-pesan yang disampaikan klien atau anggota keluarga.
6.Konselor menolak perbuatan penilaian dan pembantu menjadi congruence dalam respon-respon anggota keluarga.

Daftar Pustaka Latipun. 2001. Psikologi Konseling. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang Sayekti Pujosuwarno. 1994. Bimbingan Dan Konseling Keluarga. Menara Mas Offset. Yogyakarta